Ketika manusia bertanya-tanya tentang sesuatu di luar dirinya, yang didentikkan dengan Yang Kuasa dengan segala bentuk label yang disematkan pada Sang Penguasa. Sejak itu, manusia mulai berwacana di alam pikirnya tentang SIAPA itu TUHAN?.
Buku ini mencoba menelisik nuana pikiran manusia dalam mengcreate, mewujudkan tuhan sesuai ide, kondep dan gagasan dalam nalar aktifnya. Gagasan besar buku ini, adalah bagaimana konsepsi tuhan yang dibangun manusia, dan bagaimana kelak nasib tuhan-tuhan ini kelak di akhir masa, ketika tidak ada lagi kuasa yang bisa bertahan selalui kuasa Tuhan yan Haq.
Intisari Buku
"Kemudian dikatakan kepada mereka: "manakah tuhan-tuhan yang selalu kamu jadikan persekutuan Allah, (yang kamu sembah) selain Allah?", dan mereka menjawab: "Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu merasa tiada pernah merasa menyembah sesuatu...". [Qs. Ghofir : 73-74]
Pengantar Penulis
Kata "Tuhan" akan selalu terngiang di setiap telinga anak manusia, apapun bentuk dan namanya. Sebab manusia -suatu saat- akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ada keanehan dalam hidup ini yang berada di luar jangkauan indera dan alam pikiran, serasa ada misteri terselubung dibalik yang maujud ini, seakan ada sesuatu –tak nampak- yang mengatur, menyusun dan menata semua materi dalam hidup ini, yang mewujudkan dan menyeleksi sirkulasi alami alam ini; yang membuat manusia semakin tergoda untuk selalu mencari-cari, mengerti dan menelusuri ke arah inti yang maujud. Naluri alamiah inilah yang akan mengatakan itu semua...
Dan perlu dicamkan bahwa tuhan itu pasti ada, apapun konsepnya. Bahkan –konon- melalui mulut Sokrates, Plato pernah menyimpulkan sesuatu yang penting dari dialog filosofis antara Sokrates dan Meno tatkala keduanya mencoba mengupas tentang kebaikan, keutamaan di dalam alam pengetahuan manusia, simpulan itu berupa pengakuan mutlak atas wujud tuhan, terlepas apakah konsep Tuhan yang maksud dalam konsep Plato mengarah pada Tuhan yang Haq, tuhan ilusi dan halusinasi, tuhan yang menjadi prakarsa akal murni atau lainnya, namun yang jelas ia meyakini tuhan itu ada (eksis), katanya: "the conclusion is that virtue comes to the virtuous by the gift of God. But we shall never know the certain truth until, before asking how virtue is given, we enquire into the actual nature of virtue; Kesimpulannya, bahwa kebaikan (keutamaan, fadhilah) adalah karunia (pemberian) tuhan, tapi kita tidak akan pernah tahu secara pasti, sebelum mempertanyakan bagaimana kebaikan itu diberikan, kita harus menyelidiki sifat nyata dan aktual kebaikan itu sendiri).
Dalam upaya pencarian itulah manusia dihadapkan pada sebuah tragedi yang penuh misteri, dipaksa untuk menentukan pilihan ke arah mana jalur selamat yang harus dilintasi, dan ternyata manusia acapkali 'jatuh bangun', ‘trial and error’ bahkan tersandung di jalan pikiran yang bersimpangan dan rute yang tak terhitung jumlahnya. Pada akhirnya, dia hanya bisa menerka, tanpa bisa mempercayai apalagi meyakini secara pasti, berusaha keras melacak jejak melalui jalan-jalan bercabang dan berkelok yang tak tentu arahnya.
Tidak sedikit orang meyakini bahwa dirinya bertuhan, dan tidak sedikit pula yang tidak menyadari bahwa dirinya bertuhan. Namun kasus yang terjadi malah sebaliknya, ia terjerumus dalam ke-tidaktuhan-an (atheis), dan fakta menyatakan kalau ia tidak tahu tuhan yang bergelut di alam piker bahkan cenderung memilih untuk tidak bertuhan; sebuah pengakuan yang acapkali tak terbukti, dimanapun, kapanpun, dan dalam hal apapun. Itulah manusia... namun uniknya, dia meyakini itu sebagai kebenaran.
❅❅❅
Tulisan ini hanya membahas 'kesan mental', 'sikap jiwa' yang diakibatkan oleh kelemahan dan ketidaktahuan tentang Tuhan yang Haq, sampai harus menyatakan bahwa hal itu tidak masuk akal, keliru dan absurd, padahal bukan hal tersebut yang absurd tetapi dirinya sendiri yang berpikir tak masuk akal, atau menggunakan teknik logika yang keliru. Kilasan inilah yang dibahas dalam tulisan ini, terutama tema tentang:
- Mungkinkah tuhan itu, hilang?
- Mungkinkah tuhan itu, mati?
- Mungkinkah tuhan itu, mencelakai? Atau menjerumuskan?.
❅❅❅
Dalam kemungkinan itu, anda akan digiring masuk ke alam 'kesadaran murni', tuhan itu memang mungkin hilang, mati, mencelakai, atau bahkan jahat. Hanya darimana anda melihat...
Di akhir tulisan ini, anda akan dibawa pada kesadaran mutlak untuk menjawab pertanyaan: "Adakah tuhan yang tidak hilang, tidak mati dan tidak mencelakai?", yakni Tuhan yang diyakini Benar dan Haq.
Ada dan tidaknya tuhan, hanya kesadaran, kejujuran, hati suci serta jiwa bersih yang bisa menjawab secara jujur. Sikap keras hati, jiwa kasar, keangkuhan tidak akan mampu menelusuri jawaban itu, serta bukan juga akal murni yang mampu menjangkau hakikat ketuhanan, sebab akal hanya alat (tools) dan perangkat yang mengantarkan ke arah kebenaran, tapi bukan kebenaran itu sendiri.
Masalah pengakuan atas wujud tuhan adalah masalah 'kesadaran murni', sebelum memasuki kajian ketuhanan, "sadar" adalah inti dasar yang paling awal. Kalau anda tidak menyadari tuhan itu ada, maka segala upaya meresapi wujud terasa hampa dan sia-sia, apa mungkin anda mencari-cari sesuatu yang tidak ada?, jangan berlaku naif karena tidak sadar diri.
Manusia memiliki kesadaran yaqini terhadap wujud khas dan hakekat zatnya sendiri. Dan untuk memahami wujud yang lebih agung serta hakekat alami (kosmik) tak akan lepas dari kesadaran yaqini ini, karena wujud agung selalu berkaitan dengan wujud alam ini, bukankah wujud agung itulah yang menciptakan semesta..?.
Selamat membaca...
Salam kami,
Muhammad Abdullah al-Amiry
Daftar Isi
PENGANTAR
TUHAN ITU, HILANG?
- Tuhan Akal
- Tuhan Ego
TUHAN ITU, MATI?
- Tuhan Anthropomorphis
- Tuhan Apostheis
- Tuhan sudah Mati
TUHAN ITU, JAHAT?
- Tuhan Setan
TUHAN ITU, HAQ...
Tuhan Allah ta'ala
PENUTUP