Kamis, 21 November 2024

Tuhan Akal yang Absurd

Akal adalah karunia terindah pada diri setiap insan, tanpanya mungkin orang itu tidak bisa dibilang utuh sebagai manusia normal. Akal memang mampu aktif menggali segalanya selama masih dalam lingkar jejaknya yang terbatas, yaitu alam indera. Tapi akal bukanlah segalanya, sehingga harus diagung-agungkan, dijadikan standart penilaian seluruh kasus di alam raya, termasuk dalam mendikte nilai baik dan jahat; menceburkan diri dalam hakekat tuhan.

Disamping itu, akal hanya sekedar alat pendeteksi, fungsi penalaran, perangkat berpikir, motor penggerak (mesin) mengolah data dalam tragedi hidup. Daya tangkap dan jangkauan akal juga terbatas, tiap manusia memiliki daya yang berbeda, tergantung bakat, kesiapan dan kecenderungan yang beragam.

Akal bukan substansi dari suatu kebenaran, atau bukan kebenaran itu sendiri. Artinya jika akal meniti jalur yang salah dalam upaya mencermati kejadian hidup ini, maka akal pun nyasar; jika jalur yang dilalui benar, positif pula akibatnya. Tapi ingat, baik benar maupun salah dalam kasus ini, semua itu sama-sama kerjaan akal yang –pada suatu saat- akan terbukti kebenarannya, benar hari ini bukan berarti benar keesokan harinya; jadi akal memiliki 2 sisi, benar dan salah, yang serba mungkin.

Diantara ciri orang yang mengkultuskan akal:

  1. Tidak menerima sesuatu pun, kecuali yang masuk akal baginya. Ingat! Hanya menurut dia, karena akal terlalu subyektif (personal) untuk diajak bergabung dengan pikiran lain.
  2. Tidak percaya apa yang tidak terlihat olehnya. Dalam berbagai kasus, sikap ini sangat merugikan, sebab ia tidak berpikir bahwa tidak mungkin dia bisa melihat semua kejadian dalam hidup ini. Orang seperti ini tidak akan percaya kalau putranya telah memukul babak belur anak tetangganya, gara-gara dia tidak melihat sendiri kejadian itu, walaupun jelas anak itu babak belur dan disaksikan tetangga lain. Dan dia akan bersikukuh bahwa dirinya benar...
  3. Biasanya orang ini berwatak keras, baik keras kepala maupun keras hati.
  4. Pola hidupnya matematis, jika benar berarti benar baginya, jika salah maka akan salah baginya, dan hanya menurut dia, bukan menurut publik (masyarakat umum).

Akal adalah alat pengoperasian, mesin pengolah data atau perangkat lunak dalam otak manusia. Jika seseorang menuhankan akal ini, maka disadari ataupun tidak, gaya hidup dan pola pikirnya bagaikan alat atau mesin. Dengan kata lain, dia seperti barang, tidak memiliki jiwa, apalagi kesadaran.

"... manusia, adalah makhluk yang cenderung berbuat jahat, ketika orang berbuat itu, dan ia dikuasai oleh perilaku manusia robotik (alat, akal), maka yang terjadi adalah hamba menjadi tuan dan tuan dijadikan hamba; artinya jika manusia alat menguasi alam pikir dan perilakunya, maka sang budak mengaku diri sebagai tuhan, dan Tuhan yang Hak malah dijadikan budak bagi kemauannya; artinya ajaran Tuhan yang Hak dijadikan permainan, dan yang tidak sesuai dengan akalnya dibuang, hanya alasan tidak masuk akal... atau dia memutar balik ajaran tuhan yang Hak itu, dengan alasan tidak susuai dengan akalnya."

Manusia ingin menggunakan akal, alat pikir dalam otaknya, untuk membahagiakan diri. Dan ia mengira, bahwa dirinya mampu melakukan itu tanpa bantuan dan petunjuk Tuhan yang Hak. Lalu ia diperalat oleh akal dirinya dan menjadi budak, baik budak nafsu, budak harta, budak jabatan, budak wanita dan lainnya.

Akal manusia seringkali mengklaim, hanya karena sesuatu itu tak terlihat oleh inderanya, lalu ia yakini bahwa sesuatu itu tidak ada, padahal dia sendiri masih belum tahu warna kentutnya sendiri seperti apa, tapi memiliki pengaruh yang sangat hebat, orang bisa bertikai dan baku jotos gara-gara kentut yang tak terlihat itu.

Sebuah anekdot lucu, mengkisahkan tentang perbincangan antara murid dan guru SD kelas 6, dalam ruang sekolah disaat guru sedang memberikan pelajaran tentang ketuhanan. Sang guru memulai ceramahnya:

Guru : "Apakah anak-anak melihat guru kalian ini?"
Siswa : "Ya"
Guru : "Berarti guru kalian ada. Apakah kalian melihat papan tulis ini?"
Siswa : "Ya"
Guru : "Berarti papan tulis ini ada. Apakah kalian melihat meja tulis ini, anak-anak?"
Siswa : "Ya, pak guru"
Guru : "Berarti papan tulis ini ada. Apakah kalian melihat Allah, anak-anak?"
Siswa : "Tidak pak guru"
Guru : "Nah, berarti Allah itu tidak ada."
Lalu salah seorang siswa yang lugu tapi cerdas berdiri seraya bertanya kepada teman-temannya, "Apakah kalian melihat akalnya pak guru, teman-teman?"
Siswa : "Tidak"
Si Siswa cerdas tadi pun berkata: "Nah, kalau begitu, akal pak guru kita ini tidak ada; jadi pak guru tidak berakal (tidak punya otak)."

✽✽✽

Orang-orang kuno, baik pemikir, filosof, ilmuwan, sejarawan, apapun namanya, telah memperdaya diri dan juga orang lain dengan meyakini bahwa akal manusia adalah cermin hakekat (kebenaran mutlak)... dan ketika seseorang menyuguhkan hal dan info terbaru yang bertentangan dengan hasil pikir mereka sebelumnya, dalam sekejap mereka terhenyak dan mengklaim bahwa orang tersebut bodoh, sombong, dungu atau apalah.

Mereka yakin bahwa teori, pendapat yang disusun akal merupakan sesuatu yang tidak bisa dibantah; kekal, pasti dan dijamin tidak akan pernah salah. Kebenaran mutlak yang tidak mungkin diragukan, dengan alasan telah ditemukan oleh akal beberapa tahun silam, yang dipercaya atau telah dianut dalam beberapa generasi, bahkan sudah dipatenkan dalam hukum alam.

Realita kini menyatakan, kebenaran mutlak logika telah kehilangan nilainya sebagai suatu kebenaran. Benar menurutmu belum tentu benar dalam pandangan orang lain, yang kemarin indah mungkin esok menjadi tidak indah, dan hal itu wajar. Selama manusia hidup di alam indera yang dinamis selalu berubah dan bergerak. Semua itu bergulat dalam akalmu, tapi kamu seringkali lupa, seakan semua itu tidak pernah terjadi.

Orang dulu juga mengatakan, sifat fanatik adalah sesuatu yang aksidental, tidak melekat pada akal manusia, dimana mereka meyakini pasti, akal –menurut wataknya- cenderung ke arah sikap netral dalam berteori, dan jujur dalam mengeluarkan hukum-hukum. Seorang rasionalis murni merasa jauh dari sikap-sikap fanatis, ekstrim, konservatif ataupun kolot. Dan apabila berhadapan dengan orang yang bersikap fanatik seperti ini, lalu memberikan beberapa teori yang berlawanan, -serta merta- mereka akan tersulut emosinya dan cenderung mencela orang lain sebagai orang yang ketinggalan zaman, ndeso atau dianggap orang yang belum tercerahkan oleh ilmu pengetahuan, tapi apa bedanya, keduanya sama-sama fanatik; jarang mereka sadari itu. Itulah, pola pikir bentukan akal manusia.

Padahal riset terbaru menunjukkan, sifat fanatik adalah sifat dasar yang melekat pada akal manusia.

Akal berfikir, bersandar pada sebagian standart data yang berkembang sebelumnya (terdahulu). Sangat sulit bagi akal memikirkan sesuatu yang tidak diketahui atau dikenal sebelumnya.

Sebab itulah, akal manusia tidak mampu mengetahui hakekat alam semesta yang luas (makro-kosmos). Pikiran dan penalaran akal terkotak pada batas-batas yang dikenal olehnya dalam alam pikir yang sempit itu. Sulit sekali, hampir tidak mungkin akal memahami alam lain yang tersusun dari konsep-konsep transendental yang berbeda jauh dengan konsep kita sekarang.

Kita tidak mungkin memahami –secara pasti- Dzat Allah, hakekat ruh, atau hal serupa lainnya, sebab diluar jangkauan konsep akal. Kalaupun teori itu ada, tak lain hanya pendekatan yang belum tentu benar, prediktif dan asumtif belaka. Semua hanya sekedar meraba-raba dalam ruang seakan seperti dalam kenyataan, padahal bukan.

✽✽✽

Sampai kapan akal ini akan terus mencari?, kehendak akal ini tidak akan berhenti sampai menemukan jawaban yang menurutnya benar, bahkan kebenaran itu bisa ditindas sendiri jika ada kebenaran baru yang masih menurut akalnya benar, begitu seterusnya.

Setiap kepala manusia terdapat akal, antar mereka berbeda kadar kemampuan dan kemauan dalam menalar sesuatu, hanya disatukan dengan satu sifat saja, yaitu subjektif yanag fanatis (ego diri yang tidak mau disalahhkan).

Tatkala akal bersentukan dengan dunia luar, mulailah ia bekerja untuk berpikir dan berpikir; hal itu telah menjadi prinsipnya. Jelas, akal tidak begitu saja berpikir, tapi dirangsang oleh indera, mata, telinga dan lainnya. Dan dimotivasi oleh "rasa ingin tahu" yang mendalam (radiks), rasa ini yang selalu menjalar dan bergentayangan di ruang otak manusia. Pernahkan kamu memikirkan sesuatu yang tiba-tiba kamu berusaha menciptakan konsep, sketsa, bentuk, formasi dalam ruang otak, yang bersifat potensif (bil quwah), lalu kamu melahirkan bentu-bentuk itu dalam wujud nyata (bil fi'il). Fenomena alam juga ikut andil dalam merangsang akal pikir untuk beraction (bekerja).

Bagaimana akal berproses dalam upaya memaknai salah satu fenomena hidup, lalu ia memberi keputusan, walau keputusan itu dilanggar kembali karena unsur ketidaklayakan pada inti yang dibahas, pada puncaknya ia harus pasrah, mengakui kelemahan diri, mencoba untuk mengerti kenapa semua ini terjadi... dan yang bisa dilakukan hanya menanti petunjuk yang mampu menyinari jalan hidup dan pikirnya.

Begitu indah Quran memberi ilustrasi tentang jelajah akal dalam proses pencarian dan penalaran tentang tuhan yang berujung pada pengakuan mutlak pada kekuasaan yang Maha Agung. Tertera dalam Quran Surat AL-An'am ayat 74 - 78, yang berbunyi:

﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ «٧٤»﴾

"Dan (ingatlah) di kala Ibrahim berkata kepada ayahnya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala da patung sebagai tuhan? Sungguh aku telah melihat dirimu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

﴿ وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ«٧٥»﴾

"Dan seperti itulah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, agar dia menjadi orang yang yakin (terhadap wujud Allah).

﴿ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ«٧٦»﴾

"Ketika malam telah gelap, Ibrahim melihat sebuah bintang di langit, (terbersit dalam otaknya): "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu sirna (cahanya meredup lalu hilang). Dia pun (memutuskan sesuatu berdasarkan kejadian alam tersebut) ia berkata: "Saya tidak suka kepada sesuatu yang sirna (hilang)."

﴿ فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ«٧٧»﴾

"Kemudian tatkala dia melihat bulan, dia berpikir: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berketetapan: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku ini menjadi orang yang sesat."

﴿ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ«٧٨»﴾

"Tatkala ia melihat matahari terbit (dari ufuk timur), dia berpikiran: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar (dari bintang dan rembulan)". Maka tatkala matahari itu pun terbenam, Dia berkata (dengan penuh keyakinan): "Hai kaumku, Sesungguhnya aku melepaskan diri dari (sikap kalian) yang menyekutuhan Allah."

Kira-kira begitu terjemahan bebasnya, wallahu a'lam. Ayat ini hanya sample dari sekian banyak kejadian hidup, serta penanganan akal dalam mencari solusi bagi dirinya. Namun, toh akhirnya, ia harus mengaku diri tidak punya kuasa mutlak untuk melandasi aktifitasnya... dan tidak berdaya.

Apapun yang ditangkap indera, akan dikelola oleh akal manusia yang berada dalam ruang gerak alam fisik, benda atau nature. Tapi... bagaimana jika sesuatu itu tidak bisa ditangkap dan dicerna akal? Berhentikan akal ini mengoprek-oprek, melacak dan menggali alam dibalik alam indera, yang biasa disebut meta-fisik, supra-nature, ma ba'da/wara'a thabi'ah. Jawaban kongkret dan pasti, bahwa akal tak akan berhenti. Akal akan tergelitik dan berusaha mengungkap rahasia dan misteri dibalik alam ini, sampai ia menemukan jawabannya secara tuntas.

Jikalau orang mengatakan bahwa ada orang yang tidak memikirkan semua itu, termasuk ide tentang tuhan, berarti orang itu harus memikirkan ulang wujudnya sendiri. Baik kini atau nanti, manusia akan dihadapkan pada satu masalah yang sama, yaitu kelemahan diri, keterputusasan hidup, kekecewaan, dan akan mencoba lari dan mencari siapa yang bisa menolong dan membantu menyelesaikan gejolah hati yang dilanda duka. Dan kepada siapapun dia menyakini, pasti ia cenderung diagungkan melebihi segalanya, maka secara tak sadar ia telah memasuki dunia pengkultusan...

Sejarah mencatat, akal manusia selalu mencoba merumuskan tuhan-tuhan sesuai ruang gerak akalnya. Penciptaan tuhan oleh akal dilandasi ide kekuatan atau kuasa lain yang lebih besar, lebih agung, lebih hebat dari dirinya. Mulailah proses ini terus berlanjut hingga muncul banyak tuhan (politheisme) dalam sejarah.

Jelasnya, yang pertama kali dipantau akal adalah indera, nature, karena kedua ini berada disekelilingnya, dialami dan dirasakan.

Maka lahirlah Amaterasu di Jepang, Quetzalqoatle di Mexico dan Peru, Apollo dan Dionysus di Yunani, Hercules di Romawi, Mithra di Iran (Persia), Adonis dan Atis di Syiria dan Phrygia (Anadol), Oziris, Isis dan Horus di Mesir, Thor di Norwegia, Baal Samus dan Astarte di Babilonia dan Karthago, dan lainnya yang menjadi simbol dan perwujudan tuhan api, tuhan matahari, tuhan petir, dan sebagainya; walaupun masih banyak pertanyaan yang harus dijawab seputar benar tidaknya wujud tuhan-tuhan itu. Itulah ketidakpastian konsep tuhan di mata akal manusia...

✽✽✽

Aneka tuhan bentukan akal merupakan hasil ilustrasi akal manusia mengaca, membaca dan mengacu pada alam sekitar. Karena tuhan-tuhan itu baginya bersifat natural, artinya tuhan alam, seperti matahari, petir dan sebagainya, maka secara pasti wujud tuhan itu akan tunduk pada hukum alam, bisa berubah, berganti, hilang dan musnah.

Lalu, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan manusia pada tuhan itu?, tiada lain adalah kekuasaan, kekuatan, kehebatan, selalu menuruti kemauan pemujanya, yakni manusia. Bagaimana jika tuhan matahari itu hilang dari ufuk timur –sebagai bagian dari proses kosmik pada hukum alam-, kala itu percayakah akal bahwa matahari itu tuhan setelah ia tiada?, tidak, dan mungkin akal penganutnya akan mencari-cari cara bagaimana memanggil tuhan jika ia hilang atau tiada, lagi-lagi akal yang selalu mencari solusi dengan menciptakan ritual pemanggilan tuhan matahari, seperti tumbal anak gadis yang dikorbankan, dan lagi akal akan mencipta manifestasi (perwujudan) tuhan dalam bentuk simbol matahari, sebut saja dewa matahari dalam tradisi India.

Di daerah kutub, mungkin tuhan api yang diyakini mampu menjaga tubuh dari rasa dingin yang menyengat, mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan sebagainya. Tapi, bagaimana jika tuhan api itu hilang?, mereka akan berusaha melakukan sesuatu untuk merayu agar tuhan itu hidup kembali, dengan cara menciptakan ritualitas dan upacara adat kreasi akal mereka sendiri, yang diciptakan oleh nenek moyang mereka, lalu dipertahankan, dikembangkan, dilestarikan serta kisi-kisinya diajarkan secara turun temurun.

Di wilayah pegunungan dan berbukit, dimana hujan menjadi kekuatan terbesar yang diyakini bisa menghidupkan hasil cocok tanam dan keperluan hidup sehari-hari. Sampai mereka berkreasi menyusun upaca pemujaan terhadap tuhan hujan, agar tidak ngambek. Juga demi menjauhi tuhan petir (Thor), agar tidak mencelakai diri dan kehidupan mereka.

Dan tuhan-tuhan itu tidak selamanya ada, suatu ketika akan hilang, karena unsur ke-alam-an ilahi pada tuhan mereka yang membuat tunduk pada aturan hukum alam, ada musim paceklik, musim penghujan, dan sebagainya, yang datang dan pergi silih berganti, ada dan tiada dalam waktu yang bersamaan.

Itulah, latarbelakang mengapa muncul totem , legenda, mitos yang kadang menjadi kisah mistik yang menarik dan mengagumkan, sekaligus menjadi kisah yang ngeri dan menakutkan. Karena:

  1. Akal berusaha untuk berimajinasi di alam terbatas, mengkail sesuatu yang tidak dikenal sama sekali, hanya bisa menduga, mengira, dan menyangka belaka. Lalu berteori berdasarkan praduga
  2. Akal ingin memasuki ruang besar tak terbatas, dengan modal keterbatasan, ketidakmampuan, dan ketidaklayakan akal sebagai sumber yang diyakini 'pasti benar'.

Akhirnya, ketika akal tidak menemui sesuatu yang dicari, maka akal dengan egoisnya mengakatan, "Tuhan itu Hilang", seakan tuhan pergi entah kemana hingga wujud tuhan menjadi pasang surut.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait