Manusia itu dicipta berwatak "emosional", "labil", tidak berpendirian, mudah goyah, tidak berprinsip tetap, tidak konsisten, selfish dan cenderung ambiguitas. Dan unsur yang mendasari lahirnya sifat-sifat tersebut adalah ego.
--✼✼✼--
Pernahkah anda melihat manusia menuhankan egonya , demi kepuasan dan kemenangan sesaat..?, penyakit ego bisa terjangkit pada siapa saja, orang kaya dan juga orang miskin dan meresap dalm sel-sel tubuh manusia. Berikut penjelasannya...
Orang kaya berpikir, ia berkuasa atas harta dan melupakan segalanya, termasuk tuhan. Orang ini kadangkala tidak percaya pada tuhan, sebab dalam keyakinannya tanpa tuhan pun ia bisa makan, minum dan memenuhi segala kebutuhan hidup. Mungkin jika ditanya, "Percayakah anda pada tuhan dan sudahkah menunaikan kewajiban sebagai orang kaya!?, barangkali dengan senyum sinis ia menjawab, "aku kaya seperti ini karena aku berjuang, membanting tulang, menguras keringat siang malam, tidak mengenal lelah; dan wajar jika aku memiliki kekayaan ini semua, adakah selain itu?!. Ego telah menutup mata hatinya untuk mengakui bahwa sekeras apapun ia berjuang, sebanyak apapun ia menikmati dunia, ia tetap tidak bisa menikmati secara sempurna (utuh), sehebat-hebat manusia mencari, pasti ada sesuatu yang dirasa kurang. Artinya, suatu saat ia akan berhadapan dengan rasa sakit –baik fisik maupun mental-, jenuh, sumpek, merasa tidak bahagia sepenuhnya, karena otaknya tidak pernah istirahat memikirkan benda.
Orang ini tidak pernah merasakan nikmatnya keikhlasan, ketulusan, tanpa pamrih, dan kelembutan hati, bahkan kebenaran itu sendiri. Anda tahu, dan pernahkah memikirkan kehidupan orang kaya yang egois?!, tidak ada teman, tidak ada kepercayaan dari orang lain, dan kalau pun ada semua itu hanya didasari kepentingan saja, mungkin uang, niat mengambil hati dan semua itu cepat sirna, jika apa yang dicari sudah dimiliki, maka teman hanya sekedar nama, tidak sepenuh hati teman itu menjadi teman, bahkan sebaliknya bisa menjadi lawan; sedangkan lawan hanya tinggal mengincar kapan orang ini terjatuh. Orang mendoakan kapan orang kaya egois itu cepat mati, jika benar terjadi, orang akan bersorak, "Selamat tinggal orang kaya egois yang gila harta...".
Kehidupan orang kaya egois akan dipenuhi kebohongan, terkam sana-sini, incar sana-sini, kenistaan, serta tidak peduli dan tidak dipedulikan, semua hambar, kelak dia akan merasa pilu sendiri setelah semua terungkap dan ia tersadar, tapi semua hanya tinggal kenangan.
Jangan anda mau diperbudak harta, tahu apa artinya! Jika memiliki kemauan harus dituruti tanpa dipikirkan baik buruknya, positif negatifnya. Pernah melihat orang kaya beli pakaian, ketika melihat dia tertarik dan langsung dibeli, sampai di rumah pakaian itu tidak cocok dan langsung buang. Sebaiknya, belilah sesuatu yang memiliki nilai spesial di hati, kenangan, cinta, sehingga hanya dengan melihat benda itu saja, hati sudah terasa senang dan bahagia, apalagi memakainya.
Ya, itulah manusia, jika diberi sedikit kekayaan, harta dan dunia, ia cenderung kikir, pelit, individualistis, dan mementingkan diri sendiri (selfish). Dengan kata lain, jika manusia dapat kebaikan maka ia menolak ulur tangan orang lain, mencegah diri berderma, seakan tangan itu terikat dari kepentingan orang lain.
--✼✼✼--
Orang miskin pun bisa juga egois lho..!.
Pernah mendegar kata-kata, "tuhan benar-benar tidak adil", "kemana tuhan disaat aku butuh", "kenapa rizkiku macet padahal kurang apa aku beribadah, shalat telah kujalankan tapi masih saja tidak ada perubahan", dan hal serupa yang berarti sama, lahir dari sikap putus asa, lemah hati dan mental kepada si miskin yang didera duka berkepanjangan namun tak kunjung putus tali penderitaan.
Si miskin yang bertahun-tahun hidup sengsara, bekerja tiap hari, berangkat pagi pulang petang, berharap rizki untuk anak istri, berpanas ria menahan dahaga, berhujan-hujan, seakan semua kesusahan itu tidak dirasa, hanya untuk sesuap nasi. Tidak cukup dengan kebutuhan yang serba kekurangan, terseok-seok dalam meniti hidup, lalu ditambah anak yang sakit-sakitan dan butuh berobat ke rumah sakit, sekali lagi ia terbebani, terhimpis oleh jerit tangis anaknya yang masih kecil, yang sedang menahan rasa sakit, tangisan pilu sang anak membuat orang tua meneteskan air mata. Tidak hanya itu, ternyata cobaan hidup tidak meredah, tiba-tiba rumah satu-satunya yang hanya terbuat dari anyaman bambu, berdinding tumpukan karton itu –tidak disangka- diterjang banjir... anda tahu apa yang akan terlintar dalam benak si miskin ini?. Mungkin, ia akan menggerutu, kenapa tuhan begitu tidak adil, tidak puaskah Dia membuatnya menderita seperti ini, sehingga harus meluluh lantakkan apa yang kami punya?.
Kesabaran itu indah tapi tidak mudah, dan sekali kesabaran orang itu habis, maka bencana akibatnya, segala aturan diterjang, kebaikan diinjak-injak, termasuk tuhan akan disalahkan, atau dikatai yang jelek-jelek. Darimana itu berawal? Dari ego, ego yang telah membutakan hatinya, dan ego pula yang menyulut emosinya.
Emosi menghilangkan segalanya, sirna nikmatnya rasa sabar, musnah indahnya keuletan kerja, dan mengkikis habis harapan manusia, jadilah ia putus asa, lesu tak berdaya.
Itulah gambaran manusia yang jika terkena musibah, derita dan duka, ia putus asa, cepat emosi, dan suka meluapkan amarah secara membabi buta, tanpa melihat latar belakang atau alasan mengapa semua itu terjadi!.
Sebenarnya, emosi itu lahir dari rasa takut, gelisah dan bingung kepada siapa harus mengadu; kepada Tuhan?, dan dalam pikirnya Tuhan itu sudah tidak perhatian, tidak memihaknya...
Mungkinkah rasa takut dan gelisah itu hilang dari diri kita, terutama si miskin papa yang dilanda musibah?.
"Segala sesuatu mungkin berubah dalam diri manusia, pendurhaka bisa insaf dan bertobat dari sifat durhaka, pendosa bisa juga diampuni dosa-dosanya... orang lari bisa kembali, penakut bisa menghilangkan rasa ketakutan dan orang gelisah bisa berubah menjadi orang yang tenang dan tentram."
Bagaimana semua itu bisa terjadi!
"Percaya penuh kepada Allah, apabila seorang hamba menggantungkan diri kepada-Nya, memasrahkan segara urusan dunia, maka ia akan diberkahi, diberi rizki dengan cara yang tidak ia sadari, berupa ketentraman jiwa dan ketenangan batin (hati). Tuhan maha tahu dan mengawasi gerak-gerik hamba-Nya, dan jangan putus asa dari rahmat-Nya".
Namun, kadang orang yang takut itu tidak mampu bertahan, serta tidak kuat memikul derita lebih lama, karena masalah yang datang bertubi-tubi, saling susul menyusul.
"Jiwa manusia dilebur dan akan meleleh melalui gemblengan atau percobaan (eksperiment); lalu jiwa akan dipertajam oleh banyaknya masalah yang datang bertubi-tubi, latihan mencari solusi dalam memecahkan masalah. Lahirlah pengalaman (empiric) yang akan memperteguh jiwa, dan memformat jiwa untuk mampu dan siap menghadapi kesulitan...".
Dan orang miskin yang terlalu hanyut dalam kekecewaan dan derita telah kehilangan kendali, tidak percaya lagi kepada Tuhan yang Hak, dan malah dibutakan egonya. Lebih parah lagi, jika ia mencaci, menyalahkan, mengkambing-hitamkan Tuhan yang Hak sebagai tuhan yang tidak bertanggung jawab. Itulah yang dikhawatirkan, "...dan anda ngomongin, ngatain Allah, dengan apa yang anda tidak tahu sama sekali."
Baik kaya dan miskin yang dikuasi rasa egois, memiliki kesamaan pada 'hati yang buta dan dibutakan', hanya bedanya orang kaya dibutakan hingga melupakan tuhan, dan orang miskin cenderung menyalahkan atau men-tidakadil-kan sikap tuhan. Dan puncak persamaan keduanya, adalah menjadikan ego sebagai tuhan, disadari atau tidak.
--✼✼✼--
Al-kisah, salah seorang atheis di London memberikan ceramah di hadapan orang banyak, ia –dalam ceramahnya- ingin memastikan bahwa Tuhan, Sang Pencipta itu tidak ada. Dan setelah usai ceramahnya selama berjam-jam, ia berkata: "sekarang, saya akan memberikan bukti nyata, bahwa Allah itu memang tidak ada, lalu ia mengangkat salah satu tangannya ke atas dan mengatakan bahwa ia akan memberikan peringatan terakhir (ultimatum) kepada Allah agar memotong tangan yang terangkat ke atas itu, ia memberi selang waktu selama 5 menit . Ternyata benar, 5 menit telah usai dan tangganya masih utuh, tak tepotong, dan itu menunjukkan bahwa Allah tidak ada, katanya.
Orang-orang yang hadir terdiam seribu bahasa, berharap cemas menanti sang Tuhan memotong tangan si atheis itu, agar mereka merasa lega dan keyakinan yang dipercaya selama ini tidak ternoda. Tapi, sayang sekali, ternyata tangan orang itu utuh, tak tergores sedikit pun hingga usai masa berlaku ultimatum tersebut. Dan si atheis –akhirnya- menyudahi ceramahnya, seraya meninggalkan ruangan dengan tersenyum puas, penuh kemenangan.
Dr. Ali al-Waradi mengomentari kasus diatas dalam sebuah pernyatannya: "dalil yang dilontarkan itu nampak kuat bagi si atheis serta orang sepaham lainya. Tapi, dalam konsep riset modern, semua itu adalah nonsense, omong kosong, tidak bermutu. Kita temukan ia memastikan (mewajibkan) nilai dan norma yang berlaku dalam alam sosial sekitar kita ke dalam alam lain, alam yang tidak tunduk, tidak mengikuti aturan nilai dan norma sosial tersebut. Mungkin, ia melihat orang marah, atau membalas dendam jika ada orang mendatanginya dengan menantang dan memberi ancaman (peringatan terakhir, ultimatum) padanya; dan si atheis ini mengira Tuhan seperti itu membela diri, atau tersulut emosi-Nya dengan perasaan ini dalam setiap perbuatan-Nya, seperti layaknya manusia. Perilaku si atheis ini, bagaikan kupu-kupu kecil yang hinggap di atas punggung gajah, tatkala ingin terbang, si kupu-kupu ngomong ke gajah: "hai gajah! Hati-hati ya... aku mau terbang nih." Si kupu-kupu mengira kalau gajah akan kehilangan keseimbangannya jika tiba-tiba ia terbang. itu pikiran yang konyol... muncul dari sifat sombong dan congkak yang disulut dari ego, ego diri paling benar.
Dengan kata lain, menghukumi sesutau tidak pada tempatnya; 2 hal yang berbeda, beda alam dan ruang tapi dinyatakan keduanya sama dan satu padahal 2 hal yang bertentangan tidak akan pernah dapat disatukan, seperti baik dan buruk, hitam dan putih tidak bisa dilebuar menjadi satu esensi, juga tuhan dan manusia.
Kisah lain dari negeri seberang, tepatnya di Mesir, di sebuah apartemen di tepi jalan raya, yang dikenal dengan sebutan "Prince". Nampak 2 orang pelajar berdialong, berbicara panjang lebar tentang takdir, kaitan manusia dan tuhan, mengajarkan sesuatu seakan-akan ia menguasai lebih banyak dari lawan bicaranya, yang intinya: "Manusia memiliki kuasa penuh atas tindakannya, bahkan manusia bisa menentukan takdir/nasibnya sendiri tanpa kuasa luar", seakan tanpa tuhan pun manusia bisa menentukan segalanya. Lalu ia mencoba berbagi bukti, dan katanya: "Coba lihat, aku bisa membuktikan ucapanku, sekarang juga! Aku bisa memastikan takdirku bahwa aku mampu merokok 1 menit lagi", katanya. Tak lama setelah itu, ia benar-benar mengambil sepuntung rokok (bermerk) Cleopatra, disulutkan ke nyala api dan ia sedot dalam-dalam rokok itu, dengan penuh rasa bangga, trus katanya: "Nah, bukankan aku bisa melakukan kehendakku, membuktikan aku berkuasa penuh atas kelakuanku!". Orang yang menjadi lawan bicaranya itu terdiam, manggut-manggut dan tersenyum, ia berusaha tidak berkomentar; ia berpikir lebih baik diam daripada menuruti omongan orang yang merasa paling tahu, kadang tidak berpikir jauh.
Selang beberapa menit, datang orang yang tadi masuk bersama orang pertama (keduanya sama-sama pelajar di kota tersebut), duduk santai dan tiba-tiba ia berbicara seperti rekan sebelumnya.
Tak kuasa lawan bicara ini menahan gumpalan darah yang mengendap karena emosi, dan tak bisa lagi menutup mulut selamanya untuk memberi sedikit komentar, dan apa katanya?.
"Apa karena anda mampu menyulut rokok dalam beberapa detik saja, seperti kehendakmu dan keinginanmu, lalu anda yakini bahwa anda bisa melakukan segala takdirmu secara pasti!", orang itu hanya terdiam, entah apa yang bergulat pada otaknya. "Anda harus berterima kasih kepada Allah, karena kecongkakan dan tantanganmu kepada-Nya tidak membuat Dia marah dan langsung memotong jarimu supaya kamu tidak bisa merokok lagi, atau mencabut nyawamu hingga selain kamu tidak bisa merokok karena sudah mati, juga kamu mati dalam keadaan terkutuk.
Artikel ini berlanjut ke Bagian Dua, Klik sini