Pada bagian sebelumnya, kita sedikit memahami bagaimana tipe orang yang merasa dirinya paling tahu dan paling bisa menentukan kehendak tanpa cawe-cawe dari Tuhan hanya karena dapat menunjukkan kuasa kecil dari perbuatan yang tak seberapa. Lihat pada Bagian Satu (klik sini)
Selanjutnya
Kalau boleh aku katakan, buktikan kalau kamu mampu memastikan takdirmu untuk berjalan dari kota A ke B sesuai kehendakmu. Coba katakan: "Aku bisa menentukan takdirku bahwa aku pasti sampai ke kota B selama 1 jam", dan kalau anda bisa sampai tepat waktu, persis 100%, tanpa membuang atau melebihi 1 detik pun maka aku nyatakan anda hebat luar biasa. Tapi sebelumnya, aku katakan padamu, sudah diperhitungkan jikalau tiba-tiba jalanan macet, kecelakaan beruntun terjadi dan tabrakan yang anda sendiri tidak tahu pasti apakah tragedi itu akan terjadi atau tidak.
Dan apabila anda masih bersikukuh, maka jarak tempuh antara kota A dan kota B –aku pastikan- adalah jalan neraka, karena kamu sedang mengetes Tuhan dengan menantang-Nya, sikap congkak dan sombong membuat jalan kutukan bagimu, dan aku hanya bisa berdoa, semoga kamu selamat dan tidak mati di tengah jalan, sebab jalan neraka sudah terbentang lebar sejak dari kota A, kalaupun mati, tinggal masukin aja!", lanjutnya; kira-kira begitu inti ucapan lawan bicara teman si pelajar tadi.
Orang ini, teman si pelajar itu, hanya terdiam, mungkin ia mulai paham bahwa hidup tidak selamanya persis seperti yang diharapkan, sesuai dengan kehendaknya, dan ia harus yakin bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan dan gerak gerik manusia. Seakan-akan –dalam otaknya- Allah itu mau diatur-atur oleh manusia, sikap ego yang terlewat batas. Siapa dirinya?, sampai menyuruh-nyuruh Allah yang memiliki kekuatan terbesar dari dirinya, yaitu nafas dan nyawa.
Kalau kita buka lembaran sejarah, kedua kasus di atas sudah ada sample-nya dalam Al-Quran, persis tatkala Bani Israel meminta Nabi Musa menjunjukkan Tuhannya secara dhohir, bisa disentuh, bisa dipegang, terlihat jelas oleh mata. Cermati bagaimana Allah menunjukkan hakikat Diri-Nya yang bisa dipahami dan dijangkau indera merka, namun lebih menampakkan fakta lain bahwa Tuhan Nabi Musa as itu Ada dan Nyata melalui realitas alami. Simak kisah ini dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 55, dibawah ini :
"Dan (ingatlah), ketika kalian berkata: "Hai Musa, kami tidak akan percaya (beriman) kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang (jelas secara dzohir), karena (sikap dan sifat congkak) itu kalian disambar halilintar (petir), dan kalian telah menyaksikan (dengan mata telanjang) semua itu"
Fakta lain, lebih tragis dari uraian ayat di atas, dikisahkan pada Quran Surat Nisa : 153, bagaimana mereka memahami dan menyadarinya, namun ego diri ternyata lebih menguasai hati dan pikiran mereka.
Cermati firman dibawah ini :
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.
Allah telah menjawab dan membuktikan, jika Dia itu ada, dengan sebuah tindakan, sekaligus jawaban dari permintaan mereka, yaitu amarah dan murka Tuhan, si Yahudi itu dalam seketika tersambar petir, bukti Allah itu ada. Untung sekali, kita hidup di era Muhamad, dimana kutukan dan siksa tidak langung diwujudkan seketika, semua berkat kasih-Nya kepada beliau dan umatnya. Anda bisa bayangkan, andaikata si atheis sial itu hidup di zaman Musa, mungkin tanggannya akan terpotong seketika, dan pulang dalam keadaan buntung; juga si pelajar itu mungkin akan terputus jari-jarinyanya hingga tak bisa merokok, atau lainnya.
Itulah ego akal dan akal ego, keduanya memiliki komposisi kuat untuk mengaku diri sebagai tuhan, mengaku diri paling bisa dan berkuasa. Orang seperti ini cenderung meninggalkan tuhan, seakan tuhan itu tidak ada. Padahal tahukah anda kenapa tuhan hilang dari pikiran, atau diperkirakan hilang, lebih lagi ia tidak bisa melihat tuhan dengan hatinya.
Persis seperti penggalan firman Tuhan, Quran Surat Jatsiyah ayat 23, dibaawah ini :
"Maka pernahkah anda melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya (ego) sebagai Tuhan, dan Allah membiarkan (kelakuan orang-orang itu) berdasarkan ilmu-Nya (artinya, Allah tahu semua itu, dan memanjakan mereka tanpa menarik rizki, harta, hidup dan mati, nyawa dan nafasnya sampai mereka tersadar, atau kena batunya). Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, meletakkan tutupan atas penglihatannya?
Alasan terkuat adalah Tuhan itu hilang karena tertutupi oleh egonya, ego yang membuat orang tak bisa melihat tuhan sejati.
Ia tidak jujur pada dirinya sendiri, orang boleh berbohong kepada orang lain tapi tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Artinya, orang yang mengukur diri dengan nilai ukur yang alami (nature, kewajaran), berarti ia bohong; yang mengira dirinya jenius, berarti ia bohong; yang menyangka dirinya paling cerdas daripada orang lain, berarti ia bohong.
Sungguh indah, orang yang dikaruniai penghayatan diri dan mengetahui kadar kemampuan diri.
Orang yang membohongi dirinya sendiri cenderung membenarkan kesalahannya; yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Bertambah runyam hidup jika diatur oleh orang seperti ini...
--✼✼✼--
Hidup zaman kini, melukiskan betapa ego telah menguasai dunia, ego dituhankan dan tuhan dilupakan. Apalah jadinya jika hidup kini demikian... hitungan menurun masa akhir dunia semakin jelas, pertanda dekatnya kehancuran alam semesta.
Kini anda tahu, Egoisme (sifat mementingkan diri) telah menguasai jiwa, dan altruisme (sifat mementingkan oang lain) malah hilang dari hati para hamba; konsep dan pedoman hidup bercampur aduk, menggerogoti akal manusia, barangkali baik dipandang jahat, dan jahat ditafsirkan baik; permusuhan antar bangsa, suku, individu semakin menjadi-jadi, merajalela hingga manusia sudah tidak lagi merasa aman dan takut akan keselamatan diri, harta dan kehormatannya... akhlak dan moral telah merosot drastis ke dasar lembah nista; prinsip "manfaat" dianggap sebagai nilai mata uang termahal dalam bergaul antar sesama; mengumbar nafsu, narkoba dan barang terlarang lainnya telah mencemari yang muda dan tua; manusia berjalan di jalanan hanya demi mengunggulkan akalnya (seperti, demontrasi atas nama keadilan dan kebenaran dengan mengindahkan hati rakyat, malah merusak fasilitas umum, membikin kemacetan, memporak-porandakan apapun dan siapapun yang ditemui, sebuah aksi frontal dari emosi ekstrim); kaum politikus dan negarawan saling terjang, saling terkam demi memperebutkan kursi jabatan, namun mereka melalaikan kepentingan umat, baik hak dan kewajibannya, hanya untuk mengambil hati pimpinan...
Dan kenapa sampai terjadi!.
Karena "...mereka melupakan Tuhan (Allah), Allah juga akan melupakan mereka dari kepentingan yang lebih agung, kebaikan suci yang abadi..." disibukkan dengan pelampiasan diri menuruti segala yang disuka, diingini, dipuas-puaskan hingga lupa diri, termasuk lupa kepada Tuhan.
Satu-satunya manusia yang berani menyatakan diri sebagai Tuhan, dengan bangga dan congaknya ia berkata: "Saya adalah tuhan kalian yang tertinggi (termulia)", dialah Fir'aun yang mati tenggelam ke dasar laut dan mayatnya tetap terpelihara sebagai pelajaran bagi mereka yang menuhankan ego, tidak menerima kebenaran, dan dia pun celaka.
Konon Nabi Musa as diperintahkan Allah untuk menasehati Fir'aun, tipe raja yang lalim lagi sombong, tercatat dalam firmanNya,
"Pergilah kamu kepada Fir'aun, sungguh dia telah melampaui batas (keterlaluan), dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah kamu berkeinginan untuk membersihkan diri (dari kesesatan)". Dan kamu akan kubimbing ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepadaNya?". Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar (luar biasa). Tetapi Fir´aun malah mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya menantang (Musa). Dia kumpulkan para (pembesar-pembesarnya) dan berseru memanggil kaumnya, sambil berkata: "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)." (Qs Naziat : 17-26)
Tuhan itu hilang dari akal, sebab akal tidak kuasa menjangkau kerajaan Tuhan yang Agung, namun akal terus merangsak dan hanya menemui jalan buntu kenaifan. Dan dalam kegelapan ia mengira tuhan itu tidak ada, sebaliknya ia telah mendewakan akal dan menempatkan pada posisi yang setara dengan tuhan.
Tuhan juga hilang disebabkan ego, ruang lain tertutupi, ia merasa hanya dirinya yang ada, hanya dirinya yang kuasa dan mampu berbuat apa saja. Baginya, tuhan itu egonya sendiri. Orang ini buta dan dibutakan, buta hingga terhalang dari dunia luar, dibutakan oleh nafsu dan egonya, lalu mengklaim bahwa dunia luar itu tidak ada...