Mati, berarti hilangnya inti kehidupan, yakni nyawa atau ruh pada suatu benda hidup. Mati dalam tulisan ini merujuk pada "kematian manusia". Jika inti jiwa yang menjadikan manusia bergerak, berubah dan bernafas itu sirna, berarti ia mati. Nyawa atau ruh dipastikan telah kembali kepada penciptaNya, yaitu Tuhan yang Hak.
Tapi bagaimana jika tuhan itu -dikatakan- mati atau mematikan tuhan!, lalu kemana nyawa-nyawa itu pergi?, jangan-jangan ruh itu –selepas keluar dari raga- malah kluyuran ke angkasa atau sedang jogging di jalan-jalan di atas muka bumi ini?!.
Tuhan itu mati, karena –dipikir- ia bernyawa, bernafas, ber-ruh. Dan dapat –disimpulkan- jika tuhan itu mati, berarti tuhan itu 'benda" atau "manusia" lantaran nyawa itu indentik dengan manusia (kebendaan). Apabila tuhan itu musnah, binasa, sirna dan punah, itu artinya tuhan itu benda yang berjuluk "Manusia", atau memanusiakan tuhan, atau membendakan tuhan, atau mencirikan tuhan dengan ciri-ciri mortalitas, tidak abadi dan kekal.
Apa akibatnya jika tuhan dimanusiakan dan manusia dituhankan?... hanya satu statemen yang terbersit yaitu tudak yang disalahkan, tuhan yang dilemahkan, tuhan dikambinghitamkan dan tuhan yang disirnakan, tuhan yang dimatikan".
Dan kata mereka, Tuhan dianggap telah MATI, berkaitan dengan ide tuhan manusia serta mengarah pada pemikiran kemanusiaan tuhan, menuju ke arah 3 titik, yaitu:
1. MEMANUSIAKAN TUHAN (the Anthropomorphization of God)
Antropomorphization; semakna dengan kata "at-Tajsid" (penjasadan), "at-Tasybih" (penyerupaan), atau "at-Tajsim" (pembendaan); "al-Hulul" (incarnasi) dan "at-Tanasukh" (reincarnasi, penitisan).
2. MENUHANKAN MANUSIA (the Apotheization of Human)
Apotheization; senada dengan kata "at-Ta'lih" (penuhanan), terkandung makna "al-Ittihad" (penyatuan, penunggalan) dengan segala bentuk dan manifestasinya
3. KEMATIAN TUHAN (the Death of God, Gott ist tot)
Kematian