Diketahui bahwa kitab "al-Dalail al-Aliyah" terdiri dari 2 bagian; Pertama tentang "Tasawuf dan Kaum Sufi" secara umum, sedangkan bagian lain dari kitab ini membahas tentang seluk beluk "Tarekat Naqshabandiyah" secara khusus cabang tarekat Khalidiyah di Mesir
Bagian II : Tarekat Naqshabandiyah
❅ Pendahuluan
- Pengantar
- Makna kata "Naqshaband"
- Mengapa harus menjadi seorang Naqshaband?
- Bagaimana menjadi seorang Naqshabandi yang benar dan jujur?
- Tuduhan keterputusan sanad tarekat Naqshabandiyah
- Makna Tarbiyah Uwaisiyah menurut tarekat Naqshabandiyah
- Apa dalil keabsahan Tarbiyah Uwaisiyah menurut syara', realistis?
- Alasan dzikir sanad uwaisy dan dhahiri dalam Tarekat Naqshabandiyah
- Relasi Tarekat Naqshabandiyah dengan tarekat lain
- Keistimewaan Tarekat Naqshabandiyah dengan tarekat lain
- Mengapa Syah Naqshabandi mengutamakan dzikir khofi daripada jally?
⦿ Catatan : Keutamaan dzikir khofi - Dasar-dasar dan pilar Tarekat Naqshabandiyah (dzikir khofi, rabithah, muraqabah dan shuhbah)
- Makna ungkapan Syah Naqshabandi "Kami menapak akhir level di awal suluk"
- Makna Jazbah?
- Makna "Salik Majzub dan Majzub Salik"
- Alasan yang menyebabkan perbedaan jenjang para murid dalam mencapai tujuan
- Dzikir (Pilar Pertama dalam Tarekat) dan martabatnya menurut kaum Naqshabandiyah
- Penjelasan "Lathaif" menuruk Ulama' Naqshabandiyah
⦿ Catatan: wajib konsentrasi pada dzikir tanpa teralihkan pada lathaif - Tata cara berdzikir dengan ism Dzat, Nafi wal Istbat
- Dzikir ism Dzat (Allah)
⦿ Catatan : Sepatutnya seorang Salik berdzikir secara simultan setiap hari
- Dzikir Nafi wal Istbat (Laa ilaha Illa Allah)
⦿ Catatan : Penjelasan Khawaja Muhamad Parsa tentang hakekat dzikir Nafi wal Istbat - Bagaimana seorang Salik menanjak dari lathifah ke lathifah lainnya sampai ke kuasa dzikir
- Kapan seorang Salik boleh berdzikir Nafi wal Istbat? Mengapa kaum sufi modern mengkhususkan pada dzikir izm dzat saja?
- Makna dzikir di Ruh dan terhenti di Hati
- Khatam (atau Khatam Tawajuh) dan keabsahan Tarekat Naqshabandiyah
⦿ Catatan : Dalil-dalil amalan Khatam - Apakah benar Khatam adalah Tarekat, dan Tarekat adalah Khatam itu sendiri
- Alasan kaum sufi modern melakukan Khatam secara teratur
- Jenis dan tata cara "Khatam" di kalangan Masyayikh Naqshabandiyah
❅ Catatan: Lafadz bahasa Persia dalam kegiatan Khatam
⦿ Peringatan: Seyogyanya setelah membaca khatam kembali melakukan rabitah mursyid, dan sebelum mendengar intruksi tatkala menjalankan khatam. Khatam Syah Naqshabandi tidak membaca surat al-Fatehah - Makna "Rabithah" (Pilar Kedua dari pilar-pilar Tarekat Naqshabandiyah)
- Landasan Hukum "Rabithah"
- Faedah dan manfaat "Rabithah"
- Tata cara dan jenis pelaksanaan "Rabithah"
- Tata etika "Rabithah"
- "Rabithah Barzakhiyah" menurut Tarekat Naqshabandiyah
- Muraqabah (Pilar Kedua dari pilar-pilar Tarekat Naqshabandiyah) : Dasar hukum dan tata cara muraqabah
- Bagaimana cara kita menghilangkan "waswas" dalam dzikir dan muraqabah?
- Menanjak dalam maqamat di kalangan Tarekat Naqshabandiyah, dan pertanda kebenaran orang yang wushul
- Suhbah (Pilar Ketiga dari pilar-pilar Tarekat Naqshabandiyah) : syarat dan urgensi suhbah
- Konsep "Karamat" dalam pandangan masyayih Naqshabandiyah
- Mengetahui sosok "Waliyullah" dan kebenarannya
- Konsep "Kholwat" dan pelaksanaannya dalam Tarekat Naqshabandiyah
- Tujuan suluk murid dalam Tarekat Naqshabandiyah
- Konsep "Fana" dan "Baqa'", yakni wilayah dan wushul menurut Tarekat Naqshabandiyah
- Makna "Tasharruf" dari syeikh (mursyid) terhadap murid
- Makna dan jenis pertanggungjawaban syeikh atau tanggungan syeikh terhadap muridnya
- Kasyfu Shudur
⦿ Peringatan: Seyogyanya seorang mursyid membuka segala hal yang berkaitan dengan suluk, tidak harus fokus pada seorang mursyid yang ahli kasyaf, sebagaimana wajib menjauh dari pelaksanaan ritual yang tidak khusus pada tasawuf sunni - Bolehkah seorang mursyid kamil memperbolehkan salah satu murid melakukan khatam beserta keberadannya?
- Kondisi murid yang terpaksa melakukan perjalanan jauh dari sang mursyid
- Apakah perbedaan etika islam dan etika sufi?
- Tata etika yang wajib dipelihara seorang salik Naqshabandi:
⦿ Adab kepada Allah ta'ala
⦿ Adab kepada Nabi ALlah ta'ala
⦿ Adab kepada gurunya
⦿ Adab kepada diri sendiri
⦿ Adab kepada saudara setarekat dan kaum muslim pada umumnya - Hukum dan kaidah membaiat Tarekat Naqshabandiyah kepada perempuan
- Hukum menyibukkan diri dengan wirid dan doa yang dinisbatkan kepada masyayih sanad Naqshabandiyah
- Kegiatan rutinitas seorang salik Naqshabandiyah
- Nasehat Syeikh Muhamad Najmudin qs (penulis buku ini) kepada murid Naqshabandiyah
❅ Lampiran: Silsilah Tarekat Naqshabandiyah