Senin, 26 Agustus 2024

Untuk Apa Kita Berfilsafat, Pentingkah?

Filsafat, sangat berguna bagi kehidupan. Tidak berarti filsafat menjadi kata kunci terakhir yang menjamin kenikmatan materi, tapi kepuasan intelektual dan mental. Manusia terdiri dari 2 unsur yang saling mengikat, fisik dan jiwa, keduanya membutuhkan kepuasan tersendiri, fisik perlu makan dan minum, sedangkan jiwa perlu diasah dan dididik dengan cara berpikir, menghayati nilai-nilai hidup, dan mempelajari alam semesta. Semuanya harus dipekerjakan secara positif, menjaga kesimbangan dan tidak ekstrem.

Nilai penting filsafat tidak terletak pada sikap menganut ajaran atau paham tertentu, tapi bagaimana filsafat itu bekerja. Berfilsafat, secara mental, adalah mencari makna hidup, mengejar kebahagiaan dan cinta, mensiasati diri agar selamat dari petaka, serta tidak terjerumus dalam kesialan. Konsep filsafat hanya merangsang kamu untuk berpikir cerdas, sebab kansep itu lahir dari cara pandang seorang filosof terhadap kehidupan diri dan sekitarnya, kamu tidak harus berada dalam satu atap dengan mereka, sebaliknya pelajarilah bagaimana mereka menyusun atap-atap itu hingga terbentuk rumah. Jika kamu berpikir belajar filsafat adalah menganut ajaran tertentu, maka pikiranmu itu mitasi, tidak nyata, ikut-ikutan dan tidak berguna. Kenapa!, sebab kamu tidak hidup, tidak bergerak, tidak aktif, tidak berkembang dan kamu bukan kamu tapi kamu adalah orang lain.

Filosof, hakekatnya, adalah philo-shopia (A Lover of Wisdom), pengagum kearifan, pencinta hikmah. Mereka adalah para pemburu permata yang bernilai kebaikan dan kebenaran, tapi mereka bukan kebaikan dan kebenaran itu sendiri, hingga setiap ide-ide mereka dipastikan benar. Orang salah kaprah ketika memilih ajaran filsafat sebagai keyakinan, atau doktrin yang selalu benar dan tidak bisa diganggu gugat. Jadikanlah kebaikan atau sophia sebagai keyakinan. Filsafat adalah sebuah pencarian, cara terbaik untuk belajar mengetahui segalanya, karena filsafat berbicara tentang segalanya.

Jika melirik Ibnu Sina, ia menyatakan: "Filsafat itu berusaha menciptakan teori, melahirkan sebuah pandangan yang dapat dimanfaatkan dalam menggali inti wujud. Dan yang harus dilakukan adalah apa yang sebaiknya diusahakan supaya dirinya terhormat dan sempurna. Lebih lanjut, Ibnu Haitham berpendapat: "(Filsafat) berarti mengetahui segala yang benar dan menjalankan hal-hal yang berguna, atau bermanfaat. Artinya, suatu perbuatan akan sulit diterapkan jika tidak diiringi kelembutan indera, didukung gerak daya dan spirit yang stabil.

Orang bilang filsafat itu "nonsense" (omong kosong). Alasannya, betapa banyak pencinta filsafat yang kebliger, suka bikin keributan, hampir tidak ada kebaikan sama sekali, terutama di tanah air. Hanya "isapan jempol", ide dan gagasan yang dimunculkan tidak berguna, tidak terbukti benar, apalagi baik. Orang-orang ini selalu membikin muak, jengkel siapapun yang melihatnya.

Untuk diketahui, filosof dapat dikenali melalui kategori berikut ini:

  1. Filosof Hakiki (Sejati); orang yang memiliki kemampuan mewujudkan teori filsafat, baik konsep maupun terapan, menebarkan nilai-nilai hikmah kepada seluruh umat manusia, berperangkat akal dan nurani yang sehat. Jujur dalam mencari kebenaran, bukan memunculkan keraguan atau membingungkan pikiran orang lain.
  2. Filosof Batil; orang ini belajar teori-teori filsafat tapi tidak berefek, tidak menjalankan perilaku yang baik, mulia dan indah, sebaliknya hanya mengumbar hasrat dan nafsu yang dianggap benar. Filosofisasi yang dipelajari tidak diarahkan pada bagaimana mewujudkan cita besar bagi kemanusiaan, tapi lebih menjerumus kepada bagaimana mengelabuhi orang demi menarik simpati dan sensasi dari luar.
  3. Filosof Palsu, orang yang belajar teori filsafat, tapi tidak memiliki kesiapan mental. Selalu mengambil sikap yang tidak jelas, mudah terombang-ambing. Dan pada tingkatan tertentu, orang ini suka ngotot, tidak menghargai pendapat orang lain dan selalu mempertahankan diri agar dipandang benar.

Di tanah air, tidak sedikit para pencinta filsafat tidak diimbangi mental yang kuat, niat baik dan cita-cita mulia. Kata Al-Farabi, "Keseimbangan mental dan intelektual, kesesuaian watak, pertumbuhan jiwa yang stabil serta pendidikan yang baik, merupakan dasar bagi setiap pemikiran, pengantar ke arah konsep yang benar, juga menjadi kaidah pemikiran yang kuat". Dan mereka tidak melakukan itu...

Dalam benak mereka, yang terpikir adalah sensasi, tidak keren pelajar filsafat kalau tidak pandai berdebat. Anehnya, mereka berdebat untuk perdebatan, bukan berdebat untuk mencari hasil yang baik. Kesalahan terbesar yang menjangkiti jiwa mereka, adalah menjadikan filsafat sebagai suatu keyakinan (Faith). Artinya, teori dan ide-ide yang bertebaran di alam filsafat diyakini itu benar, padahal filsafat tidak memenuhi syarat untuk diyakini secara mutlak, karena filsfat bukan ide-ide filsafat, tapi prosesi berpikir sehat.

Abdul Halem Mahmod mengajukan indikasi-indikasi yang membuktikan titik cela filsafat serta filsafat tidak memiliki kelayakan untuk diyakini kebenarannya. Diantara indikasi itu:

  1. Filsafat tidak memiliki standart tertentu secara pasti untuk membedakan baik dan buruk, benar dan salah.
  2. Filsafat adalah praduga dan asumsi semata-mata, sama sekali tidak terkandung unsur keyakinan.
  3. Pencarian dalam dunia filsafat tidak mengenal batas, perbedaan dan perdebatan pendapat akan selalu ada, sampai kapanpun. Bahkan filsafat tidak menyajikan teori yang utuh dan bisa diterima oleh semua kalangan.
  4. Filsafat tidak memiliki gagasan dan ide yang utuh, tapi beragam.

Dalam hal ini beliau salah kaprah tatkala memahami filsafat, jika filsafat diartikan sebagai paham-paham, aliran dan madzhab filsafat, maka pendapat beliau terbilang benar. Bukan hanya filosof, yang mengaku dirinya tokoh agama pun harus menyadari bahwa segala pendapat dan madzhab yang dianut tidak selamanya benar, sebab apa yang menjadi butir-butir dari ulasan mereka adalah produk murni dari kinerja akal. Walaupun, tokoh-tokoh itu menyandarkan alasan pada sesuatu yang dijamin kebenarannya, tetap saja apa yang dilakukan hanyalah berusaha menafsirkan dan menterjemahkan sesuai kehendak akal. Sikap yang bijak dan jujur adalah manusia hanya berusaha memahami kebenaran dan menjangkau titik-titik kebaikan, tapi ia tidak layak mengakui diri sebagai simbol kebenaran, atau mengklaim kebaikan diri.

Jika demikian, apa hakekat filsafat itu?, Filsafat, seperti kata Solayman Donya, adalah proses pemikiran, kinerja akal untuk mencapai sebuah kebenaran. Semua sepakat, tidak ada filosof yang mengatakan, "filsafat adalah kebenaran, kebaikan, keindahan, dan sebagainya". Lihat, Pythagoras, ia mengklaim dirinya sebagai "philo-sophia" (pencinta hikmah), bukan "sophia", sebab yang memiliki sophia adalah Tuhan. Sejak filsafat berkembang di Yunani hingga kini, kebenaran ataupun kebaikan dianggap sebagai akhir tujuan filsafat, dan semua mengakui filsafat adalah sebuah "langkah pencarian". Teori dan ajaran filsafat hanyalah sample yang lahir dari gagasan seorang filosof serta pandangan hidup mereka terhadap alam sekitar, terbatas ruang dan waktu. Tidak benar, jika teori-teori itu bersifat mutlak, dijamin benar dan tidak pernah salah.

Lalu, apa yang harus diyakini!, kebaikan dan kebenaran itu sendiri yang harus diyakini, yakni kebenaran yang jujur dan nyata yang lahir dari sentuhan alam semesta. Tuhan telah menciptakan alam disertai kelengkapan yang luar biasa, dunia nature yang menyimpan rahasia, sekaligus petunjuk cerdas bagi pencinta kebenaran. Nature adalah simbol kekuasaan terbesar yang harus dicerna, diteliti dan dimengerti. Ketika kamu membaca filsafat, secara tidak sengaja kamu meyakini adanya kebenaran dalam kandungan filsafat itu, maka tidak bijaksana jika memutuskan bahwa kebenaran itu lahir dari apa yang kamu baca atau otak si penulis, tapi karena apa yang kamu baca atau otak penulis itulah yang telah menyentuh kebenaran, sehingga bacaan itu dianggap benar. Jadi, yakini kebenaran berdasar kebenaran, jangan meyakini kebenaran berdasar teori, konsep, atau ide kebenaran seseorang.

Di tanah air, sikap meyakini secara mutlak terhadap teori filsafat telah menjamur, meninggalkan pengaruh yang kuat dan mengakar, bahkan melupakan kebaikan dan kebenaran itu sendiri. Atas alasan ini, mereka cenderung mengukur kebenaran berdasar teori, sehingga jika kebenaran tidak sesuai teori, maka kebenaran itu ditolak. Sebaliknya, inilah sikap yang benar, mengukur sebuah teori berdasar kebenaran, jika teori itu tidak menyentuh kebenaran, maka teori dianggap salah, dan tidak selayaknya diikuti oleh siswa yang berpikir sehat.

Sebenarnya, filsafat itu sangat berguna bagi pribadi dan masyarakat. Manfaat itu bisa dijelaskan seperti berikut:

1. Manfaat bagi pribadi (personal):

  1. Merangsang kesadaran diri, mendalami makna diri, yang mendorong untuk selalu berkreasi dan menghayati arti kehidupan dengan cara lebih baik, jitu dan bermutu, mengerti jati diri, batas-batas kebebasan, serta kedudukannya dalam hidup bersosial.
  2. Meningkatkan kecerdasan dan intelgensi diri dalam mencari solusi dengan jalan mempelajari cara pikir dan pandang filosof terhadap masalah hidup di zamannya. Seorang filosof tidak hanya jadi penonton, tapi tergugah untuk maju, lalu beraksi.
  3. Membebaskan akal pikir dari tekanan, menguraikan simpul yang mengikat aksi-aksi berpikir.
  4. Memiliki keyakinan yang kuat, percaya kepada keagungan Yang Maha Tinggi berlandaskan dasar-dasar rasional.

Kisah menarik yang dialami Dr. Inayatulla Masyriqi, ketika masih menjadi siswa di perantauan, ia bercerita: “Suatu hari, ketika saya belajar di Universitas Cambridge, hujan turun lebat sekali. Saya keluar dari apartemen yang kutinggali untuk sebuah keperluan, tiba-tiba saya melihat Sir James Jeans, seorang pakar astronomi, sedang pergi ke gereja sambil mengempit payung dan Injil di bawah ketiaknya. Saya dekati beliau dan kusapa, tapi tidak dijawab, lalu kusapa lagi, dan akhirnya beliau menoleh ke arahku seraya bertanya: “Kamu mau apa?”, dan saya katakan: “Saya ingin bertanya 2 hal kepada anda, pertama, mengapa anda tidak menggunakan payung itu padahal hujan turun sangat lebat?”, kataku. Sir James Jeans tersenyum dan membuka payungnya untuk melindungi diri dari derasnya air hujan. “Kedua, mengapa anda pergi ke gereja, bukankah anda tokoh terkenal di dunia astronomi itu?", kataku selanjutnya.

Beliau berhenti sejenak, sambil menatapku tajam, beliau berkata: “Kita akan membuat janji temu nanti sore untuk mendiskusikan masalah ini...”. Tepat seperti yang kita janjikan, saya menemui beliau di tempat yang telah disepakati. Segera beliau bertanya kepadaku: “Apa yang kamu tanyakan tadi pagi?”, tanpa menunggu jawaban, beliau mulai berbicara panjang lebar tentang alam semesta, hukum-hukumnya yang sangat teliti dan mencengangkan, juga berbicara tentang planet-planet di angkasa beserta tata letaknya yang sangat luar biasa, tentang peredaran planet-planet tersebut dan masih banyak lagi. Saya dengarkan dengan seksama, kusimak baik-baik kata demi kata dan ternyata beliau bercerita sambil meneteskan air mata, kedua tangannya gemetar karena menghayati keagungan Tuhan yang terpancar di alam raya.

Tiba-tiba beliau berhenti, dan berkata serius: “Ketika aku melihat kebesaran Tuhan pada ciptaan-Nya, hatiku tergetar dan terkesima oleh keagungan-Nya. Ketika sujud di hadapan Tuhan, aku berseru: “Sungguh, Engkau Maha Agung, dan aku sungguh bahagia melebihi segala bentuk kebahagiaan di dunia ini”. Lalu saya (Dr. Inayatulla) mencoba berkata: “Saya sangat tertarik oleh ucapan anda, bolehkah saya membaca salah satu ayat dari kitab suciku?”. Sir James menjawab: “Dengan senang hati, silahkan...”, lalu saya membaca ayat yang artinya: “Tidakkah kamu melihat Allah yang telah menurunkan hujan dari langit, lalu ditumbuhkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka warna, disebut pelangi dan ada juga yang hitam pekat. Di tengah manusia, juga hidup binatang melata dan hewan-hewan ternak yang beraneka macam. Sungguh, orang yang takut dan tergetar hatinya menyaksikan keagungan Allah di antara hamba-Nya, hanyalah para ilmuwan”. Aku berhenti berkata, tersentak oleh ucapan beliau menyela-nyelai perkataanku: “Apa!, apa katamu?”, orang yang takut kepada Allah diantara hamba-Nya adalah para ilmuwan!.

Sungguh menakjubkan, menarik dan luar biasa, sebenarnya siapa yang memberitahu Muhamad ayat itu?, apa ayat ini benar-benar tertulis di Quranmu?, jika benar kata-katamu, maka dengarkan kesaksianku, Quran itu benar-benar wahyu Allah. Muhamad itu buta baca tulis, dan tidak mungkin mengungkap rahasia ini oleh dirinya, hanya Allah yang memberitahukan rahasia ini... hebat dan luar biasa!.

Terlepas dari kisah ini, siapapun saja yang mau mengaktifkan pikiran untuk memahami keagungan Tuhan di dalam semesta, dijamin hatinya akan tergetar karena takjub dan merasa diri lemah dan kecil.

2. Manfaat bagi masyarakat (sosial):

  1. Maju bersama masyarakat. Filosof, adalah "the Son of Age" (Anak Zaman), hidup demi kemanusiaan. Konsep filsafat lintas sejarah, hampir semua bertujuan bagaimana menciptakan sebuah kehidupan yang sehat dan ideal. Bahkan, jika tidak belajar filsafat, tidak memiliki gambaran atau konsep tentang "Masyarakat Ideal".
  2. Mempelajari masalah sosial, tidak hanya keinginan untuk maju, tapi mengetahui problem dan konflik yang berkembang di masyarakat, disertai alasannya. Filosof adalah seorang reformis, "Sang Pembangun" bagi sebuah tatanan yang memiliki misi mengungkap kendala sosial serta berusaha mencari solusi yang konstruktif. Coba lihat tokoh-tokoh, seperti:
    1. Socrates, yang serius memperjuangkan harga diri warga Athena, memperbaiki kesalahan serta mengangkat mereka dari keterpurukan moral akibat ulah kaum Shopis.
    2. Imam Ghozali yang berusaha meluruskan perilaku generasi, kala itu, yang menyimpang dari ajaran yang benar.
    3. John Stuart Mill yang memiliki andil besar dalam memajukan warga Inggris, di bidang politik dan ekonomi.
  3. Ikut menentukan pola pikir, rancangan ideologi yang tepat bagi masyarakat. Modal dasar untuk mengetahui ketentuan ini, adalah mengenal konsep yang berkembang di dunia filsafat. Konsep itu sebagai contoh atau sample untuk membentuk suatu pandangan.
  4. Salah satu kerja filsafat, merangkum dasar-dasar pemikiran, prinsip hidup bersosial dalam kehidupan praktis, melalui metode filsafat yang analitis dalam rangka memahamkan tiap elemen masyarakat tentang perilaku praktis yang membantu terciptanya kerukunan hidup bersama.

Lebih luas, peran filosof adalah membangun tatanan bagi dunia, menciptakan kedamaian bersama di atas muka bumi. Ketika terjadi Perang Dunia, lahir filosof-filosof yang tidak rela melihat dunia kacau, kekerasan dimana-mana. Coba lihat:

  1. Immanuel Kant, pikiran dan ide-idenya melatarbelakangi lahirnya PBB, badan internasional yang dibentuk atas kemauan bersama demi menjamin terciptanya perdamaian dunia.
  2. Karl Jaspers yang menentang keras senjata nuklir.
  3. Betrand Russel yang melawan politik "Persekutuan Segitiga" terhadap Mesir dan membentuk kesepakatan bersama, sebagai simbol perdamaian.
  4. Jean Paul Sarter, yang menuntut pembebasan atas Aljazair.

Begitu besar pengaruh filsafat hingga ia mampu mencipta sebuah perubahan dahsyat dalam catatan sejarah, seperti Revolusi Perancis, Revolusi Bolshevic di Rusia, bahkan Martin Luther yang konon terpengaruh dengan gerakan rasionalisme garapan Ibnu Rusd, sehingga mampu melahirkan sekte baru dalam agama, yaitu Protestan.

Contoh paling kongkret, Ir. Soekarno, tokoh besar yang bercita-cita agung, membangun Indonesia berdasarkan cinta. Biografinya menunjukkan, dimana saja beliau berada selalu membawa perubahan, padahal tidak sedikit kendala yang merintang, rela dihukum, sabar dalam perantauan, daya pikirnya tidak berhenti walau diasingkan berkali-kali, bahkan ketika hidup dalam buangan, masih sempat bercengkerama dengan orang kecil. Demi mengangkat martabat orang kecil, beliau dan tokoh besar lainnya ingin mewujudkan sebuah cita-cita tertinggi, yaitu terciptanya Negara Kesatuan yang Merdeka, bebas dari tekanan penjajah, dan tahun 1945 cita-cita itu terlaksana.

Para peminat filsafat, di tanah air, telah kehilangan potensi untuk maju bersama masyarakat, cenderung egois, tidak bisa bergaul secara elastis, memilih menang dengan tetap mengecewakan orang lain, tidak mau berkorban demi terciptanya suatu tatanan yang sehat. Mereka tidak memikirkan nurani sosial, tidak menghormati perasaan publik, dan kepentingan diri lebih ditonjolkan. Orang ini tidak tahu bagaimana melahirkan kebaikan bersama dengan menanamkan kesadaran bahwa kebaikan adalah baik, tapi mereka malah cenderung meyakini kebaikan adalah mengikuti cara pandang dan ide-idenya. Masyarakat tidak butuh teori-teori, tapi kebaikan, kecuali jika teori itu menyentuh nilai kebaikan, maka baik pula di mata mereka, jika tidak, jangan berharap meminta perhatian dari mereka. "A Sense of Humanity" (citra rasa kemanusiaan), telah ditinggalkan jauh dari lapangan sosial, bahkan sengaja mengeringkan nurani dari kehalusan budi. Kesalahan yang tidak layak dimiliki seorang calon filosof sejati...

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait