Minggu, 25 Agustus 2024

Akar Masalah Kesulitan Berfilsafat

Sejujurnya, kamu mampu memperhangus segala kesulitan, apapun bentuknya. Disini, Aku akan memberikan pertanyaan untuk direnungi. Dan jawabanmu menentukan "bagaimana cara pandangmu terhadap suatu masalah" sekaligus sebagai tolok ukur kemampuanmu dalam menyelesaikan kesulitan.

Coba hayati pertanyaan ini, jika jawabanmu tepat maka sukses pula kamu dalam usaha memecahkan masalah tersebut, minimal terasa ringan.

  1. Apa yang membuat masalah itu sulit?.
  2. Mampukah kamu menyelesaikan masalah itu?.
  3. Atas dasar apa kamu beranggapan "masalah itu sulit"?.

Manusia tidak lepas dari masalah, nggak usah hidup kalau tidak mau bermasalah. Semenjak lahir manusia pasti menghadapi berbagai masalah, kemana pun ia lari pasti dikejar masalah. Mulai dari masalah bicara, berjalan, berpakaian sampai masalah ketuaan. Dari masalah pula, seorang filosof berkata: "Manusia adalah makhluk sosial", sosok yang tidak bisa hidup sendiri, ia butuh kerjasama dan ulur tangan orang lain. Filosof berkata demikian, setelah melihat kenyataan hidup bahwa semakin sulit hidup seseorang jika berjalan sendiri dibanding hidup bekerjasama dengan sesama, akhirnya ia berkata seperti itu. Masalah mengajarkan kamu untuk mengetahui banyak hal serta mendewasakan pikiranmu melalui proses pencarian.

Apa yang membuat masalah sulit, 3 hal yang bisa dijelaskan:

Pertama; kesulitan itu muncul ketika si pelaku menganggap masalah itu sulit dan susah dipecahkan. Jika kamu berawal dari pikiran ini, jelas kamulah sebenarnya sumber kesulitan itu. Apapun bentuk masalah yang kamu hadapi, niscaya tidak akan berhasil. Kamu tahu kenapa!, sebab ketika kamu menganggap masalah itu sulit, maka kamu akan bersikap:

  1. Pesimis, merasa tidak mampu yang melahirkan sikap "enggan", padahal bagaimana kamu bisa mengatasi masalah jika tidak mau bergulat dengan masalah, bahkan jangan lari dari masalah. Minimal kamu akan tahu titik lemah, solusi yang bisa diambil dan format dari masalah itu, jika menganggap dirimu bisa.
  2. Kamu memilih gagal sebelum melangkah. Artinya, kamu sudah mengambil keputusan sebelum kamu tahu apa masalah itu, yakni keputusan untuk meninggalkan masalah. Mentalmu telah menjawab sikap ketidakberhasilan... dan nalurimu sudah menyatakan bahwa kamu gagal.

Kedua; kinerja atau cara kerja dalam menghadapi masalah. Mungkin kamu berkeyakinan bisa menyelesaikan masalah itu, ini nilai plus untuk kamu, tapi jangan salah mengambil langkah. Ada beberapa catatan dikala mengerjakan suatu hal, misalnya, harus bersabar, tidak memaksakan diri, diatur dan direncanakan dengan baik. Coba bayangkan!, jika kamu ingin mengutarakan rasa cinta kepada seorang wanita cantik yang selama ini mampu merasuki alam mimpimu, lalu kamu mendatangi rumah idolamu di malam buta, kira-kira pukul 2.00 dini hari. Dan hasilnya jelas, selain kamu diusir, juga bisa anggap maling; walaupun kamu merasa yakin bisa, jika tidak disertai cara yang baik, masalah itu akan bertambah sulit dipecahkan. Cara dan proses sangat mendukung terciptanya suatu keberhasilan.

Ketiga; bentuk masalah. Masalah itu banyak dan aneka, ada yang sulit, mudah atau mustahil dipecahkan. Disini, kecerdasan kamu dituntut mampu memilih masalah yang mudah dan bisa dipecahkan, jika kamu memaksa diri mengungguli kemampuan, dengan memecahkan masalah yang sulit, selain ngoyo, menguras tenaga, juga belum tentu memunculkan jalan keluar yang solutif, malah bisa bertambah amburadul. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal ini.

Kini tentang mampukah kamu menyelesaikan masalah itu, sekali lagi "Kemampuan", ia berkembang melalui latihan, gemblengan dan olah mental. Dikala kamu menghadapi masalah dan ingin menyelesaikan secara tepat, sebenarnya disaat yang sama kamu sedang melatih kemampuan diri, semakin banyak masalah yang dihadapi, kemampuan itu bertambah matang, disinilah kedewasaan berpikir itu lahir. Cobalah belajar menyelesaikan masalah kecil sebelum masalah besar. Jangan terburu untuk menghadapi masalah besar, itu usaha yang melelahkan dan hasilnya belum tentu optimal.

Di sisi lain, kemampuan itu tidak bisa dipaksakan, tapi harus dikenalkan dengan tahapan-tahapan (step-by-step), jangan paksakan diri sebab akan merusak diri dan mengakibatkan komplikasi pada masalah. Jika seorang atlit angkat besi yang masih pemula, memaksa diri mengangkat besi berkilo-kilo, akan bisa merusak tubuhnya dan mungkin tidak bisa menjadi atlit sebab fisiknya hancur. Berbeda jika mengikuti petunjuk yang disesuaikan dengan kemampuan fisik dan stamina, maka tidak akan muncul masalah baru yang menyiksa.

Selanjutnya, atas dasar apa masalah itu dianggap sulit!. Dalam memandang suatu masalah, seseorang bisa beranggapan itu sulit, tapi orang lain menyatakan itu mudah. Selain catatan di atas, ada catatan lain yang ikut menentukan sulitnya mengatasi suatu masalah, yaitu tentang dasar masalah. Cara pandang itu ada 2 bentuk;

Pertama; dasar dugaan atau prasangka. Kedua; dasar kenyataan.

Coba renungkan, jika 2 orang melihat gunung yang nampak jelas di depan mata, lalu ia ditanya: "Sulitkah, jika kalian pergi ke sana?. Si A berkata: "Susah" dan si B berkata: "Mudah". Bagaimana pendapatmu tentang ini!?, apa yang membuat mereka berbeda aksi?.

Ketika kamu dihadapkan pada masalah tertentu, kamu bisa menduga bahwa itu mudah atau sulit, menggarisbawahi "kesanggupan diri" berawal dari dugaan dan prasangka. Bisa juga, didasari atas kenyataan. Seringkali terdengar orang berkata,

Masalah ini nampaknya sulit dan aku kira seperti itu, tapi ketika ditelusuri, kenyataan tidak demikian, ternyata mudah". Juga sebaliknya, "Masalah bisa diduga mudah, tapi ternyata susah".

Kesulitan yang berdasar dugaan, adalah kesulitan yang dibuat-buat, yang diciptakan sendiri, dan belum tentu terbukti. Tapi, jika kamu mendasarkan pada kenyataan, maka akan terbukti sulit dan tidaknya, disitulah letak mudah dan tidaknya bisa diketahui secara pasti. Maka itu, dasarkan pada kenyataan, itulah jawaban sebenarnya. Mencoba menjadi orang yang realistis, melihat titik kongkrit suatu masalah, jangan beranggapan negatif, sebab sama sekali tidak merangsang ke arah pemacuan diri secara mental. Baik susah atau mudah, kenyataan akan menunjukkan, "Susah akan menjadi Mudah, Mudah akan bertambah Mudah". Kadangkala dugaan tidak sesuai kenyataan...

Sama dengan belajar filsafat, jika kamu bisa mengatasi problem diri, hingga menyandarkan kesanggupan pada kenyataan, bukan dugaan. Maka, tatkala menghadapi kesulitan, niscaya kamu akan menemukan kemudahan, dan jika telah merasa mudah mempelajari filsafat, semakin mudah pula menjalani proses berfilsafat.

Rahasianya apa!?, orang yang mendasarkan pada kenyataan, bertepatan dengan itu, ia telah menggantungkan harapan dan cita-cita untuk bisa beraksi, sehingga ia berkeyakinan bahwa kenyataan adalah solusi dan jawaban terbaik bagi setiap masalah.

❅❅❅

Berfilsafat pun demikian, jika menekan diri agar menjadi seorang filosof tanpa melalui tahapan latihan, akan muncul kebosanan dan kemalasan. Sifat bosan dan malas, menurut pengakuan umum adalah penyakit jiwa yang susah diatasi. Disaat membaca filsafat sering timbul rasa malas dan bosan itu, terutama rasa penat. Kepenatan yang diakibatkan oleh keruwetan dan kerumitan materi filsafat.

Tapi semua itu bisa diatasi, sikap dasar untuk menghilangkan rasa bosan itu, adalah:

  1. Mengawali dengan rasa riang.

Tanamkan sikap positif dan lepaskan sikap-sikap yang membuat hilangnya cita rasa kerja. Suatu saat, rasa tidak enak itu pasti muncul, itu sudah takdir dan wajar, maka menahan diri sejenak dari meneruskan kerja sampai kamu menemukan kembali dirimu sebenarnya. Sikap negatif seperti penat, kesal dan emosi terhadap seseorang, pada hakekatnya, semacam penyakit yang bisa dihilangkan, juga menjadi penghambat menuju apa yang dikehendaki. Dikala itu, kamu dituntut kembali menjadi sosok yang riang, murah senyum dan penuh daya tarik, niscaya kamu bisa mengawali kerjamu dengan baik.

  1. Variatif.

Terpaku pada satu situasi yang mencekam, bisa melahirkan rasa bosan. Artinya, terperangkap pada keseriusan yang ekstrem, seakan dirinya hidup di tengah lautan api. Setiap orang memiliki kemampuan baca yang berbeda, dalam kondisi yang berbeda pula, jangan menjadi orang lain dikala dirimu tidak mampu, tapi menjadilah dirimu sendiri. Orang belajar itu tidak berarti duduk berjam-jam di kamar sendiri, hanya ditemani lampu dan tumpukan buku. Sesungguhnya, kamu bisa melakukan banyak hal, seperti berdiskusi dengan teman, bertanya-tanya, dan sebagainya. Cara belajar itu bervariasi, kamu hanya dituntut mencari variasi yang sesuai dan merangsang diri untuk tetap belajar, usahakan daya baca tidak menurun.

  1. Suasana yang menarik.

Cari suasana yang membuat kamu bisa bertahan dengan memperbarui suasana. Jangan segan-segan merubah situasi ruang belajar, dan kamu juga bisa belajar dimana saja selama itu tidak menghilangkan minat baca, misalnya, di taman, di kolam, dibawah pohon yang rindang, dan sebagainya.

  1. Melatih konsentrasi.

Artinya, belajar memusatkan pikiran, yaitu mengontrol akal agar tetap pada satu arah. Inilah unsur dasar penemuan sikap dan jati diri secara total. Untuk sementara, bisa dilakukan minimal 1/2 jam sehari, sampai bisa mengembangkan diri dengan kemandirian. Ketika memikirkan satu hal, dijamin akan terbayang banyak hal yang bisa mempengaruhi jalan berpikir itu, baik langsung atau tak langsung. Kalau kamu sedang membaca buku tertentu, bisa dipastikan yang akan bermunculan sesuatu yang bukan materi saja, tapi bayangan masalah lain pun akan hadir dengan sendirinya, secara misterius. Sebagai pencinta filsafat, inti dasar kerja seorang filosof adalah konsentrasi, penguasaan diri dan kontrol pikiran. Tanpa itu gelar filosof hanya sebatas nama saja.

Perlu dicatat, inti kerja filosof adalah melakukan "Renungan Filosofis" atau "Penghayatan" melalui pengontrolan diri dan pemusatan pikiran, inilah yang akan melahirkan teori atau gagasan yang bermutu, sebab kejernihan masalah dan keutuhan benar-benar terjaga.

Jika tidak demikian, nanti muncul "penumpukan masalah". Jika kamu memusatkan diri membaca satu tema filsafat, bayanganmu akan dimunculi hal-hal lain, maka hal lain jangan sekali-kali mengganggu konsentrasi disaat kamu membaca, jika kamu terbawa arus bayangan itu, kamu bisa terseret semakin jauh, mungkin keluar jalur, disinilah kamu bisa disebut "Melamun", karena lamunan itu lahir dari berpikir sesuatu yang tidak jelas dan hambar, kalau dituruti tidak ada habis-habisnya, kecuali kembali ke niat awal dan menyadarkan diri dari lamunan. Semakin dituruti lamunan itu, upaya konsentrasi menjadi tersendat dan menambah pekerjaan baru, yaitu memikirkan isi lamunan secara berkelanjutan. Pada suatu titik, kamu akan lupa diri bahwa kamu sedang membaca...

Selain tidak menyelesaikan masalah, juga memunculkan keruwetan dari masalah yang bertumpukan, maka lahirlah kesulitan itu dan menjadi kerumitan pada tingkat tertentu yang kelak menjadi rasa bosan dan penat.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait