Sabtu, 24 Agustus 2024

Filsafat Cermin Kehidupan

Jika manusia ingin hidup layak dan berarti, maka ia dituntut mengenal kemampuan diri serta mampu mempelajari kenyataan. Kenyataan ini menjadi lapangan kerja yang harus digarap demi menjamin kehidupan yang lebih baik. Kenyataan tidak bisa ditolak ataupun dilawan, menolak berarti kamu menghilangkan data penting dalam kerjamu, dan sebuah usaha yang sia-sia jika kamu melawan. Yang harus dilakukan adalah memanfaatkan dan mengatur kenyataan itu menjadi fakta yang bisa kamu kendalikan.

Filsafat adalah gerak akal dan olah kecerdasan untuk memahami sifat alam dan sifat diri, serta kerjasama alam dan diri dalam percaturan hidup sebagai satu kesatuan. Dengan menyerap data-data dari penemuan ilmuwan, pandangan sastrawan, sejarahwan dan kaum sufi, ia mencoba menyeleksi dunianya. Karena itu, teori-teori filsafat yang dikembangkan para filosof merupakan kesimpulan gambaran dunia, ditambah lagi dengan upaya menyajikan pada dunia konsep masa depan (futuristic) tentang "apa yang sebaiknya" dikerjakan dalam mensiasati hidup. Maka itu, setiap filosof memiliki teori sendiri, dari pengalaman pribadi dan kenyataan yang berbeda. Konsep filsafat terbentuk dari kreasi akal filosof dalam mengatasi problema hidup di zamannya, baik problema alam, manusia, nilai dan sebagainya, yang selanjutnya akan disusun menjadi suatu konsep yang solutif.

Sebab manusia tak lepas dari masalah, juga seorang filosof, bahkan kamu bisa menggunakan teori filsafat itu jika menemukan titik masalah yang sama, yakni kemiripan. Disinilah letak andil filsafat dalam mengembangkan kreasi dan mencerdaskan otak dalam menghadapi kenyataan.

Coba renungkan bagaimana Socrates merelakan diri mati atas tuduhan merusak citra bangsa dan generasi warga Athena, padahal beliau hanya menebarkan benih hikmah, kebaikan dan kebijaksanaan. Dengan menemui setiap pemuda Athena, mengajak berbincang-bincang tentang nilai, etika dan kebaikan, setelah ia mendapatkan kenyataan bahwa kemerosotan moral, pertikaian politik yang meresahkan semua kalangan, hingga tercipta sebuah tatanan yang tidak stabil, ternyata semua itu bersumber dari kesalahan konsep yang dianut oleh warga Athena, yakni mitos, legenda dan cerita nenek moyang yang tidak nyata. Hampir tiap hari, Socrates ikut berjubel dengan warga Athena, berusaha melahirkan ide-ide dan gagasan segar yang diramu melalui dialog dan diskusi, merangsang daya kritik yang kuat.

Walaupun beliau dibenci dan diburu oleh para politikus yang merasa kepentingannya dirusak, dijerat dan dikucilkan, akhirnya mati dengan meninggalkan pesan untuk warga Athena, kira-kira seperti ini: "Wahai warga Athena, aku menghormati dan mencintai kalian, namun aku lebih mematuhi titah Tuhan. Selamanya, aku akan menikmati hidup dan anugerah ini, aku pun tidak akan berhenti menjalani filsafat dan mengajarkannya. Setiap orang yang kutemui, akan aku hormati, dan dengan caraku sendiri akan kutakatakan padanya: "Kamu, wahai kawan! adalah warga Athena yang cinta hikmah dan berkuasa atas semesta. Apa kamu tidak merasa malu menumpuk-numpuk harta dan ketenaran saja tanpa mau memperdulikan kebaikan, kebenaran dan berjiwa mulia yang tidak kamu akui sama sekali, bahkan kamu gubris!.". Kecintaan Socrates terhadap filsafat melebihi nyawanya sendiri, karena ia tahu apa yang dilakukannya —sama sekali—tidak salah, dan didukung oleh kehendak Tuhan.

Kamu tahu, filsafat dan filosof tidak bisa dipisahkan dari dunia realita. Seorang filosof juga disebut "Anak Zaman" (The Son of Age), selalu memikirkan kepentingan zaman, baik politik, budaya, ekonomi, sosial, menyajikan konsep apa yang sebaiknya dilakukan oleh sebuah tatanan demi menjamin masa depan yang lebih baik, ikut bertanggungjawab jika terjadi sebuah kesalahan. Kecintaan itu yang menggerakkan kehendak untuk selalu berfikir... dan berfikir tentang segala yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Dimanapun seorang filosof itu berada, ia akan membuat perubahan terhadap masyarakatnya, itulah filosof sejati, seseorang yang tidak akan lepas dari kenyataan, justru berniat merubah kenyataan menjadi sebuah tata hidup yang lebih baik. Lihat Plato dalam "The Republica", Al-Farabi dalam "Al-Madinah Al-Fadhilah", Thomas Agustine dalam "City of God", Niccollo Machiavelli dalam "The Prince", Thomas Moore dalam "Utopia", Francis Bacon dalam "New Atlantis", dan sebagainya. Semua itu, merupakan usaha mereka dalam memajukan manusia ke arah masa depan, dan dengan akalnya mereka mencoba merilis, meramu, dan merancang sebuah tatanan dunia yang sehat.

Kekuatan filsafat dalam kenyataan akan kentara disaat kamu sedang memecahkan masalah hidup, sikap mengambil keputusan, menilai baik dan buruk suatu perbuatan, memilih dan memilah langkah tepat yang harus diambil. Seseorang akan berusaha untuk menilai dan mengevaluasi setiap opsi-opsi yang ditawarkan. Namun ia harus dihadapkan pada 2 fakta tentang dirinya, yaitu:

  1. Ketidakmampuan memahami patokan baik dan buruk, benar dan salah, adil dan aniaya pada suatu perbuatan. Acapkali patokan itu berbeda tiap insan, baik terkadang dipandang buruk, di sisi lain ia dipandang baik sekali.
  2. Ketidakyakinan pada diri tatkala mengambil sikap, selalu bertanya-tanya apa sikap ini sesuai dengan norma dan nilai etika, apa sikap itu tidak akan menyakiti orang lain. "Tidak menyakiti orang" apa itu patokan baik dan buruk, lalu apa yang harus dilakukan jika menyakiti orang lain tapi bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Kenyataan, setiap insan ini memiliki pandangan yang berbeda terhadap arti baik dan buruk itu. Disaat kamu tidak mampu dan tidak yakin itulah, proses berfikir filosofis itu muncul. Renungan filosofis merupakan jalan terakhir yang dapat membantu mengatasi dan menentukan jawaban dikala kondisi tak menentu, yaitu sikap ragu yang timbul dari tidak mampu dan tidak yakin pada diri.

Kenyataan praktis di lapangan selalu menghendaki seseorang untuk berfikir dan merenung secara filosofis. Tiap insan selalu melakukan proses ini. Jika kamu melakukan proses berfilsafat dalam kondisi mendesak, ditekan oleh masalah yang membutuhkan penyelesaian segera, secara otomatis kamu harus membuat keputusan. Karena ia bekerja dibawah tekanan, maka otomatis ia berfikir secara acak, tidak kritis dan tidak berarti. Memang berbeda dengan filosof, karena kemampuan hasil latihan dan gemblengan akal, ia mampu secara serius, kritis, berarti dan tuntas, walau dibawah tekanan ia masih bisa berfikir jernih, berusaha menghilangkan titik-titik kelemahan diri, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiasat, mengolah data dan informasi yang selama ini dipelajari. Seorang filosof mampu bebas dibawah tekanan bahkan memanfaatkan tekanan menjadi jalan menuju kebebasan.

Filosof tidak hanya melakukan peresapan secara rapi dan teratur, tapi juga mencakup proses secara keseluruhan, memawas segala yang ada, sampai masalah terkecil pun masuk dalam cakupan kerjanya. Misi filosof, dalam hal ini, tidak hanya memecahkan berbagai masalah di lapangan untuk dievaluasi saja, tapi "menjelaskan" konsep, teori, norma dan patokan nilai yang ada, lalu disepadankan dengan bentuk masalah tersebut. Selanjutnya, "menentukan" solusi terbaik dan sesuai dengan kenyataan agar bisa mencapai putusan yang total. Sebenarnya upaya mencari pengetahuan tidak hanya menjadi tugas filosof, tapi menjadi tugas setiap insan tatkala dibelit masalah, tercengkeram dalam sengketa hidup yang membutuhkan sebuah jawaban.

Bedanya, filosof bisa bergaul dengan ketidakmampuan dan ketidakyakinan menjadi sebuah kesuksesan, namun bagi orang biasa menjadikan keduanya momok yang menghantui diri dan menjadi rintangan tiap orang ke arah keberhasilan.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait