Jumat, 23 Agustus 2024

Bahasa dan Pemikiran dalam Proses Berfilsafat

Bahasa, merupakan alasan besar yang mempengaruhi pertumbuhan pemikiran, serta dorongan untuk berpikir dan berkreasi, sebab ia menciptakan makna-makna komplek untuk menterjemahkan gagasan dan bersitan ide dalam benak manusia, serta alat komunikasi paling effektif dan efisien, namun seringkali bahasa menjadi kendala besar dalam proses berpikir dan belajar ketika para ilmuwan melahirkan istilah dan simbol, sehingga bahasa lebih susah dimengerti.

Tatkala kamu memiliki ide, gagasan dan uneg-uneg, otomatis kamu perlu tenaga untuk bisa membahasakan, mengungkapkan dengan kata-kata dan melafadzkan dalam bentuk kalimat, sebab itulah bahasa manusia. Orang lain tidak bisa memahamimu jika kamu berdiam diri, jika tak ada satu katapun terucap; apa maumu, orang lain pun tak tahu. Bahasa adalah penampakan (manifestasi) ide dan pikiran manusia, bahkan cerdas dan bodohnya seseorang bisa ditentukan dengan bahasa. Jika bahasamu tidak teratur, jelas orang lain akan menangkap bahwa pikiranmu tidak teratur dan otakmu tidak beres. Berbeda jika kamu bisa membahasakan isi hati dengan baik, maka kamu akan diperhatikan. Bahasa memiliki daya tarik yang kuat dalam upaya meyakinkan seseorang kepada kebenaran.

Pada dasarnya, filsafat berisi sikap dan prinsip-prinsip masuk akal (aqliyah, rasional), serta teori pemikiran yang bermuara pada logika dan retorika (kepandaian menyusun kata), namun filsafat juga seringkali terpengaruh oleh subyektifitas penggagasnya dan kondisi sekitar. Tidak salah jika dikatakan, tidak ada titik temu pemikiran antar filsosof, karena mereka membahasakan gagasan itu menurut versi masing-masing dan dari kaca mata yang berbeda Akan tetapi, salah besar jika kamu memahami tidak ada kemiripan dalam otak filosof.

Sejak awal, para filosof itu sadar bahwa bahasa itu bejana yang menampung pemikiran dan alat sambung informasi antar manusia dan ilmuwan; media yang paling tepat untuk mengungkap dan menularkan ide kepada orang lain. Bahasa dan pikiran memiliki kaitan yang kuat bagi perkembangan suatu tatanan.

Walaupun terdapat 3 teori tentang fungsi bahasa bagi masyarakat, yang katanya:

  1. Bahasa yang menentukan metode berfikir, cara pandang atau adat istiadat yang berkembang di suatu masyarakat, dan mereka melihat dunia melalui bahasa.
  2. Sebaliknya, cara berfikir masyarakat itulah yang membentuk susunan dan aturan tata bahasa.
  3. J. B. Watson hanya menyetujui keterkaitan pemikiran dan bahasa, tanpa memberikan alasan lebih lanjut.
  4. Bahasa dan pemikiran bagai sisi-sisi mata uang, saling mengisi (mutualistik). Artinya, sama-sama memiliki pengaruh yang kuat.

Namun demikian, tetap saja tidak mengurangi peran bahasa bagi perkembangan suatu pemikiran. Bahkan sejak Aristoteles (322 SM) menggagas ilmu logika yang dianggap sebagai instrumen pemikiran, jika dikaji lebih jauh, kamu akan menemukan titik temu Ilmu Logika dengan Ilmu Bahasa, termasuk Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf dan Tata bahasa lainnya. Kemajuan logika berasal dari perkembangan warna dan bentuk bahasa. Tidak heran jika Ilmu Logika berkembang pesat di tangan para filosof muslim di zaman pertengahan, karena banyak titik persamaan diantara keduanya, bahkan Bahasa Arab lebih kuat daripada bahasa Yunani, dikala itu.

Abu Hayan at-Tauhidi sempat bertanya kepada Abu Sulaiman: " Aku menemukan titik persamaan dan kemimiripan dalam Ilmu Logika dan Ilmu Nahwu, wahai sang Guru!. Apa sih perbedaan keduanya, saling mendukung atau saling bertentangan?. Jawab Abu Sulaiman: "Ilmu Nahwu adalah logika Arab (Mantiq 'Araby), dan Logika adalah gaya bahasa akal pikiran (Nahw 'Aqly)." Jadi bahasa yang berkembang di suatu masyarakat tertentu, adalah pembekuan (crystallization) filsafat mereka.

Ingatkah kamu dengan "Peribahasa" atau "Kata Pepatah", lebih tepat disebut "Mutiara Hikmah". Kata-kata seperti ini merupakan perwujudan dari filosofi hidup, pandangan seseorang terhadap rahasia alam semesta. Kata itu muncul dari upaya menelusuri hakekat hingga terbentuk sebuah "Hikmah", orang Yunani menyebutnya "Sophia".

"Sedia Payung sebelum Hujan", moto hati-hati dan waspada. "Berakit-rakit dahulu, Berenang-renang Kemudian", moto semangat, disiplin dan kerja keras, dan banyak lagi. Peribahasa telah menjadi ciri filsafat Timur, dalam filsafat Hindu disebut "Sutra", dan filsafat China lebih terkemas dalam bentuk hikayat atau mitos yang bermuatan filsafat.

Filsafat adalah "cermin realita" (gambaran kenyataan). Filsafat adalah tata kerja dan olah akal, aksi intelgensi manusia yang difungsikan untuk memahami sifat dan karakter alam, manusia serta kaitan keduanya, artinya peran manusia sebagai bagian dari tata kosmos (universe). Filsafat ini seringkali dirumuskan melalui slogan, jargon dan moto, lalu diolah menjadi bahasa yang hidup.

Di sisi lain, filsafat merupakan rangkuman pikiran manusia yang bekerja dibalik 'Kesempurnaan' serta busa otak-otak yang cerdas, terangsang untuk mengetahui hakekat. Suka atau tidak suka, setiap kamu adalah filosof, ia memiliki rancangan tertentu pada gerak-gerik dan hidupnya menuju "Tujuan Akhir", yang disebut cita-cita, terpengaruh dengan adat istiadat, lingkungan (behaviour) dan pengalaman (empiric); lalu mencoba memahami tujuan "Mengapa ia hidup", mencari hakekat yang ada, darimana dan kemana akan menuju, dengan hati nuraninya ia mencetak rancangan hidup ini.

Peribahasa, adalah pernyataan filsafat hidup manusia yang dirangkum dalam bentuk kata-kata.

Benar, bahasa filsafat di tangan para filosof lebih spesial, memiliki corak tertentu, bahkan menurut sebagian terkesan rumit. Sebenarnya, terdapat 2 faktor yang melatarbelakangi kerumitan tersebut:

  1. Mengekspresikan sesuatu yang tidak jelas atau samar (Ta'bir al-Ghumudz).
  2. Kesamaran atau Ketidakjelasan ekspresif (Ghumudz at-Ta'bir).

Kamu khan tahu, materi filsafat mencakup "Materi Dibalik Alam", "Nilai (Value)" dan "Metafisika". Semua itu samar, tidak jelas, dan seorang filsosof dituntut menyatakan dalam bahasa yang jelas dan lugas. Jika kamu diminta menjelaskan "Apa itu Kursi", "Mengapa kursi diciptakan dan untuk apa", kamu mampu membahasakan dengan jelas karena kamu melihat wujudnya, lalu bagaimana jika kamu diminta menjelaskan tentang "Adakah kehidupan dibalik alam ini", "bagaimana kamu menyebutnya", "Samakah alam itu dan alam ini", "Wujud alam itu apa bisa dirasakan dan bagaimana", dan banyak lagi materi filsafat yang samar, seperti baik dan jahat, apakah pencuri yang membagi-bagikan hasil curian kepada fakir miskin itu jahat?. Semua ini butuh penjelasan panjang dan belum tentu bisa diterima langsung oleh orang lain.

Namun filsafat sebagai fenomena alam bagi manusia, tidak terbatas pada suku, warna kulit, agama dan kepercayaan tertentu, sebab manusia adalah makhluk yang berfikir; ia melihat alam, lalu mengoperasikan otaknya dalam memahami fenomena dan berusaha memberikan batasan makna yang jelas. Dari sini, filosofisasi mengarah pada bagaimana menafsirkan hidup ini, mengatur dan mengevaluasi kenyataan. Inilah yang menjadikan perbedaan sikap, aliran, metodologi dan konsep di kalangan filosof dalam mengartikan filsafat, karena filsafat tidak bisa lepas dari pengalaman si filosof, baik mental maupun spiritual. Filsafat itu kajian akal murni terhadap alam sebagai satu kesatuan wujud yang mencakup semua sisi.

Kesamaran materi dalam filsafat ini ikut mempengaruhi keruwetan bahasa, tidak jarang istilah yang dipakai para filosof juga membutuhkan penafsiran. Disisi lain, para filosof membahasakan filsafatnya menuruti bahasa sendiri; misalnya filosof Yunani, Arab, China, Romawi, Persia memiliki gaya bahasa sendiri yang berbeda, keterbatasan bahasa pun ikut andil secara tidak langsung.

Konon, orang Arab mempelajari dan mengenal filsafat melalui karya-karya filosof Yunani, Aristoteles dan Plato, tergambar pada bagian tertentu pada teori filsafat Al-Farabi, Al-Kindi dan Ibnu Sina, terakhir Ibnu Rusd dengan Rasionalisme-nya. Perubahan dalam gubahan bahasa itu, ditambah tampungan arti kedua bahasa, semakin sulit mendeteksi teori asli dan teori gubahan setiap filosof Yunani dan Arab.

Selanjutnya, cara penyampaian para filosof tidak dijelaskan secara langsung, tapi melalui penciptaan istilah, simbol dan kata kiasan dengan tujuan agar "Mudah Ditangkap Akal", "Pendekatan Arti" atau "Al-Mubadarah fi Adz-Dzihn". Mereka menyadari, betapa sulit menularkan ide dan pemikiran kepada orang biasa, dan simbol-simbol itu hanyalah salah satu langkah penanaman ide yang cukup effisien kepada mereka. Terkadang masalah muncul tatkala menjelaskan istilah dan simbol itu sendiri sebelum memahami makna istilah. Bagaimana memahami Eksistensialisme, jika untuk mengerti Eksistensi saja tidak mudah. Mungkin sebagian meminjam bahasa lain dengan cara terjemah, Eksistensi berarti Wujud; setelah ditemukan Eksistensi itu Wujud, masalah timbul ketika mengartikan "Apa itu Wujud" dan "Wujud yang Bagaimana". Sekarangpun kamu bingung memahami kata-kataku barusan khan!?, tapi itu wajar sebab kamu pemula, tunggu sampai kamu seperti filosof itu, niscaya kamu akan tahu lebih baik, dengan syarat kamu harus mengerti bagaimana orang-orang itu berfilsafat.

Tambah lagi, transalasi bahasa asing, cukup membuat seorang pemula sedikit kerepotan, disamping kebingungan menangkap maknanya.

Tidak ada satu kata baku dalam filsafat, tatkala filosof menemukan teori baru, ia menciptakan istilah baru pula. Kamu percaya nggak!, Suatu paham akan mengalami perubahan arti pada tahap-tahap selanjutnya. Idealisme Plato atau Realisme Aristoteles sudah mengalami perubahan di tangan para pengikutnya. Wajar, karena nuansa ilmu para pengikutnya telah berkembang, sehingga tema-tema baru yang belum tersentuh pencetusnya terbuka lebar bagi mereka. Dalam benakmu mungkin akan muncul gereget, "Realisme menurut ini, kok berbeda dengan Realisme menurut itu!, Sebenarnya Realisme yang benar itu mana sih?". Nah, kamu jangan heran, Aristoteles saja bisa bersebarangan dengan sang Guru, yaitu Plato, padahal dimana-mana murid seharusnya mengikuti jejak gurunya, tapi di dunia filsafat tidak mengenal itu.

Filsafat berbicara hal-hal yang bersifat normatif, nilai yang abstrak, tidak bersentuhan dengan indera. Itulah kilasan materi yang akan kamu pelajari di filsafat. Menyimak itu, bisa kamu bayangkan bagaimana para filosof itu mengkaji materi sesuai pengalaman dan gaya bahasa tersendiri. Samar bukan materi itu!, sama samarnya dengan cara penyampaian para filosof hingga mereka harus mencipta simbol-simbol, biar mudah dipahami. Samar karena tidak bisa disentuh, dirasa dan dilihat oleh panca indera, hanya bisa dipikirkan dan direnungkan melalui efek-efek. Seperti itu juga kamu akan mempelajari filsafat. Percayalah!, kelak kamu bisa mempelajari dengan baik seperti mereka kok...

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait