Kamis, 22 Agustus 2024

Membaca Alam Pikiran Filsafat

Seseorang akan bertanya-tanya; apa yang bisa dipelajari dari buku-buku filsafat, pemikiran para filosof, gagasan dan ide yang mereka ajukan, teori yang kadang tidak sejalan dengan pendapat kamu, apalagi jika ditemukan suatu perbedaan argumentasi antara pembaca dan filosof. Sekilas, orang akan menarik kesimpulan bahwa belajar filsafat yang dikonsep oleh para filosof selain pelik juga sia-sia. Benarkah demikian?.

Ingat!, belajar filsafat berarti belajar membaca pikiran orang lain, yaitu filosof. Bagaimana cara pandang, konsep dan pendapat mereka tentang suatu masalah hidup. Mereka, sebenarnya, adalah orang yang sedang berusaha memahami kehidupan ini menurut versi dan kemampuan masing-masing, hingga muncul paham atau aliran yang akan kamu kenal disaat belajar filsafat, yang merupakan konklusi pasti dari perbedaan cara pandang tersebut. Bukankah dengan memahami pemikiran seseorang adalah salah satu cara kamu untuk mengumpulkan data dan informasi yang bisa dijadikan modal data dalam memahami masalahmu sendiri?!. Dari sebuah kemiripan, kamu akan belajar sesuatu.

Mungkin kamu tidak sependapat dengan seorang filosof, tapi apa kamu akan memungkiri untuk menolak secara total semua pemikiran mereka. Sedikit banyak kamu akan mengambil pelajaran dari mereka, walau sedikit. Absurd (konyol) sekali jika kamu menolak total pemikiran mereka, kendatipun kamu tidak setuju, pada saat itu juga kamu akan memahami sebab dan latar gagasan yang bisa menjawab "mengapa kamu tidak setuju atau menolak". Dalam ketidaksetujuan itu terdapat dalil dan informasi yang melatarbelakangi, karena perlu kamu tahu, para filosof itu tidak asal-asalan untuk mengeluarkan sebuah teori atau gagasan, bahkan setiap pernyataan mereka harus diikuti dengan alasan dan argumentasi yang tepat dan valid. Mereka bukan anak kecil yang asal ngomong tanpa dalil, bahkan si anak mungkin menyatakan sesuatu diluar alam sadarnya, filosof tidak demikian. Mereka berpikir atas kesadaran penuh dan dilakukan secara sengaja, mengetahui apa yang sedang dilakukan. Hindari menjadi anak kecil dikala usiamu tidak bisa disebut kecil lagi!.

Jika kamu orang Islam, pasti kamu tahu bahwa firman Tuhan yang pertama kali turun berkenaan dengan perintah "Membaca". Perintah ini bersifat mutlak, yakni membaca apa saja, kapan dan dimana saja. Membaca alam semesta, pikiran, fakta hidup dan tulisan, baik di usia muda atau tua, dimana saja kamu berada, di kantor ketika kamu menjadi direktur, maka kamu harus mampu membaca kehendak bawahan, di rumah ketika menjadi seorang ayah, maka kamu harus mampu membaca kemauan anggota keluargamu. Kamu bisa hancur gara-gara tidak pandai membaca situasi. Di sisi lain kamu bisa mencatat dan menciptakan sejarah, lebih dari itu mampu merubah sejarah itu sendiri. Begitulah, Tuhan menyuruh kamu...

Akal sebagai motor pemikiran, memiliki kemampuan yang terbatas, sebab ia mengenal titik akhir atau jalan buntu. Tapi jalan buntu itu bisa dibuka kembali, baik dengan cara kembali ke jalan awal sehingga ia bisa melewati jalur alternatif, juga bisa membuat jalan baru. Anggap saja, kamu menghadapi jalan buntu, tapi seorang filosof akan berusaha menciptakan jalan baru dengan menyelidiki cara agar sampai pada apa yang dituju, maka lahirlah seorang penemu, orang besar dunia, seperti Thomas Edison, Albert Einstein, Avicenna (Ibnu Sina), Al-Khowarizm (Algorithm), dan sebagainya; mereka tidak hanya sekali menghadapi jalan buntu, tapi berkali-kali. Ingat, mereka juga tipe orang yang bisa membaca keinginannya, selain merasa bisa, mereka memiliki keyakinan bahwa dibalik jalan buntu itu terdapat jalan lain, jalan pencerahan. Mereka akan terus mencoba dan mencoba....

Daya tangkap mereka dalam membaca situasi lebih sensitif dibanding manusia biasa.

Hampir setiap filosof meninggalkan hasil karya agar bisa dikembangkan generasi berikutnya. Dan dikala membaca filsafat, kamu sedang membaca pemikiran mereka itu. Tidak setiap orang memiliki pemikiran yang sama, tidak semua sisi keilmuan bisa ditolak dan diterima secara mutlak, pasti muncul ketidaksamaan akibat background yang berbeda dan beragam.

Minimal 3 hal yang bisa kamu baca dan pelajari dari karya para filosof itu, yaitu:

  1. Mengenal istitah-istilah pemikiran yang cukup mendalam dan berarti bagi perkembangan pemikiran kamu, dengan syarat ada kesepakatan bersama atas makna istilah tersebut. Disini peran logika sangat penting dalam percaturan hidup kamu sehari-hari. Kejelian kamu dalam membaca akan menambah wawasan dan tanggap terhadap perkembangan alam sekitar. Banyak orang bersifap tapi sedikit orang tahu bagaimana cara bersikap, karena logikanya tidak bisa menbantu melancarkan proses pengambilan sikap.
  2. Belajar menganalisa pemikiran, mengorek gagasan yang diyakini dan mengembalikan pada dasar atau asal hingga mengeluarkan suatu Kejelasan. Disini, kamu belajar memahami pendapat orang lain sesuai proporsinya, walaupun kelak kamu akan menolak, mengkritisi atau menyetujui pendapat itu, tapi kamu dituntut menggali sebagai langkah perbandingan. Dan justru dalam proses ini, secara tak sadar, kamu sedang melatih kemampuan akal dan mempertajam daya otakmu.
  3. Melatih diri untuk menata pikiranmu menjadi bentuk pemikiran yang rapi dan teratur (sistematis). Dari setiap tahapan pemikiran yang dilalui akan menghasilkan keselarasasn konklusi yang sempurna. Dari proses ini, kamu bisa menghilangkan sisi kontradiksi (pertentangan) menjadi suatu Kejelasan. Disini, kamu belajar untuk dewasa, artinya belajar mengambil keputusan yang baik dan tepat.

Lebih dari itu, jika kamu memiliki kejeniusan, kamu bisa menjadi orang besar sebelum saatnya atau dewasa di usia muda. Tahu kenapa!, karena kamu mampu berpikir seperti layaknya orang besar atau dewasa. Bagaimana tidak, kamu membaca karakter dan pemikiran orang lain yang sudah digembleng selama bertahun-tahun. Kamu bisa menjadi Einstein Muda, jika mampu berpikiran sebagaimana layaknya Einstein.

Begitu juga, kamu bisa menjadi sosok filosof muda seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, bahkan bisa lebih dari para filosof itu jika memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Mereka hanya sekedar pencetus yang hidup di masa sebelum masehi, masalah hidup kala itu masih terlalu simple, tidak seperti sekarang, masalah sangat komplek, maka data hidup yang tertuang di alam nyata ini semakin banyak. Dari sini, kamu memiliki data lebih dari para filosof itu, juga mampu mengkritisi, meluruskan dan menyatakan teori mereka tidak cocok lagi dan sebagainya, sesuai daya cernamu terhadap suatu masalah. Semua itu bisa kamu lakukan dengan memperbanyak membaca filsafat secara kritis, analitis, mengenal karakter setiap filosof, menguasai alam pemikiran mereka.

Bukankah kamu bisa seperti mereka...

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait