Manusia adalah makhluk Tuhan yang pelupa. Kodrat yang tidak bisa dipungkiri, setiap otak memiliki daya yang berbeda dalam menangkap sinyal dari luar, terutama ketika terjadi penumpukan masalah. Sifat lupa yang melekat pada diri, tidak bisa selamanya negatif, tidak ada alasan menyalahkan sifat lupa sebagai pemutus jalan keberhasilan dan kreasi. Tuhan memiliki alasan "Mengapa manusia diberi sifat lupa". Dalam proses belajar, apapun yang dipelajari, sifat ini tidak bisa dihilangkan begitu saja, tapi diminimalisir, memperkecil kemungkinan terjadinya penghapusan data dalam ingatan (memory). Sifat lupa merupakan gejala alam yang melibatkan daya ingatan, secara langsung dan mengikat. Penting sekali, tanpa sifat lupa ini pemikiran akan tampak kacau, dan tidak teratur. Kenapa?, bayangkan kalau manusia mengingat semua kejadian yang pernah dialami, peristiwa yang terjadi selama bertahun-tahun muncul di otak, selain tidak mungkin, juga terkesan lucu. Banyak hal yang harus dilupakan, terutama kisah negatif dari pengalaman hidup yang pahit.
Hal mendasar yang harus dipahami, belajar filsafat berarti berusaha menyerap informasi dan data yang disajikan filosof dalam konsepnya, serta mengolah data berdasarkan refleksi masalah yang dihadapi di alam nyata. Ingatan dan belajar itu saling terkait, kamu akan mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Jelasnya, tidak ada proses mengingat atau menarik data-data dari masa silam, kecuali didahului oleh pembelajaran dan pengalaman. Otak mampu menampung sejumlah informasi dan data secara terus menerus, tapi kamu tidak mampu menguasai, mengendalikan semuanya tatkala dibutuhkan. Pada saat tertentu, seseorang gagal mengingat sebagian data-data penting yang ingin diambil, seperti dalam ujian, karena tidak tahu dimana data itu tersimpam dalam otak ini.
Langkah awal yang bisa dilakukan, adalah mencari data-data yang berkaitan, yang tersimpan di dalam memori. Dan berusaha bertanya, kapan kamu membaca materi itu? Dimana? Kesempatan atau kejadian tertentu dikala membaca, juga ikut merangsang kerja memori?!. Lebih detail, apa yang kamu baca? Bentuk dan materi yang dibaca? Kasifikasi dari pemisahan tiap materi, juga membantu usaha ini?. Singkatnya, proses mengembalikan ingatan berjalan melalui 3 tahapan:
- Mencari data-data.
- Mengumpulkan, mengatur data dan memilah sesuai klasifikasi yang tepat.
- Mengingat lebih cermat dan serius.
Cobalah merespon kerja memori dalam otakmu dengan memunculkan ulang ide-ide yang terkemas dalam catatan pribadi yang telah dibuat. Catatan itu akan menjadi rangkaian simpul pikiranmu, dan secara otomatis otakmu akan bekerja berdasarkan alur pembuatan catatan itu sebelumnya.
Kenapa kita lupa? seringkali, kamu gagal mengingat peristiwa atau memunculkan ulang data yang tersimpan dalam otak. Beberapa saat setelah mengkaji suatu msalah, kamu cenderung lupa terhadap apa yang telah dibaca dan didengar. Bagaimana pandangan kaum psikolog terhadap kasus ini?, teori klasik berbicara sebagai berikut:
- Decay Theory; teori ini berpandangan, bahwa pengalaman dan ingatan itu tercatat dalam lingkar elektrik pada saraf yang berada di dalam otak. Ibarat merekam lagu pada kaset, bekas yang merekat pada pita kaset, secara bertahap, akan hilang dan memudar, terutama jika kaset itu tidak pernah diputar lagi. Jadi, kelupaan itu timbul akibat melemahnya pengaruh ingatan, bekas yang melekat pada otak telah melebur.
- Interference Theory; kelupaan itu terjadi diakibatkan campur tangan (intervention) gerak dari luar, atau aktifitas lain yang ikut menginfeksi otak dalam prosesi belajar. Semakin kamu memasukkan pikiran-pikiran itu, proses pematrian, atau penanaman materi pada otak akan terpengaruhi. Inilah yang merangsang kelupaan, sesuai penipisan data-data dalam memorimu. Jika seseorang tidur, atau istirahat seusai membaca sebuah karya, maka ia akan bisa mengigat ulang materi tersebut lebih mudah dan gamblang, dibanding melahirkan ingatan di siang bolong, setelah dari pagi otak diperas, dipaksa bekerja, dan banyak aktifitas lain yang telah dilakukan. Perilaku ini, jelas akan menambah beban pada muatan memori. Penumpukan data pada otak, selain memberatkan, juga sebuah "langkah pemaksaan", dengan menahan beban secara berlebihan. Sehingga, simpul otak menjadi acak, tak beraturan dan susah diambil inti materi secara jelas.
- Repression Theory; teori psikoanalisa yang mengatakan, setiap peristiwa yang berkaitan dengan pengalaman pahit seseorang, juga berpengaruh besar pada kerja otak. Orang ini cenderung melupakan ingatan itu, karena mengakibatkan derita jiwa, seperti stres, frustasi, tekanan mental dan sebagainya. Kelupaan dalam konsep ini, timbul dari sikap pembelaan diri di luar alam sadarnya, dan berusaha menghindari rasa sakit, kecewa dan luka.
- Gestalt Theory; lebih mengacu pada susunan (structure), bentuk (configuration) data dan materi yang dipelajari. Segala informasi yang diterima akan merangkai bentuk dan rangka tertentu yang memudahkan untuk diingat. Panganut teori ini berpendapat, bahwa susunan pada rangkaian data yang tidak tepat, atau tidak memenuhi target akan mudah hilang dan terlupakan.
Teori-teori ini menegaskan, otak berfungsi merekam data yang diterima, menangkap refleksi dari luar, merespon dan mengolah dalam pita memori, Decay Theory. Akal pikiran memiliki daya yang terbatas, tidak mampu memuat beban melebih angka rata-rata, Inteference Theory. Terdapat jaringan tipis pada urat saraf, yang menghubungkan akal pikiran dengan jiwa (soul), atau kondisi mental, Repression Theory. Formasi dan rangkaian yang terbentuk dari kumpulan (accumulation) data, ikut berperan dalam kerja akal pikiran, Gestalt Theory.
Dalam dunia filsafat, seorang pemula pasti berhadapan dengan kasus-kasus kejiwaan. Ketika mengkaji pemikiran filosof, emosi, mental dan pikiran saling tarik menarik lebih ketat, serasa muncul dorongan kuat untuk melakukan sesuatu. Entah darimana kekuatan itu muncul, seakan ada yang berubah, bergolak, berkecamuk, bahkan menendang-nendang rahim pikiran dan jiwamu. Itulah bentuk perkelahian antar kemauan dan pikiran, bisikan baik dan jahat, seakan pikiranmu terinjeksi sesuatu yang tak nampak. Setiap manusia dibekali kemampuan untuk mengatasi gejolak-gejok itu, karena ia berakal, berotak dan berpikiran.
Tapi, tidak jarang, kamu terjerat oleh bayangan atau ilusi hampa yang menghalangi kelancaran berpikir, terlebih jika kamu pernah merasakan pengalaman pahit. Ketika itu, kamu susah bangkit, putus asa dan hilang gairah hidup; jangankan melangkah, bernafas saja terasa susah. Kemelut yang mematikan manusia untuk hidup...
Apa yang bisa kamu lakukan?, adalah menghindar dan waspada. Benar sekali, jika kamu ingin memiliki jiwa yang matang dan daya tahan yang kuat, maka harus siap menanggung resiko serta selalu siaga. Tapi jangan menantang resiko, sama saja dengan mencari masalah. Dan ketika kamu mempelajari ide-ide dalam tiap pemikiran seorang filosof, sedini mungkin, hindari perasaan-perasaan yang menghantui dan mengganggu proses berpikir.