Sabtu, 27 Juli 2024

Mengapa Bertanya dan Menentukan Arah Pemikiran

Sebagian orang berkata: "Ngomong itu enak, Mempraktekkan itu susah". Sebuah slogan yang sering terdengar di masyarakat. Catatan kecil ini memuat bentuk diri, atau cermin kenyataan kita sebenarnya. Ngomong itu enak, sebuah pernyataan singkat yang membutuhkan pembuktian, dan "mempraktekkan itu susah" itulah opsinya. Ketentuan dari jawaban ini, akan menjadi gambaran jati diri dan siapa kamu. Jawaban itu bisa menarik kamu menjadi anak kecil atau orang awam, atau bisa mengembangkan diri kamu menjadi orang besar yang filosof.

Pikirkan pernyataan ini:

"NGOMONG itu enak, MEMPRAKTEKKAN itu susah"
Kamu menjawab: "Ya, susah".

Maka kamu adalah:

  1. Anak kecil yang suka ngomong tapi tidak mau berusaha membuktikan omongan, bahkan cenderung enggan dan ogah-ogahan.
  2. Orang lemah, karena, susah yang kamu katakan adalah sebuah pernyataan tidak mampu, dan kamu telah kehilangan support diri.
  3. Tidak percaya diri, 50% dari semangatmu telah musnah.

"NGOMONG itu enak, MEMPRAKTEKKAN itu susah"
Kamu menjawab: "Tidak, tidak susah".

Maka kamu adalah:

  1. Orang besar, yang berprinsip segala sesuatu pasti ada jalan keluar. Menyadari bahwa Tuhan menciptakan masalah, maka Tuhan pula yang akan memberikan solusi. Bukankah kamu sudah dikaruniai akal untuk memproses itu!.
  2. Dengan mengatakan "Tidak, tidak susah", maka 50% dari masalahmu sudah teratasi, dan kamu merasa ringan untuk mencari penyelesaian selanjutnya.
  3. 3. Bermental kuat, artinya tatkala ia menyatakan, "Tidak, tidak susah", sebenarnya dalam hati kecil ia mengatakan, "Ya, susah", tapi keberanian ia menjawab, "Tidak", berarti ia menyadari bahwa dibalik itu muncul tantangan. Hanya orang yang bermental kuat yang berani menaggung resiko atas jawaban, "Tidak, tidak sudah".
  4. Orang yang mengatakan, "Tidak, tidak susah", maka ia akan tergerak untuk membuktikan, terdorong untuk mencari pembenaran dari pernyataan itu.

Ingat!, setiap usaha akan menuai hasil, entah kini atau nanti, kamu pasti akan merasakan hasil kerjamu. Seorang filosof akan menjawab, "Tidak, tidak susah" artinya "Perkara itu Mudah", sebab ia tahu betul bahwa semua masalah bisa diatasi, berawal dari pengalaman dan petualangan dalam proses peng-godog-an mental dan akal yang sering dilakukan, ia sudah terbiasa melewati jalan yang berliku-liku, terkadang menemui tanjakan yang curam, jalan buntu, jalan tikus dan benturan-benturan, semua sudah terlewati. Kelak kamu akan melewati jalan-jalan yang dilalui filosof itu, jika kamu mau bertahan dalam menjejaki tahapan masalah.

Beranjak ke arah pernyataan yang berkaitan dengan filsafat, simak pernyataan berikut:

"BERTANYA itu mudah, tapi MENJAWAB belum tentu bisa".

Dalam pernyataan itu terdapat beberapa catatan:
Bertanya mengandung unsur-unsur berikut:

1. Bertanya berarti kamu ingin tahu.

Seseorang bertanya, secara tidak langsung pertanyaan itu muncul dari tekanan dan dorongan "ingin tahu". Ketika keingintahuan itu semakin besar, rasa semangat untuk bertanya semakin meningkat. Tanya itu bisa diajukan kepada orang lain, bisa juga dilontarkan kepada dirinya sendiri. Orang awam akan mengajukan pertanyaan kepada orang lain yang lebih tahu, serta orang lain yang bekerja sebagai pemikir, tapi seorang filosof akan bertanya kepada dirinya sendiri dan memaksa diri untuk berfikir dan menjawab dengan modal kecerdasan yang dimiliki. Siapa pun orangnya, jika ingin tahu harus bertanya. Dan pekerjaan seorang filosof yang paling mendasar adalah "ingin tahu", bedanya dengan orang biasa adalah tingkat keingintahuan itu. Pada filosof selain keingintahuan itu besar, juga didukung rasa tidak puas dan keyakinan bahwa "tersimpan rahasia besar dibalik sesuatu", sedangkan orang biasa bersikap cepat puas, dan tidak tergelitik untuk mengetahui sesuatu yang besar.

Apakah kamu tahu, “Buah apel yang jatuh dari atas pohon, melewati kepala Newton dan menginspirasikannya untuk mencipta teori gravitasi bumi, adalah apel yang jatuh melintasi memori di otak yang penuh dengan data-data”, dan muncul dari orang yang tidak puas dan selalu ingin tahu.

2. Bertanya berarti kamu paham.

Pertanyaan itu diajukan, adakalanya si penanya itu tidak paham dan adakalanya paham. Jika tidak paham, maka si penjawab akan mengulangi dan memperjelas masalah yang sama dan yang tidak dipahami, itulah orang biasa, bertanya karena tidak paham. Filosof tidak demikian, ia bertanya karena paham, dan langkah yang dilakukan adalah mempertajam pertanyaan untuk mencari pemahaman baru, terus bertanya dan bertanya dengan tanya yang tidak sama, serta kadar jawaban yang berbeda.

3. Bertanya berarti kamu pintar.

Kecerdasan seseorang bisa dilihat dari kemampuan 'bertanya' dan 'menjawab'. Jika seorang guru ditanya oleh 2 siswanya, satu siswa bertanya tentang penjelasan yang sama, maka si guru akan mengulangi keterangan yang sama, hanya penekanan dan pengulangan saja. Lalu, siswa yang lain bertanya tentang penjelasan baru dan si guru dituntut menjawab dengan keterangan yang baru pula. Maka, siswa pertama, bisa dibilang memiliki kecerdasaran rata-rata, atau mungkin lemah, dan siswa kedua, bisa dibilang pintar dan cerdas, karena mampu berkreasi dan menangkap adanya ilmu baru yang belum diketahui. Seorang filosof memiliki kecerdasan diatas orang biasa, ia mampu menangkap sinyal-sinyal pengetahuan dari refleksi akalnya.

Kelebihan lain dari seorang filosof, ia mampu melahirkan banyak jawaban dari satu pertanyaan, menunjukkan ia bisa membaca keseluruhan dimensi dari satu masalah dan pikirannya mampu menjangkau sisi-sisi yang ada dan tiada. Jika orang pintar bisa mencari jawaban benar dari jawaban salah, maka orang jenius mampu mencari jawaban paling benar diantara jawaban benar, itulah filosof. Makanya, jangan heran jika masalah filsafat, itu-itu saja, tapi mengapa tiap filosof memiliki jawaban yang berbeda-beda, berwawasan dan berbobot, sesuai kemampuan mereka menangkap fakta, sekali lagi itulah ciri filsafat. Bahkan kalau kamu sadar, sebenarnya masalah hidup ini, itu-itu saja, tapi cara penyelesaian tiap insan berbeda dengan insan lain.

Sebenarnya, bertanya itu bisa mudah, bisa juga tidak. Mudah bertanya sebab tidak tahu, tidak paham yang muncul dari orang yang tidak pintar. Tapi, sesungguhnya, bertanya itu tidak mudah jika yang bertanya-tanya itu tahu, paham dan pintar, sebab pertanyaan ini bersifat selidik yang —selanjutnya— akan melahirkan jawaban yang kritis dan analitis.

Lalu bagaimana dengan sebuah jawaban!.
Perlu anda catat dan camkan pada pikiran terdalam anda, bahwa JAWABAN menentukan:

  1. Tingkat kecerdasan; orang itu terpelajar atau tidak!, cerdas atau tidak! Dapat dilihat dari mutu dan kualitas jawaban
  2. Profil dan identitas; sastrawan, politikus, ekonom, filosof memiliki jawaban yang tidak sama, tergantung bagaimana ia melatarbelakangi jawaban itu. Jawaban menentukan jati diri, karakter dan sifat-sifat yang dominan.
  3. Perangai dan watak; jawaban juga bisa menggambarkan orang itu sabar, penakut, pemarah, beringas, dan sebagainya. Juga mencerminkan orang itu suka emosi, percaya diri, serta optimis.

Dari latihan menjawab itu, filsafat akan berefek pada diri seorang filosof, misalnya berotak cerdas, tajam, berwawasan luas, sikapnya selalu didasari pemikiran yang matang, tidak berani mengambil resiko dalam kehidupan nyata seperti suka terlambat, lupa waktu dan sebagainya. Sehingga melahirkan sosok yang tenang, lembut, sabar, tidak mudah terpengaruh, optimis dalam menghadapi kegagalan, bahkan semakin berani menghadapi resiko.

Latihan-latihan inilah yang mengembangkan nuansa mereka, lika-liku atau seluk beluk pemikiran akan menggodok mental, sehingga melahirkan sosok yang berwawasan dan berpandangan positif.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait