Rabu, 24 Juli 2024

Bertanya Kunci Berfikir Filsafat

Asal dan akar pemikiran adalah diskusi seputar "Ya" dan "Tidak", memperbincangkan sikap "Setuju" dan "Tidak Setuju"; sikap menolak secara mutlak tidak bisa disebut pemikiran, seperti penolakan anak kecil yang tidak mengetahui mengapa dan kenapa; menerima secara total juga tidak disebut pemikiran, seperti kepatuhan seorang budak terhadap tuannya yang tidak bisa menilai baik dan buruk suatu tindakan. Filsafat tidak mengajarkan itu!, kamu harus merdeka dengan akal karunia Tuhan, tidak mudah mengambil sikap gegabah, apalagi menabrak sebuah tatanan.

Hanya Tuhan yang memiliki ilmu tanpa batas, bukan ilmu yang berprinsip pada "adakalanya ini, dan adakalanya itu". Adapun ilmu kamu, paling banter hanya mengetahui kemungkinan-kemungkinan, memilih yang paling kuat diantara beberapa kemungkinan. Kamu hanya bisa ... bersentuhan dengan suatu masalah, mengoreksi, menyelidiki seluruh kemungkinan untuk didiskusikan, lalu menyetujui satu kemungkinan dan menolak lainnya. Semua ini juga terjadi pada filosof-filosof itu, ia memberikan jawaban yang dilihatnya benar. Dari sikap pro dan kontra disaat menjalani proses diskusi batin, kamu menerima pendapat yang menurutmu benar, menolak apa yang kamu akui tidak benar?.

Sikap "Setuju", disini, berarti menerima apa yang kamu sangka/kira benar dan sikap "Tidak Setuju" berarti menolak apa yang kamu sangka/kira salah. Prasangka ini menjadi ciri setiap pemikiran manusia, menjadikan kebenaran "yang diterima" sebagai kebenaran yang mungkin salah, pula sebaliknya, kesalahan dalam akal pikir itu mungkin juga tersimpan suatu kebenaran. Pandangan terhadap "Ya" dan "Tidak" inilah yang awalnya mutlak (absolute) berubah menjadi nisbi (relative). Pengetahuan merupakan refleksi dari daya tangkap jiwa terhadap gambaran alam luar; saling terkait dan teratur (sistematis). Sejauh mana seseorang berfikir tentang sesuatu hal, sebanyak itu pula pengetahuan yang diterima. Saat itu, filsafat adalah Proses Berfikir (al-'Amaliya al-Fikriya) serta kinerja akal untuk mencapai suatu kebenaran.

Dan "Tanda Tanya" adalah kunci pembuka jalinan pemikiran manusia. Bertanyalah... apa saja yang tertuang dalam otak dan hatimu, maka jawaban yang kau cari itu adalah "Ilmu" atau "Pengetahuan". Demikian para filosof memulai kerjanya, bertanya sebanyak mungkin dan menjawab sebanyak-banyaknya, menyeleksi jawaban paling tepat diantara semua jawaban.

Ketahuilah!, asal usul pertanyaan filosofis berkembang semenjak kelahiran manusia pertama. Hanya saja, ia tidak mungkin mempertanyakan tentang asal usul alam, siapa Penciptanya, sifat-sifat Pencipta itu, lalu ke arah mana alam ini berakhir?!. Tanpa mempertanyakan pula tentang dirinya; darimana ia berasal, kemana tujuan setelah mati, apa saja sifat manusia bijak itu, hingga menyelidiki bagaimana membentuk suatu tatanan masyarakat ideal (al-Madinah al-Fadhilah). Tanpa juga mempertanyakan tentang adakah sesuatu (thing; syae') dibalik alam ini; apakah benar-benar hampa, artinya tidak ada alam lain dibalik alam ini, atau memang ada alam lain!, dan apa kaitan alam-alam itu?!, pola pikir mereka masih sederhana dalam hal ini.

Disadari atau tidak, tanya-tanya itu akan secara otomatis tersirat dalam setiap otak manusia, terhadap segala hal. Bagai matahari yang terbit dari timur dan terbenam di barat, ia tidak bisa ditahan oleh siapa pun, begitu juga dengan tanya-tanya itu, ia tidak bisa dikekang dan akan selalu ada.

Jalan pikiran manusia itu tidak akan berhenti, walau dibelenggu sekuat apapun. Lewat tanya-tanya kecil, seorang bocah akan iseng bertanya, atau memang itulah naluri setiap anak manusia!; pertanyaan yang timbul dibawah alam sadarnya, namun dituntut untuk mencari suatu jawaban. Justru itulah yang membuktikan bahwa si bocah itu normal, ia dicipta untuk bertanya yang kelak ia harus berfikir dan merenungkan pertanyaan itu kembali. Ketika melihat gajah, si bocah bertanya: "Gajah itu kok besar, kenapa! Dan belalainya panjang sekali, sedangkan Jerapa kok malah lehernya yang panjang, kenapa seperti itu!. Pertanyaan seperti ini sering muncul dari mulut mungil si bocah. Tanya-tanya lain pun akan bermunculan, itulah kodrat manusia kenapa dikaruniai akal.

Seorang filosof akan bertanya lain, Socrates, misalnya, akan bertanya dihadapan para politikus, penyair, ilmuwan, dan warga Athena: "Apa yang kalian gemari?, kekayaan, jabatan, kebahagiaan atau pengetahuan!, Apakah kebaikan itu sumber kenikmatan dan kejahatan itu sumber petaka? Benarkah kekuasaan (power) akan membentuk jalin kebenaran? Apa arti cinta (love), siapa yang berhak mengenal cinta? Apakah anak itu harus selalu patuh kepada orang tuanya?, Bagaimana caramu mengetahui bahwa aliran dan keyakinanmu itu benar-benar mengandung hikmah (kebenaran)?, Apa yang seharusnya dipelajari dan diajarkan, apa langkah terbaik untuk itu?, Mampukah kalian mengajarkan segala sesuatu?, Siapa yang lebih layak memimpin suatu negara, politikus, rakyat jelata, ksatria, cendekiawan atau sastrawan?. Apakah Tuhan itu benar-benar ada?, apa agama itu hanya guyonan yang didasarkan pada keimanan, serta kreasi dari para ulama, pendeta atau pastor!, sebenarnya siapa sih yang mengetahui hakekat?, filosof, seniman, dukun, para pakar iptek atau yang lain? dan apa hakekat itu sebenarnya!", dan sebagainya. Jelas bagimu, semakin kamu bertanya, semakin marak pertanyaan itu bersusulan.

Sebenarnya, filsafat bermula dari suatu perdebatan otak, perselisihan ide-ide, pertarungan antar teori dan benturan keyakinan (the Clash of Faith). Sampai detik ini, isu-isu seputar "Apakah iptek bisa menjanjikan kebahagiaan bagi manusia! Mengingat kehancuran yang terjadi di dunia tidak lepas dari peran iptek itu sendiri.

Dari penilaian ini, orang kecil akan menggerutu: "Mungkin kalo perang itu menggunakan panah dan bambu runcing, jumlah korban perang lebih sedikit, dibanding rudal, bom nuklir dan persenjataan canggih lainnya. Lalu buat apa iptek jika harus menumpahkan darah orang tak berdosa", apa memang demikian? Se-simple itukah permasalahnya!. Menjawab masalah ini, adalah jawaban yang didasari proses berfikir filosofis, mengikuti cara-cara bekerja seorang filosof. Perlu dicatat, filosof tidak berfilsafat dari "ketiadaan" atau kehampaan. Tapi, ia berfilsafat tentang kondisi zaman, berusaha andil dalam mempengaruhi, merubah dan mengelola zaman menjadi lebih baik. Dan, dia bermula dari ada...

Filosof bekerja berdasarkan pengalaman, kenyataan, dan semua yang mendukung terciptanya ilmu. Daya pikirnya berusaha menembus sekat-sekat yang menyelubugi gejala-gejala, serta kendala yang merintangi siapapun untuk maju, seakan dunia berada dalam otaknya.

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait