Materi filsafat itu sebenarnya tidak terbatas, awalnya mencakup "Segala yang Maujud", bahkan terlalu global mencakup kosmos; pokoknya asal sesuatu itu ada, pasti menjadi garapan filsafat. Seiring gerak zaman, semua itu berubah juga, dan akhirnya filsafat hanya mencakup 3 materi pokok. Inilah sample tiap bahasan:
1. Ontologi; letak metafika berkembang. Ilmu tentang Wujud, menganalisa wujud secara menyeluruh (universal), mengetahui ciri dan sifat, hukum materi dan gerak dalam wujud.
- Apakah wujud itu materi atau immateri, fisika atau metafisika, atau perpaduan keduanya?.
- Apa wujud itu statis (baku) atau dinamis (bergerak)?..
- Apa sifat-sifat wujud, mampukah kita memahaminya, dan bagaimana?,
- Apa hakekat itu!. "Hakekat adalah satu kesatuan pemikiran", kata George Willhem Friedrich Hegel. "Hakekat itu satu kesatuan pengalaman dan sensualisme", kata Francis Herbet Bradly. "Hakekat adalah kumpulan jiwa-jiwa (soul), disebut Monad", kata Gottfried Willhelm Leibniz. "Hakekat adalah bentukan ide-ide, termasuk ide tentang Tuhan", kata George Berkeley. "Akal dan Materi memiliki hakekat wujud tersendiri", kata Rene Descartes. Lalu, mana hekekat yang hakiki?.
2. Epistimologi; Ilmu tentang Pengetahuan; berusaha melacak sarana dan alat pengetahuan.
- Apa itu pengetahuan?.
- Bagaimana cara memperolehnya?,.
- Apa sumber pengetahuan?, akal, indera, inspirasi, atau lainnya. Sebagian menyatakan akal sumber pengetahuan, namun kata Immanuel Kant: "Kemampuan akal itu terbatas, sebagai media pengetahuan". Lalu..,
- Apakah kamu percaya terhadap inderamu saat bersentuhan dengan semesta, atau akalmu tatkala memikirkan sesuatu, atau khayalanmu ketika membayangkan sesuatu. Jika demikian, Pengetahuan Hakiki itu apa!.
- Mungkinkah mengetahui wujud ini secara menyeluruh, mencakup semua hakekat, atau terbatas pada apa yang nampak dan ditangkap indera?.
3. Aksiologi; Ilmu tentang Nilai; berbicara tentang ide-ide tertinggi, nilai-nilai mutlak guna mendeteksi inti nilai. Ilmu ini mencakup:
a. Nilai Kebaikan (etika), bertanya tentang:
- Apa kebaikan itu prinsip yang terpisah dari wujudmu?,
- Apakah ia ide tertinggi yang menjadi cita manusia atau sekedar nama hasil kreasi manusia untuk menyebut sifat-sifat mulia, yang atas dasar perasaan diri atau masyarakat?,
- Apa maksud perbuatan baik itu?,
- Apa standar hak dan kewajiban bagi seseorang?, kenapa kamu harus memaksa diri dan patuh untuk menjalankan perbuatan yang menurutmu benar!
- Baikkah kita, jika melanggar aturan itu demi kepentingan orang lain!.
b. Nilai Keindahan (estetika), bertanya tentang:
- Apa keindahan itu?, prinsip yang terpisah dari wujud kita, atau proses penyematan alam yang berwarna!,
- Makna keindahan, apa sebuah lukisan bisa dikatakan indah atau tidak?,
- Apa yang sebenarnya ingin kita nyatakan lewat perasaan, penilaian atau kekaguman?
- Jika kita berasumsi bahwa keindahan adalah prinsip yang tidak terpisah dari diri, atau pilar wujud yang inti, lalu apa kesimpulan yang akan diambil berkaitan dengan alam yang terkandung keindahan sebagai prinsip yang terpisah?.
- Apa hubungan indah dan seni?.
c. Nilai Kebenaran (logika), mempelajari kaidah-kaidah berpikir yang benar.
Selain itu, juga terdapat materi sekunder bagi filsafat, perkembangan dari materi dasar dan pokok yang 3 di atas. Misalnya,
- Filsafat Hukum (Politic), berbicara tentang kaitan hukum alam dan hukum positif, dasar filosofis tanggung jawab (hak dan kewajiban). Apa ia menjadi kaidah umum yang melandasi terciptanya aturan hukum, serta kaitannya dengan ide-ide keadilan umum, ataukah tidak terkait dengan tatanan tertentu. Bertanya tentang:
- Apa asal usul masyarakat dan tujuan terbentuknya masyarakat?.
- Apa prinsip yang menghubungkan anggota masyarakat dengan klas-klasnya?.
- Apa dasar keputusan masyarakat terhadap nilai-nilai politik?.
- Apa saja nuasa relatif bagi sebuah pemerintahan?.
- Apa bentuk pemerintahan yang baik?.
- Apa hubungan yang mengatur antara individu dengan masyarakat?.
- Apakah individu memiliki hak-hak yang seharusnya dihormati dalam sebuah tatanan?.
- Jika ada darimana hak-hak itu tumbuh?.
- Filsafat Agama (Religion); dasar yang menopang konsep-konsep agama secara umum, tidak terpaku pada agama tertentu, landasan keyakinan terhadap Tuhan dan doktrin-doktrin agama lain melalu dalil argumentatif-rasional dan alasan logis. Bertanya tentang:
- Apa itu agama, sifat dan karakternya?.
- Apa agama itu penting bagi manusia, terutama kehidupan?,
- Apa agama adalah kreasi Tuhan atau manusia?,
- Mengapa harus beragama, apa tanpa agama manusia tidak bahagia?.
- Apa hukum yang mengatur relasi Tuhan dan manusia?.
- Ritual keagamanaan, siapa yang mengatur dan haruskah dipatuhi?.
- Dan sebagainya
Filsafat berusaha mengaktifkan akal secara baik, menuntuntnya agar sampai pada tingkat keagungan, karena akal diolah untuk mengenal, mempelajari dan menghayati kebesaran alam, terbebaskan dari ruang sempit tujuan dan cita-cita yang keliru, ruang ini bagai penjara yang memborgol keinginan bebas dan merdeka, menanggalkan sikap fanatisme yang bercokol dari sifat egois tak terkendali, akal pikiran terus menanjak hingga mencapai tingkat tertinggi melampaui ego, secara praktis.
Akal tak terhenti menggali rahasia alam semesta. Adakah dunia lain dibalik dunia materi ini?, jika ada, apa sifat alam itu?, lalu bagaimana kedua alam itu melakukan kontak dan beriteraksi?. Tatkala filosof mempertanyakan akal dan jiwa, sambil mengoreksi diri: "Dimana akal itu tersimpan dalam kerangka tubuh manusia?, apa akal dianggap sebagai gambaran tertentu alam ini?, mengingat, kamu telah mengakui alam tertinggi, akan tetapi muncul satu partikel terkecil dari makhluk hidup seperti amuba. Tatkala menengok perjalanan masa silam yang disebut sejarah, apakah sejarah adalah sebuah kumpulan (accumulation) peristiwa yang mengikuti sistem dan pola "accidental" (kebetulan) dalam alur perjalanan dunia?. Peradaban mulai berkembang, tumbuh dan menyebar, lalu menipis dan sirna tanpa ada aturan hukum yang mengikat perubahan itu, seperti itukah?, atau ada hukum, dan rencana yang mengatur, serta mengendalikan alam ini?.
Jika kamu mengikuti pendapat terakhir, mampukah kamu memahami rencana itu, selanjutnya kamu bisa membantu terwujudnya rencana tepat sesuai rancangan. Di alam seni, akal diperas dan diajak bicara tentang, apa sumber yang tertanam pada diri kita, sumber yang berefek samar, dan mampu mencipta rasa seni dan indah?, apa petunjuk keindahan seni pada diri tiap manusia, apa keindahan hanyalah sebutan, dan nama yang dipakai untuk mengekspresikan segala yang ditemui?, atau pintu untuk mengintai dunia baru yang unik, terpantul dari cahaya hakekat?.
Setiap makhluk hidup berkelakuan sebagaimana mestinya, hanya manusia yang bertindak menurut hak dan kewajiban dalam kondisi tertentu... lalu darimana kekuatan itu datang, yang kadangkala ditentang dan menekan segala keinginan?, darimana kepatuhan itu lahir yang menjadikan kamu harus melaksanakan apa yang diyakini benar?, apa arti kebaikan? Apa sesuatu yang membuat kamu bahagia?, atau hanya prinsip yang tertanam di dalam segala yang ada serta bagian dari alam?, jika seperti itu, apakah di dalam akar wujud ini tertanam sesuatu yang disebut moral, etika, susila?, apa hukum yang mengatur tata susila, dan moral?, Apapun jawabannya, jika muncul ide bahwa ada hukum etika di sana, maka akan lahir pertanyaan, apakah akal yang membuat rancangan hukum tersebut?, lalu apa berarti wujud ini adalah produk akal-akal manusia...?.
Apapun yang terbersit dalam benakmu, perkaya diri dengan tanya-tanya menggelitik, tapi mampu menghasilkan jawaban yang unik dan bermutu. Tanya-tanya itu adalah modal untuk mengasah akal pikiran, mengembangkan potensi akal ke arah yang lebih positif.