Filsafat memiliki corak tersendiri, gaya bahasa dan ulasan yang berbeda dari setiap filosof. Kebebasan berpikir, memilih kata, bahasa dan mencipta simbol-simbol mendasari setiap poin-poin ajaran filsafat yang teramu dalam karya filosof. Kala itu, kamu harus mencatat baik-baik dan mengingat, bahwa kamu memerlukan:
- Kecermatan dalam menyeleksi (memilih dan memilah) materi yang harus dibaca dan dipelajari. Mendahulukan bab-bab utama dan inti, diusahakan masih dalam satu tema.
Artinya, tidak asal memilih, melalui strata-strata tertentu yang tidak bisa diindahkan, sedikit lengah saja, pemusatan pikiran bisa membuyar, apalagi jika diiringi dengan melamun. Setiap kalimat dan paragraf terkandung kata kunci tersendiri, tapi kadangkala diiringi dengan penjelasan yang mendetail dan panjang lebar, sehingga seorang pemula seringkali terkecoh dan keluar dari inti dan kunci materi. Memang, sekilas, filsafat terkesan bertele-tele, tidak langsung menjurus pada "apa yang ingin dikata", cenderung memilih jalan tikus yang berputar-putar sebelum mengarah pada "apa yang dimau". Ibarat rute, filosof tidak hanya mengenal jalan resmi yang biasa dilewati orang awam, tapi cenderung memahami setiap latar jalan itu, mencermati sisi-sisi jalan, pada titik tertentu ia bisa menemukan jalan pintas yang lebih cepat atau jalan putar dan segala yang ditemui selalu dipikirkan, jika menemui kejanggalan maka ia terangsang untuk menguak rahasia dibalik semua kejadian di tengah perjalanan, itulah petualangan di dunia filsafat. Jika kamu tidak cermat memahami kehendak filosof dalam filsafatnya, kamu bisa terdampar di pulau tak berpenghuni, artinya terasa hampa tak ber-ide. Orang sering berkata: "Lho, orang ini maunya apa", atau "Orang ini, dari tadi mutar-muter, sebenarnya apa yang dicari"; untuk menjawab itu, kamu memerlukan kecermatan.
- Kemampuan menjangkau materi-materi yang harus didahulukan diantara bab-bab. Tidak sedikit kata-kata yang menyela-nyelai tiap kata dan kalimat, lebih menguras otak jika kata-kata sela itu panjang, seperti pengulangan oleh penulis.
Kamu harus bisa membedakan, kata inti dengan kata penjelasan. Kata-kata inti, sejauh mungkin jangan sampai hilang dari ingatan, dan untuk kata penjelasan, kamu bisa menyingkirkan sementara. Misalnya, seringkali, seorang pemula melupakan kata inti dan penjelasan di bab I disaat ia sedang membaca bab III, padahal bab-bab itu bisa saling berkaitan. Ia merasa kerepotan jika lupa terhadap kata inti ini, jadi terpaksa harus membuka lembar-lembar di bab sebelumnya hanya untuk mencari kata kunci tersebut. Jika kamu bisa mengingat secara baik, maka kamu akan tahu persis mana kata-kata yang berkaitan dan yang tidak. Dari sini, kamu bisa memetakan pola pikir filosof dalam bukunya, sekaligus mengerti kata dan kalimat yang bisa didahulukan dan mudah dicerna.
- Menggarisbawahi kalimat tertentu jika ternyata susah dipahami. Jikalau mampu, kamu bisa mengganti dengan gaya bahasa dan susunan kalimat yang lebih mudah ditangkap.
Dalam tahapan ini, kreativitas seseorang sangat diperlukan, kamu bisa mencatat atau menandai kalimat tertentu yang dirasa sulit, kelak kalimat itu bisa dipelajari ulang. Tidak jarang, seorang filosof menggunakan kata atau kalimat yang penjelasannya ditulis pada bab-bab berikutnya atau sebaliknya. Disisi lain, kesulitan bisa dibantu dengan merujuk pada kamus-kamus filsafat. Nanti juga akan muncul kendala lain, misalnya ketika kamus-kamus itu tidak selaras dengan pemahaman kata dalam sebuah karya nyata filsafat. Ada 2 alasan, pertama, tidak semua penulis kamus tahu persis kemauan kata dan istilah filsafat Dan kedua, satu istilah memiliki beragam makna, perubahan itu terjadi pada tangan-tangan para pengikut dari seorang pencetus aliran filsafat. Justru itu, kamu harus tetap berusaha dan tidak menghilangkan kata atau istilah itu dari benakmu. Produktifitasmu juga diperlukan tatkala ingin menciptakan kata dan bahasa sendiri, sebagai pengganti kata dan istilah itu.
- Catatan, atau resum cerdas sebagai patokan dan pedoman singkat, untuk memastikan bahwa kamu benar-benar paham serta menguasai materi yang kamu baca.
Hasil bacaan dikumpulkan dan diramu ulang, lalu membuat putusan-putusan kesimpulan. Bisa dengan menggunakan ungkapan sendiri atau menyalin kata-kata inti secara terpisah. Kelak, putusan itu akan menjadi sebuah referensi, dikala membutuhkan.
Setelah mampu menanamkan pada diri dan benakmu terhadap poin-poin diatas, kamu bisa mulai membaca dan membaca. Jangan tergesa-gesa, konsentrasi dan tenang, kendalikan emosi diri dan hilangkan perasaan was-was, ingat bahwa "Kamu Bisa".
Sebagai langkah pengembangan diri, baik mental atapun intelektual, kamu bisa mengasah kecerdasan otakmu dengan cara memunculkan perbincangan antara akal pikirmu dengan akal pikir filosof dalam karyanya. Untuk itu kamu harus berusaha mencapai target-target berikut:
- Mengetahui maksud dan konsepsi filosof.
Mencari "apa maunya" si filosof. Muatan ide dalam rangkaian kata-kata yang dimunculkan filosof harus diketahui secara jelas dan benar. Jangan salah persepsi terhadap konsep filsafatnya, sebab akan menentukan penilaianmu terhadap teori dan filosofinya. Salah persepsi dapat berakibat fatal, selain keluar dari framework, atau lingkar pemikiran, juga berarti "berpikir tidak di arealnya", artinya salah memahami orang, dan kesalahan ini harus dihindari. Kenyataan, seringkali terjadi debat kusir, diskusi tak berujung atau berpikir tak berpangkal yang dialami oleh para debator-debator itu karena salah persepsi, mereka tidak akan menemukan kata sepakat dan akan terus terkurung dalam lingkaran salah paham. Makanya, sedini mungkin, kamu harus memahami secara benar setiap konsep-konsep filsafat menurut penulisnya. Kadangkala, mereka terseret dalam sikap "Yang Seharusnya", artinya tatkala membaca filsafat selalu dikendalikan oleh pikiran "Filosof itu harus begini, dan begitu", atau "Filsafat itu keliru, karena tidak bersentuhan, sama sekali, dengan dasar pemikiran yang orisinil, padahal mereka harus seperti ini, atau seperti itu". Nah, pernyataan ini salah total, tidak bisa digabungkan 2 dimensi yang berbeda, menyatukan 2 hal yang bertentangan. Salah benarnya sebuah pemikiran, justru menunjukkan pemikiran asli filosof itu dalam karyanya. Keliru dan tidaknya, itu pendapat anda, bukan mereka.
- Menemukan titik temu, keterkaitan antar bagian dalam buku, penjelasan tiap kalimat dan paragraf dari awal sampai akhir hingga dapat menguak gagasan umum dibalik tema.
Ciri khas kajian filsafat adalah analisa yang teratur dan rapi. Keteraturan ini yang mempertemukan tiap-tiap gagasan dalam tulisan, memperkaitkan satu tema ke tema yang lain lalu membentuk kata kunci. Salah satu kerja pikiranmu, menemukan kata kunci itu. Jika kamu telah berhasil melakukan itu, selanjutnya kamu bisa merangkai kata-kata kunci menjadi semacam kerangka, sebagai bentuk dasar pemikiran. Setiap filosof memiliki corak, kerangka pemikiran dan bentukan gagasan yang tidak seragam, menyesuaikan keahlian dan kecenderungan si filosof, bisa berbentuk syair, pernyataan, tanya jawab, ulasan atau yang lain. Seringkali, mereka melakukan puitisasi bahasa, memunculkan simbol-simbol dan ibarat, bahkan bisa berbentuk cerita atau dongeng. Dari ketidakseragaman ini, kamu ditantang untuk bisa menelusuri titik temu dalam kisah atau dongeng filsafat. Dan melucuti tiap kata, guna mengupas inti teori filsafat mereka.
- Membuat keputusan pribadi atau sikap filosofis, baik pro ataupun kontra, sebagai langkah konstruktif dalam upaya mematangkan dan mempertajam intelgensi. Proses ini sangat penting, terutama ketika hendak beradaptasi dengan kerangka umum (framework) pemikiran seseorang.
Kritis (Naqd) dan analitis (Tahlil), sifat yang tidak boleh hilang dari benak dan kerja pecinta filsafat. Kritis berarti mendalami atau mengkaji lebih teliti, bertujuan menjelaskan nilai plus dan minus sebuah pemikiran, lebih mandiri, tidak berpihak pada teori atau konsep manapun, tidak menerima suatu ide secara mentah atau "ala kadar"nya, tapi dikupas lebih lanjut, dan lebih mengarah pada inti bukan kulit luar sebuah gagasan. Juga, analitis yang berarti memperjelas muatan ide yang terkandung dalam setiap gagasan dan teori-teori yang kompleks, atau menguliti karya filsafat, menguraikan sampai pada titik (partikel) terkecil dari sebuah ide. Disaat kamu melakukan itu, akan berkecamuk pergulatan pendapat, pertarungan ide, debat cerdas yang terjadi di dalam alam pikirmu. Dan kamu dituntut untuk mengelola filsafat itu secara kritis dan analitis, menyerap intisari makna yang terkandung dalam tiap kalimat. Selanjutnya, membentuk putusan-putusan filosofis, secara mandiri, mengikuti tata cara metode berfilsafat.
- Pengelolaan akal pikir, mefungsikan daya kerja otak sampai mampu menciptakan gagasan dan teori sendiri, semampunya.
Poin ini sangat ditekankan bagi pemula, tidak cukup dengan membaca tetapi membebaskan akal pikiran berjalan dan terbang ke arah yang dimaui. Mengelola akal dan mengaktifkan daya kerja otak, bisa dikatakan, merupakan usaha terberat dalam setiap kajian filsafat, namun sejujurnya sangat menarik dan mengasyikkan. Otak itu ibarat mesin cetak, ia mampu memproses kertas kosong menjadi kertas penuh tulisan, dengan corak dan format yang beragam. Penguasaan ini tidak dilakukan sekaligus, tetapi bekerja melalui tahapan tertentu, dari memahami akar konsep, melebar hingga menyentuh konsep-konsep yang bersifat makro, dan lebih luas.
- Memastikan benar dan tidaknya isi materi yang dibaca, dan ini membutuhkan tingkat konsentrasi serta keseriusan yang tinggi.
Evaluasi dan penilaian terhadap isi materi yang tertuang dalam rangkaian teori filsafat. Lebih berhati-hati dalam menjalani proses ini, salah menilai sebuah konsep, bisa mempengaruhi nasib ajaran filsafat itu sendiri. Artinya, jujur dalam melakukan penilaian, tidak tergelincir dalam gagasan atau ide peribadi. Pada tahapan ini, kadangkala nilai subyektifitas pembaca sulit dikendalikan, apalagi dihilangkan. Terutama, jika —sebelumnya— ia telah memiliki keyakinan yang kuat atas konsep yang sedang dikaji, bertepatan dengan itu, ia sedang bersikap tidak setuju dan kotra dengan masalah tersebut. Di sini, ia sulit melepas keyakinan lama yang sudah mengakar dan cenderung menganggap konsep filsafat yang dikaji salah total. Jelas ini adalah keterpihakan, padahal sejernih mungkin akal pikiran terbebas dari subyektifitas diri, lebih obyektif dalam menilai. Pada kenyataan ini, benar dan salahnya suatu penilaian akan terlahir dari emosi diri yang dirangsang oleh keyakinan lama, dan tidak mengaca pada fakta bahwa ia sedang mempelajari olah pikir dan cara pandang orang lain, yakni filosof, bukan memaksakan diri memasukkan ide-ide peribadi ke dalam pikiran orang lain, apalagi mencampuraduk teori-teori itu sehingga tercipta sebuah konsep yang tidak orisinil lagi. Seringkali orang berkata, "Plato menyatakan ini....", atau "Aristoteles menganut ajaran itu..", padahal yang ini dan itu yang dimaksud tidak termaktub dalam karya mereka, baik Plato ataupun Aristoteles.
- Masa membaca, bagi pemula, tidak lebih dari 1/2 jam, maksimal 3/4 jam dalam sekali baca. Sebab di akhir bacaan, volume konsentrasi semakin meningkat, pengumpulan informasi dan data dalam otak bertumpuk-tumpuk, maka sedikit lengah saja, perhatian terhadap materi itu menjadi buyar. Jika dipaksakan, akan muncul rasa penat dan bosan yang kelak memunculkan rasa putus asa, disini kamu mulai berniat menghentikan aktifitas membaca untuk selamanya, karena merasa kapok atau jera, padahal kamu telah memiliki 5-10% dasar memahami filsafat.
Jujur saja, proses menggerakkan akal untuk berfikir, memeras otak untuk bisa menggali segala sesuatu, merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan, 1/2 jam berpikir serius sama dengan lari beratus-ratus meter. Bedanya, dalam kinerja berpikir, yang terperas adalah otak, memutar mesin pada akal untuk terus bekerja keras memompa sendi-sendi otot, menjadi panas yang menelusuri tiap saluran darah dalam tubuh, jika dalam lari, otot-otot dipanaskan oleh gerak-gerak indera, seperti tangan dan kaki. Akal dalam otak bagaikan mesin, dan suku cadangnya adalah panca indera. Untuk menstabilkan tubuh ini, kamu harus menjaga keteraturan suhu, suku cadang itu jika rusak masih bisa diperbaiki dan diganti, tapi jika mesin yang rusak, susah mencari penggantinya. Jika akal ini seperti mesin sepada motor, masih bisa dicari di pabrik mesin, tapi akal dalam otak susah dicari, hanya satu jatah tiap kepala untuk seumur hidup. Tenaga yang dikeluarkan tatkala melakukan olah akal jauh lebih besar dibanding olah otot. Maka itu, jaga kestabilan akal ini dengan tetap mengatur volume sewajarnya, jika tidak mampu melakukan selama 1/2 jam, bisa diturunkan menjadi 1/4 jam, namun tetap menjaga konsentrasi. Apabila otak telah memanas, jangan diteruskan, apalagi dipaksakan, beristirahat sejenak, menyegarkan kembali (refresh) serta mengendorkan otot-otot yang tegang akibat kerja keras pikiran kamu, sambil pelan-pelan mengingat apa yang telah dibaca.
Cobalah menghindari diri dari hal-hal yang menganggu proses kerja ini. Jalan filsafat semakin rumit jika tidak dilakukan secara waspada, seringkali orang terbawa arus kesana sini, tidak komitmen pada niat awal belajar filsafat, lebih tragis jika tidak berpijak dari penopang yang mapan. Keputusan yang diambil harus dilatari oleh argumentasi yang kuat, baik setuju ataupun tidak, sebuah bukti diharapkan bisa ditelorkan disertai alasan-alasannya.
Diantara kesalahan yang seringkali terjadi, bahkan kurang diwaspadai oleh mereka yang ingin belajar filsafat, dan tidak jarang mereka ini terancam kegagalan. Orang seperti ini lebih berkutat pada masalah sendiri, artinya problem itu muncul dari dirinya sendiri dengan berusaha mencari pemecahan dari luar, jelas ini tidak solutif, hanya kesadaran yang bisa merangsang mereka untuk bangkit dan mengakui kesalahan diri, lalu memilih jalan baru ke arah kemajuan. Kesalahan itu, adalah:
- Keras, kaku, menutup diri dari pendapat lain, tidak mau mendengarkan kata orang selain dirinya. Tipe orang yang tak tahu malu, merasa diri paling benar, hanya dia sumber kebenaran, terperdaya oleh kecongkakan, menganggap diri seperti burung merak yang berjalan melambai-lambaikan sayap indahnya, padahal ia lupa telah kehilangan bagian terpenting dari keindahan itu, yaitu harga diri dan penilaian baik. Lebih bagus lagi, jangan suka berceloteh secara berlebihan, akan membuang waktu percuma, dan akan terasa sia-sia apa yang kamu kerjakan. Kamu tidak akan mendapat apa pun selain dirimu yang serba kekurangan, tidak ada nilai plus dari sikap kaku dan keras hati. "Perhatikan dirimu baik-baik!", hanya itu yang bisa kamu lakukan, dan kamu pun akan merasa tenang sampai pada tujuan. Semua yang kamu kerjakan terasa ringan, mudah dan santai.
- Jiwa yang terbelenggu, terkurung dalam jeruji kenaifan, jangan larut dalam program yang telah dirancang. Perencanaan dan program itu memang penting, tapi jangan memberlakukan seperti Tuhan, lalu dianggap suci dan dikultuskan, sehingga sekali saja terlalaikan, ia merasa menyesal berkepanjangan. Jangan berpikir seperti ini, kewajiban tidak hanya belajar, akal ini juga memiliki keterbatasan. Di sisi lain, komitmen ya komitmen, tapi kamu harus membagi waktu secukupnya, jika tidak, program itu menjadi sekedar guyonan saja. Kerjakan aktifitasmu secara seimbang antara kelenturan (flexible) dan kedisiplinan (discipline).
- Over, berlebihan atau melewati batas kewajaran. Memang, suatu saat, citra rasa baca tiba-tiba meningkat, dan pada titik tertentu membaca filsafat tidak lagi membosankan, tapi mengasyikkan, akibatnya ia tidak ingin berhenti. Terutama, jika telah menemukan kunci-kunci filsafat sehingga bisa bercengkrama dengan teori dan ajaran. Jujur, orang ini tidak salah, dan jauh lebih baik dibanding orang yang tidak mau berusaha ataupun mencoba. Tapi perlu diingat, tubuh ini memiliki hak untuk tetap sehat, rencana yang telah dirancang bukan angka mati yang tidak bisa dirubah dan diganti. Semua perlu istirahat, diusahakan kerja akal dan pikiran diistirahatkan secara total selama 5-10 menit, sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
- Bahaya kegagalan awal. Misalnya, tidak mampu memahami sebuah istilah atau konsep, padahal ia baru saja memulai belajar filsafat. Dan, dalam dirinya akan berkecamuk perasaan tak menentu antara diteruskan atau tidak, orang bisa merasa jera dan kapok, lalu meninggalkan kegiatan itu secara total, atau ia akan memilih berpikir positif bahwa kegagalan itu akan membawa ke arah kesuksesan, menanamkan keyakinan bahwa manusia tidak selamanya gagal. Kala itu, kamu harus lebih berhati-hati, awali langkahmu pelan-pelan, semampunya, tapi tetap teratur. Ketika kamu merencanakan sesuatu, kerjakan saja, walaupun kamu merasa terganggu, bulatkan tekad dan anggap gangguan itu, apapun bentuknya, kelak akan hilang. Semangat ini akan mempengaruhi perkembangan jiwa dan mentalmu, berupa peningkatan rasa percaya diri dan merasa diri mampu.
Mulailah mengerjakan apa yang kamu suka, bersumber dari hati nurani dan skill. Jika kamu merasa apa yang kamu kerjakan tidak sesuai dengan bidangmu, lebih baik ditinggalkan. Bahkan, belajar filsafat tidak bisa dipaksakan, tidak perlu didalami layaknya seorang pakar jika filsafat bukan skill-nya, tapi perlu diketahui sebagai informasi.