Mampukah seseorang merubah cara pandang, gaya pikir, atau mengatur arah kerja otak pada dirinya!. Biasanya, orang ngotot bahwa tak seorang pun mampu merubah watak atau gaya hidup seseorang, padahal kalau dia tahu, orang bisa merubah dengan mengontrol tata cara berpikir. Bukankah, di usia lanjut, seseorang mudah sekali berubah?, lalu tidak bisakah seseorang berubah di usia muda?. Seorang kakek baru menyadari kelakuan diri setelah mengalami berbagai pengalaman hidup, pahit manis kehidupan sudah dijalani, baru ia mau mengaca diri setelah ketidakberdayaan menguasai akal dan fisiknya. Mungkin, perilaku si kakek ini bisa dikata agak terlambat, ia tidak bisa lagi merubah peristiwa di masa lalu, hanya harapan dan ratapan atas nasib saja. Dan kamu jangan terlambat...
James Allan berkata, "(Cobalah!), biarkan manusia terlepas di luar arah pikirannya, niscaya kamu akan takjub, ternyata orang itu akan cepat berubah-ubah dalam berbagai peristiwa". Kuasa Tuhan telah menciptakan dan membentuk kodrat itu kembali ke arah kuasa-Nya, terpatrikan dalam diri, bahkan diri kita itulah bukti kuasa Tuhan!. Dan semua yang dilakukan dan dikreasikan seseorang merupakan akibat langsung dari apa yang berkecamuk dalam pikiran serta bentukan akal. Seperti, berdiri di atas kaki sendiri, giat dan menghasilkan usaha tertentu, semua itu bekerja atas dorongan pikiran. Juga rasa sakit yang dirasa, derita dan luka, semua itu berkat refleksi akal pikiran.
Belajar mengendalikan pikiran dan kemauan jauh lebih baik daripada mengumbarnya, dan itu sangat mungkin. Bahkan kamu sangat dituntut bisa mengontrol alat berpikir ini, yakni akal. Manusia mengeluh karena tak mampu konsentrasi atau memusatkan pikiran, mereka tidak arif atas sikap tersebut padahal mereka bisa jika mau mencoba dan berusaha. Tidak memusatkan pikiran, dengan kata lain, tidak mampu memerintah akalmu, dan memastikan bahwa akal itu pasti mematuhimu, jika akal ini dibiarkan lepas tak terkendali maka hidupmu akan terasa sulit.
Mengontrol pikiran merupakan unsur pertama dalam perwujudan diri secara total, kamu akan tahu siapa dirimu, apa maumu, dan apa yang kamu mampu. Karena itu, langkah awal yang seharusnya dilakukan adalah belajar mengendalikan akal dan kemauan berpikir. Arnold Bennett berkata, "... demi memperoleh kemahiran ini, kita bisa manfaatkan waktu sebaik-baiknya, semenjak keluar rumah, untuk keperluan apapun, sampai kembali lagi. Mungkin kamu akan protes, dengan nada kaget, "Apa!, apakah aku harus menjaga, mengendalikan, serta mempertahakankan jalan pikiranku di jalanan, plaza, mall-mall besar, di kerumunan orang berjejalan!!. "Persis, lanjut Bennet, tidak ada yang lebih sederhana dari semua itu. Kamu tidak membutuhkan apa-apa, tidak buku panduan atau yang lain, tapi melakukan itu sama sekali tidak mudah. Ketika kamu keluar rumah, pusatkan pikiranmu pada satu hal (masalah apa saja, itu tidak penting), jangan beranjak lebih dari 10 langkah sebelum akalmu teralihkan dari satu hal ke hal yang lain, secara natural perubahan pandang mata akan mengalihkan perhatian pada hal lain. Lalu pikirkan dan munculkan kembali hal yang baru saja dipikirkan, cobalah!. Mungkin, sebelum sampai ke tempat tujuan, kamu akan merasa bahwa usaha mengingat, lalu hilang lagi, mengulang ingatan, lalu hilang lagi, kalau dihitung kira-kira mencapai puluhan kali sesuai jarak rumah dengan tujuan, teruskan saja, lakukan berkali-kali.
Bodoh sekali, jika kamu berkata tidak mampu melakukan pemusatan itu, mengendalikan akal agar tetap konsentrasi berpikir tentang satu masalah. Bukankah kamu bisa mengingat peristiwa di pagi hari, dimana pagi itu kamu gelisah akibat masalah yang meminta sebuah penyelesaian secepatnya, sebelum kamu sampai di rumah?!. Bagaimana kamu mampu menjaga akal agar tetap konsentrasi pada satu masalah dengan menjaga pikiran tidak buyar hingga sampai di rumah?!. Hal itu menunjukan bahwa kamu bisa dan mampu mengendalikan akal pikiranmu.
Dengan melatih pemusatan pikiran, atau konsentrasi secara teratur, kamu akan mampu mengendalikan akalmu setiap menit dan jam dalam hidup sehari-hari. Misalnya, kamu sedang naik bus, berjalan-jalan dengan keluarga di sore hari, bertepatan dengan itu kamu sedang mencari solusi bisnis atau perkara lain, sungguh kamu akan menikmati keanehan perilakumu itu, terasa unik tapi menyenangkan. Dikala duduk-duduk di trotoar, halte, taman, orang tidak akan mengira bahwa kamu sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugas penting dalam hidupmu. Mungkin, orang bodoh akan mentertawakanmu jika tahu apa yang sedang kamu lakukan. Berusahalah!, tidak penting apa bentuk masalah itu selama kamu bisa memusatkan pikiran dengan baik.
Cara ini bisa digunakan ketika belajar membaca filsafat. Pilihlah satu buku dengan tema tertentu, bacalah satu atau dua bab terlebih dahulu, jangan terburu untuk melahap satu buku sekaligus. Hanya saja, yang perlu kamu perhatikan adalah mengatur tempo pemusatan pikiran. Jarak antara memunculkan ulang ingatan, bisa diselah-selahi selama 1 jam, 2 jam dan seterusnya. Misalnya, setelah kamu membaca bab pertama, cobalah melakukan apa saja, entah itu istirahat atau melakukan aktifitas lain, selama 1 jam atau 2 jam, lalu cobalah mengingat kembali bacaanmu dan daya tangkap pikiranmu terhadap materi yang telah kamu baca sejam yang lalu, kamu akan melihat hasilnya. Lakukan terus dengan tetap menjaga tempo bacaan dan pemusatan pikiran. Dan suatu saat, kamu bisa membaca dimana dan kapan saja dengan tidak merasa terganggu oleh urusan orang lain, kamu bisa mengendalikan dan mengatur jalan pikiran sesuai kemauan, memerintahkan akal untuk berpikir tentang satu hal tertentu.
Letakkan akal pikir di hadapanmu, biarkan akal ini berjalan atas refleksi sinyal darimu, dan lihat bagaimana ia akan menyelesaikan masalah yang kamu hadapi.