Mendalami filsafat tidak bisa dilakukan dari ruang hampa, seseorang harus mempersiapkan diri bagaiaman menghadapi 'masalah filosofis' dan segera memulai belajar bagaimana menghayati terma dan tema kajian filsafat, bahkan sedikit belajar membaca khazanah filsafat lebih serius, karena para filosof ketika menuangkan ide dan gagasan dalam alam pikir di atas kertas, sebenarnya mereka telah dan akan melakukan banyak hal secara serius. Marilah kita mulai dengan 'Menghayati Filsafat'
Penghayatan Filsafat
Latihan memusatkan pikiran, sebaiknya dilakukan minimal 1/2 jam dalam sehari, merupakan latihan awal saja. Dan ketika telah mencapai pengendalian pikiran pada hal-hal yang lebih rumit, mampu mempergunakan akal secara baik, maka jika seseorang tidak memiliki kendali kuat dalam alam pikirnya serta tidak mampu menundukkan akal itu semaksimalnya, jelas ia akan membutuhkan waktu lama untuk melatih konsentrasi pikiran ini.
Latihan dasar, sebenarnya, bukan pada belajar ilmu-ilmu seperti sastra, sejarah, politik atau ilmu lainnya, tapi belajar ilmu jiwa, artinya mengasah jiwa dan mental. Arnold Bennet mengajukan contoh, "Ketauhilah dirimu (Khow Thyself), Sobat!", katanya. "Pernyataan ini, tidak asing di telinga kita, siapapun juga mengetahui betapa bernilai kata-kata ini. Tapi sedikit sekali orang yang mememahami kata-kata ini secara tepat. Saya yakin sekali, hal yang seringkali dilupakan, bahkan tidak terbersit dalam benak kita, dan dalam prakteknya yang keliru, adalah sikap menjauh dari "Renungan (Reflection) atau Penghayatan", lanjutnya.
Seseorang telah kehilangan citra rasa diri terhadap sebuah penghayatan, nilai terpenting yang seharusnya dipertahankan, karena alasan inilah banyak orang tidak mengenal dirinya, tidak memahami konsep "Know Thyself". Arnold Bennett mencoba memberi penjelasan, "Kita tidak mau menghayati, artinya tidak merenungkan tema-tema pokok yang sangat penting, tidak merenungkan arti kebahagiaan kita, kemana akan melangkah, apa yang kita dapat dari kehidupan ini, sejauhmana pikiran kita mampu menentukan perilaku. Terakhir, kita tidak merenungkan hubungan prinsip dengan perilaku kita. Walau demikian, kamu masih saja ngotot kalau kebahagiaan itu ada!. Apa kamu mendapatkannya?. Jangan-jangan kamu tidak memperoleh kebahagiaan itu?, jangan-jangan kamu sampai pada keyakinan bahwa kebahagiaan itu mustahil?. Tetapi, menurut saya, ada orang yang telah mendapatkan kebahagian tersebut. Mereka meraihnya dengan berpikir bahwa kebahagiaan tidak bersumber dari kenikmatan jasmani, tapi dari memberdayakan akal pikiran serta menyelaraskan perilaku dengan prinsip. Saya yakin kamu tidak berani memungkirinya, jika kamu telah mengakui semua itu, dan kamu masih tidak meluangkan waktu untuk mengoreksi dan mempelajari pikiran, prinsip dan perilakumu, maka sikapmu sama sekali salah, karena tidak mau menjalankan satu hal penting dalam hari-harimu untuk mencapai tujuan itu, yakni kebahagiaan".
Belajar berpikir logis memiliki pengaruh besar dalam kehidupanmu, lain dengan apa yang dibayangkan. Seharusnya kamu berpikir logis, namun dalam kenyataan kamu seringkali berperilaku atau berbicara atas nama perasaan (instink) lebih besar porsinya dibanding bersikap logis. Setiapkali diucapkan bahwa kamu mampu dan harus belajar menghayati, itu artinya kamu bertindak atas kehendak akal pikiran, atau sikap logis. Misalnya, suatu saat kamu cekcok dengan seorang pelayan restoran, karena masakan yang disuguhkan ternyata sedikit gosong.
Coba gunakan akal pikiranmu, dan tanyakan, maka akal itu akan menjawab: "Bukan pelayan itu yang memasak hidangan, kamu tidak akan mendapat apa yang kamu inginkan dengan ribut-ribut dan cekcok, jelas harga dirimu akan hancur, martabatmu akan rusak, kamu akan dipandang bodoh dimata orang yang berpikiran sehat. Dan hasil diskusi antara diri dan pikiranmu, dengan menghayati dan merenungkan segala perilaku, adalah kamu akan berusaha santai dan memperlakukan pelayan itu sebagaimana kamu bersikap terhadap dirimu, menjaga kesopanan, tenang, lapang dada, meminta pelayan itu mengganti hidangan seperti yang dipesankan."
Waktu yang tepat melakukan suatu penghayatan adalah di sore hari, seusai melakukan segala aktifitas sehari-hari, merenungkan apa yang telah lewat. Penghayatan ini akan berpengaruh besar dan mendalam dalam kehidupan.
Belajar Membaca Serius
Sebelum memulai sebuah aktifitas, terutama membaca filsafat. Tanamkan semangat diri, tumbuhkan sugesti bahwa apa yang kamu lakukan akan bermanfaat bagi dirimu. Hal ini sangat penting untuk merangsang daya bacamu terhadap materi yang dikaji. 2 sugesti yang harus dicatat baik-baik:
- Tentukan arah, tema atau bidang tertentu sesuai keseriusanmu. Pilihlah waktu, materi atau sosok tertentu untuk dipelajari. Katakan pada dirimu, kamu ingin membaca apa, apa yang ingin kamu ketahui, misalnya filsafat Aristoteles, Plato, atau paham Eksistensialisme, Pragmatisme, Realisme, sesuai kemauan. Disela-sela itu, tanamkan diri bahwa kamu akan komitmen terhadap pilihanmu.
- Hayati dan renungkan disaat membaca, dan pikirkan apa yang kamu pahami dari bacaan itu. Banyak orang yang giat membaca dan membaca tapi tidak mementingkan, sama sekali, bentuk bacaan. Mereka membaca buku seperti meneguk air minum saja, melahap buku-buku tak terhitung jumlahnya, mengembara di dunia sastra dan filsaat, tujuannya hanya satu, yaitu bergerak dan bergerak terus. Jika kamu tidak meluangkan minimal 3/4 jam menghayati isi secara perlahan, pertama kali memang terlihat membosankan tapi kelak bosan itu akan menjadi sebuah keasyikan kok. Jika seperti itu, maka 90 menit kamu membaca tidak berarti penting tanpa mengembangkan akal pikirmu. Mungkin penghayatan ini sedikit memperlambat langkah membaca bab-bab berikutnya, tapi jangan terusik oleh keterlambatan itu, sebab nanti akan memberikan surprise tersendiri dalam dirimu dan akan memperoleh manfaat besar diluar perkiraan.
Selanjutnya, lakukanlah hal-hal berikut:
- Ciptakan rancangan untuk proyekmu, buat rencana khusus sebagai acuan, kembangkan diri dalam semangat belajar dan berpikir, lakukan sesuai kaidah, langkah dan aturan membaca filsafat secara baik. Kamu harus menjamin bahwa kamu pasti akan melakukan aturan itu, bebaskan pikiranmu dan percaya diri.
- Usahakan mengajukan pertanyaan berkaitan dengan bacaanmu, ajukan itu pada dirimu dan mencoba menjawab masalah itu semaksimalnya. Semacam perbincangan batin, debat timbal balik, baik terhadap diri ataupun penulis karya.
- Rangsanglah akalmu untuk terus berpikir, jangan segan-segan menjelaskan kata-kata inti, membahasakan menurut seleramu. Jangan takut salah, kreatif dan motivasi dirimu untuk memberikan jawaban, kesimpulan atau gagasan.
- Tuangkan uneg-uneg, ide dan pikiran tertentu dalam benakmu. Ide-ide ini muncul dari sikap kritis-analitis, ketika mengupas suatu masalah filsafat, akan terbersit ide-ide kritis yang fantastis, berkembang sesuai naluri, berada dibawah alam sadar, bekerja secara otomatis. Peristiwa ini akan dialami siapa pun juga, selama akal pikiran itu diperas, diasah dan diaktifkan sebaik-baiknya, gagasan misterius pun akan lahir. Itulah makna firman Tuhan dalam prosesi membaca, ingatkah kamu Tuhan ini pernah mentitahkan, "Bacalah!, Tuhan itu Yang Maha Baik dan Asih, Yang mengajarkan melalui pena (tulisan dan karya). Serta, mengajarkan sesuatu yang tidak diketahui". Artinya, mengilhamkan ilmu yang tidak pernah diketahui sebelumnya, mencokolkan ide dalam benak tatkala kita membaca dan berpikir.
- Hindari kata-kata "Tidak Bisa", semangati dirimu bahwa kamu pasti bisa. Kata "Saya tidak bisa", "Saya lamban", "Saya tidak tahu", jangan biarkan bercokol di benakmu, apalagi menguasai dirimu hingga mengalahkan daya kreatifitasmu. Kamu butuh melatih diri, dan inilah saat kamu mulai belajar. Buang makna negatif itu...
- Tatkala membaca, pilih mana kata-kata yang sulit dan carilah jawaban dari kata-kata itu dengan bertanya kepada seorang guru, minimal kamu harus bertanya pada kamus. Jika kamu salah mengartikan istilah dan simbol, akan membentuk pengertian yang salah, jangan hanyut dalam kejar-kejaran diskusi akibat salah arti.
- Buatlah catatan peribadi, simpulkan apa yang bisa kamu pahami dari buku itu, tulis jawaban atas sebuah pertanyaan secara sederhana. Kelak catatan ini akan menjadi acuan untuk merangsang ingatanmu.
Demi menciptakan sebuah keberhasilan, jagalah suasana hati dan pikiranmu, kembangkan perilaku ini:
- Terbuka dan menghormati perbedaan, berusaha melahirkan perdebatan yang sehat.
- Berdiskusi diri, belajar menyampaikan ide dan gagasan, serta melontarkan pertanyaan.
- Meluangkan waktu untuk berpikir, secukupnya.
- Jangan selalu berkata setuju, atau cepat menerima sebuah teori tanpa dikupas dari intinya.