Sebagai langkah dasar ke arah pembelajaran diri, untuk mengenal filsafat lebih jauh. Kamu tidak bisa beranjak tanpa mengetahui "DIRI", baik potensi, naluri atau aksi-aksi. Terdapat beberapa hal sebagai modal para pencinta filsafat, syarat, sikap dan sifat bagi Pemula. Maka dari itu, cobalah mengenali dan berusaha memiliki pra-syarat belajar filsafat berikut ini:
1. Memililiki kesiapan mental, secara naluriah.
Kesiapan ini tidak ditentukan oleh usia, tapi pengalaman dan kematangan bersikap bagi seorang filosof, untuk pemula kesiapan itu didasari oleh keinginan untuk belajar, kecintaan ilmu yang murni dan tidak gegabah dalam menentukan sebuah sikap. Bagi pemula, filsafat dipelajari sebagai ilmu yang diketahui dan dipahami, bukan untuk didalami secara serius sampai ia telah memiliki mental itu, yaitu berprinsip dan tidak mudah terombang-ambing oleh teori dan paham.
2. Memiliki daya konsepsi dan pemahaman yang baik.
Daya konsepsi yang berkembang karena keteraturan berpikir, kerapian mengolah kata sehingga mudah dicerna. Tugas lain dari filosof, sebenarnya, melafadzkan ide-ide dan gagasan yang ada dalam benak dan pikiran, menangkap sinyal-sinyal Tuhan dalam kemasan alam ini dengan mengubah sinyal itu menjadi "pernyataan". Bagi pemula tidak sedalam itu, tapi sangat diperlukan sebagai jaminan di kemudian hari. Sebisa mungkin, cara konsepsi pemula diawali dengan membahasakan ide-ide filosof itu dengan bahasa sendiri, atau dibantu oleh istilah-istilah filsafat jika merasa bisa.
3. Tidak putus asa dan memiliki daya tahan terhadap kesulitan dan kendala.
Biasanya kesulitan itu muncul dari bahasa filsafat, solusinya dengan merujuk pada kamus-kamus, atau muncul dari teori filsafat itu sendiri yang butuh penjelasan, masalah ini bisa diselesaikan dengan berdiskusi atau bertanya-tanya kepada yang lebih pintar.
4. Cinta Ilmu dan Kebenaran.
Sifat ini mutlak harus dimiliki, terus dijaga dan dipertahankan dari awal sampai akhir. Cinta ilmu adalah motor kehendak untuk selalu berusaha dan bersemangat.
5. Tidak terbawa emosi dan gejolak nafsu yang bersifat sementara.
Tatkala bergulat dengan teori-teori filsafat, pertentangan emosional jelas akan bermunculan. Terutama jika dihadapkan dengan teori filsafat yang bertentangan dengan ajaran, dogma dan keyakinan si siswa, sikap yang cerdas adalah membedakan diri dengan teori, ketika belajar bedakan antara diri kamu dan teori itu, sebab teori tersebut belum tentu itu dirimu.
6. Lapang dada terhadap cacian dan makian orang lain.
Belajar filsafat itu beresiko tinggi, selain filsafat adalah ilmu yang dalam sejarah selalu dicaci dan peminatnya dituduh-tuduh. Disisi lain, filsafat itu merangsang seseorang belajar berpikir bebas, dari sini tidak jarang bertentangan dengan pendapat orang lain. Kebebasan dalam berfilsafat tidak menganut sistem keterikatan dan keterkaitan.
7. Patuh terhadap nilai-nilai kebaikan.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan mewujudkan dalam realita. Jika suatu saat, ia menemui sebuah kebenaran yang harus diterima, maka ia harus menerima, bukan merasa benar sendiri dan seakan akal sendiri yang tidak pernah keliru. Jujur saja, orang belajar filsafat, seringkali dijangkiti sifat congkak, benar sendiri dan menganggap orang lain lemah, sebisa mungkin dijauhi sikap seperti ini.
8. Tekad yang kuat.
Sekali lagi, jalan filsafat itu berliku-liku, seringkali bercabang tanpa batas. Ini yang membuat seseorang merasa lemah diri dan semangatnya rentan kendor. Acapkali jatuh di tengah jalan dan tidak mampu bangkit kembali, kamu harus mengatasi itu dan mulai menanamkan diri bahwa "Kamu Bisa".
9. Positive Thinking.
Rasa hormat terhadap konsep, aliran, sekte atau keyakinan orang lain; senantiasa berpegang pada sikap bijak. Artinya, setiap orang memiliki pendirian, pendirian itu bisa benar, bisa juga salah. Sebagai pencinta filsafat, hormatilah sikap orang lain, walaupun sikap itu salah, anggap saja itu sikap yang tidak perlu ditiru dan dicaci, begitu juga dengan sikap benar, anggap saja itu sikap yang perlu diakui dan tidak perlu dipuji-puji. Bukankah seseorang bisa berubah prinsip dan sikap?.
10. Komitmen terhadap kebaikan yang dianggap masyarakat umum itu baik, dan tidak mencederainya.
Itulah sifat dasar yaang harus ditanamkan baik-baik. Untuk mempertajam dan mengembangkan sifat-sifat itu, maka harus diikuti dengan sikap-sikap tertentu yang mendukung terciptanya sebuah kemantapan, hasil dari latihan diri secara emosional. Sikap-sikap itu adalah:
1. Jangan terlalu yakin bahwa kamu meyakini sesuatu, secara pasti.
Jika suatu saat kamu menemukan sebuah fakta, dan kamu yakin bahwa fakta itu benar. Jangan terlalu yakin sebelum diketahui alasan dan sebabnya. Kebenaran, pada hakekatnya, bersifat multidimensi, mengandung banyak sisi yang sisi-sisi itu adalah benar. Seringkali seorang pemula terkecoh dengan sebuah kebenaran, yang mana kebenaran itu bisa terhapus dengan munculnya kebenaran yang lain. Selain itu, kebenaran memiliki dasar yang tidak satu, misalnya kebenaran indera, logika (akal), hati, dan sebagainya.
2. Jangan berusaha menyembunyikan niat dengan percaya penuh bahwa niat itu tidak akan terbongkar, tidak sadar bahwa kelas niat-niat itu pasti akan muncul dengan jelas.
Seorang pemula, dituntut belajar jujur pada diri sendiri, mengakui benar jika itu mengandung kebenaran dan sebaliknya. Biasanya, orang belajar filsafat, karena mencari sensasi, ingin dipandang lebih pintar karena pandai mengolah kata. Padahal dibalik kata-kata itu, ia menyembunyikan watak dan niat aslinya. Sepandai-pandai orang bersembunyi, pasti bisa diketahui titik kelemahannya, dari itu orang lain bisa memahami jelas apa maunya. Jangan sok pintar berfilsafat, sebab kelak akan terbukti kebenaran filsafatnya, terbongkar jati dirinya.
3. Jangan berusaha mematahkan semangat orang yang gemar berfikir atau berfilsafat, dipastikan kamu akan berhasil dalam usaha ini.
Untuk menambah pengalaman, cara effisien untuk mengembangkan diri, adalah berdiskusi. Tapi, kadang orang tidak sadar, diskusi yang positif adalah saling bertukar pikiran dan pendapat. Mayoritas, orang berusaha untuk mengalahkan, cara ini sama sekali tidak filosofis, dan ia tidak akan banyak mengambil manfaat dari diskusi yang bertujuan saling mengalahkan. Hal ini, seringkali dialami oleh seorang pemula, semangat lebih kuat dan emosi sering tak terkendali, sejauh mungkin diatasi kemelut ini. Disamping itu, semangat lawan bisa kendor, sikap ini bertentangan dengan jiwa filsafat yang cinta ilmu dan menebarkan nilai-nilai kebenaran.
4. Ketika kamu berhadapan dengan kendala atau rintangan, walau itu berasal dari sahabat dan keluarga. Maka, jangan berusaha menundukkan mereka dengan mengacu pada "bagaimana menanamkan rasa percaya", tapi bagaimana kamu memperkuat dalil dan argumentasi yang melatari sikapmu. Sebab keberhasilan tidak akan terwujud dengan memunculkan rasa percaya terhadap suatu prasangka dan ilusi yang salah, jika tidak didasari dalil yang kuat.
Artinya, suatu saat, ide dan gagasan kamu bisa tidak diterima orang lain. Calon filosof, dilarang memaksa orang lain untuk percaya kepada gagasan itu, sikap yang semestinya dilakukan adalah memperkuat dalil dan argumentasi dari gagasan itu sendiri, memanfaatkan informasi dan data yang selama ini dikumpulkan dan dikaji. Tidak baik menyuruh orang lain membenarkan ide kamu, sebenarnya orang lain juga memiliki alasan tertentu yang mendasari penolakan itu, bisa saja orang itu memiliki kebenaran tersendiri. Kekuatan kebenaran ditentukan oleh fakta dan kemampuan menangkap sinyal-sinyal ilmu yang tersimpan di alam semesta.
5. Jangan terlalu berpihak kepada orang lain, jangan menyandarkan pendapat serta jangan percaya penuh terhadap suatu pernyataan secara membabi-buta. Karena akan selalu ada sisi benar dan salah, sumber yang valid dan invalid.
Mampu menguasai diri tatkala menemukan fakta-fakta ide seorang filosof. Seringkali seorang pemula terseret dalam idealisme filosof lain atau filosof yang sedang dikaji. Sebisa mungkin, kamu berusaha mengendalikan alam pikirmu sehingga mampu membedakan antara dia sebagai pengkaji dengan orang atau teori lain yang dikaji, kelak akan muncul sinergi pemikiran saling timbal balik (interaktif) tapi tetap menjaga posisi semula.
6. Jangan menggunakan kekerasan, tatkala bersilang pendapat yang kamu lihat salah. Jika kamu melakukan itu, maka pendapatmu akan sia-sia, dan mungkin akan merontokkan argumentasimu sendiri.
Sikap ini, adalah pengembangan dari sifat "Pengontrolan Diri", Jangan lepas kendali yang memunculkan emosi, sebab kala itu kamu tidak sadar atau sebagian dirimu telah hilang, bukan pencinta ilmu lagi yang berbicara tapi perusak tatanan. Dan semua argumentasi yang diajukan terkesan acak-acakan, bisa jadi keluar dari tema awal.
7. Jangan takut jika keyakinanmu sekilas nampak cacat, karena pendapat yang diterima kini, kadangkala nanti bisa terlihat cacat juga.
Nilai kebenaran bisa diterima atau tidak, bisa ditentukan melalui waktu, Dulu, orang tidak terbayang bisa melihat kejadian di tempat lain melalui pesawat televisi atau melancong ke luar angkasa seperti sekarang. Kebenaran yang kini tidak terbukti, seiring perjalanan waktu, kelak juga akan terbukti dengan sendirinya, itulah hukum alam.
8. Dengarkan, dan simak lebih seksama setiap perbedaan ide-ide jenius dalam pemikiran.
Lebih bermanfaat dibanding sikap menerima secara negatif terhadap pendapat orang lain. Apabila data, ilmu dan informasi yang kamu dapat sudah matang, kamu akan melihat bahwa perbedaan-perbedaan itu mengandung inti-inti kesepakatan lebih mencolok daripada pendapat yang lain. Terutama dalam belajar filsafat, kelak akan terjadi perang batin, perputaran teori antar paham, teori-teori itu saling terkait tapi melahirkan paham-paham yang berbeda, dikala mengenal teori atau paham itu akan nampak ide-ide jenius tiap filosof yang menjadi inti ajaran mereka. Itulah yang terjadi pada paham-paham filsafat seperti Idealisme, Realisme, Eksistensialisme, Pragmatisme, dan sebagainya.
9. Jaga diri untuk berusaha jujur dan benar, sampai terhadap pendapat yang nampaknya tidak diterima, sebab upaya menyembunyikan hakekat dan kenyataan itu lebih ngoyo (membutuhkan usaha ekstra serta memaksa, hasilnya pun sia-sia), dan itu akan berakibat buruk.
Artinya, mengakui kebenaran orang lain sebagai suatu kebenaran dan menerima kesalahan orang lain sebagai kelaziman bahwa tiap orang dilahirkan untuk merdeka dan bebas berpikir, tidak menutup kemungkinan orang salah kelak akan menemukan sebuah kebenaran.
10. Jangan menjadi orang yang menikmati kebodohan, senang kalau tidak tahu; hanya orang idiot yang menganggap sikap "suka bodoh" sebagai nilai kebahagiaan.
Orang bodoh tidak mesti orang yang tidak berilmu atau tak berpengetahuan. Orang terdidik pun, suatu saat, bisa disebut bodoh, jika tidak bisa mencerminkan ilmunya dalam sikap. Disebut bodoh, jika:
- Orang pintar yang selalu ingin menang sendiri.
- Orang yang tidak mengenal dirinya, dikala ia dalam kesadaran.
- Orang yang tidak mau memanfaatkan anugerah Tuhan yang terkemas dalam akal pikir dan kemampuan mencerna sesuatu.
- Orang yang mengatakan dirinya benar, sedangkan orang lain salah, naif lagi jika mengaku paling benar. Bukankah, benar bagi seseorang, belum tentu benar bagi orang lain?, kebenaran sesaat, tidak memastikan ia benar selamanya.
- Orang yang sengaja melupakan kehendak publik dengan mengunggulkan ego diri di atas semua kepentingan.