Rabu, 17 Juli 2024

Memahami Logika Berfikir dan Berfilsafat

Tulisan berikut adalah subjudul dari bab "Filsafat dan Filosof" dari buku kami "Before You Learn Philosophy". Terma filsafat dan pemikiran selalu dianggap sebagian orang adalah identik, namun perlu diketahui bahwa dalam terma-terma yang berkembang di kalangan para filosof ternyata keduanya tidak sama, walaupun dianggap sangat krusial dalam langkah-langkah mencari sebuah kebenaran. Perbedaan itu semakin terlihat nyata jika seseorang mulai memasuki alam filsafat, dimana dalam ranah aktualita prosesnya kedua terma inimemiliki kedudukan dan dalam posisi yang berbeda. Inilah penjelasannya...

❅❅❅

Ketika manusia bertanya-tanya pada dirinya: "Kenapa hidup ini terasa gersang, hidup yang selama ini didamba tidak kunjung tiba... dunia sudah tidak lagi berjalan dengan baik, kehancuran telah merata, manusia sudah tidak lagi mengenal siapa dirinya, persahabatan hanya berumur menitan... alam telah membenci manusia, atau manusia yang telah merusak tatanan alam. Lalu ia bertanya, apakah aku ini hanya sebuah materi, bagian dari tanah-tanah itu, ataukah terkandung jiwa dalam diriku dan kemana aku harus menyapa, mengadukan nasib yang tidak selalu sejalan dengan keinginan!. Disaat manusia hanyut dalam kebimbangan, terseret dalam ruang hampa yang pengap dan memilukan, ia mulai tersadarkan diri, mencari-cari arah yang harus dituju. Jalan yang bisa mengentaskan diri dari keterpurukan mental, jalan yang seharusnya dilalui oleh manusia sehat.

Betapa jalan hidup ini akan sering terhambat, jika manusia tidak segera menentukan garis-garisnya secara jelas. Dalam dunia yang tidak ramah ini, kamu sering terkecoh oleh keadaan yang memaksa untuk selalu sigap dan tegas, mengambil sikap yang tepat dan memilih keputusan yang cermat. Tidak ramah, bukan berarti dunia ini jahat, tapi ia bertindak tidak tunduk pada keinginanmu; susah, senang, sehat, sakit dan segala yang kamu rasa tidak membuat gerak dunia akan terhenti. Sebaliknya, kamu bisa tergilas oleh gerak alam ini, justru itu kamu yang harus menentukan jalan hidup dan masa depanmu sendiri?; Dengan apa? Bagaimana? Mengapa?, mungkin filsafat bisa membantu memberikan penghayatan tentang semua itu.

Penting kamu ingat! Sejak awal lembaran sejarah ditulis, manusia tidak lepas dari prosesi praktek berfikir, dalam mengatasi masalah hidup yang dilalui. Seiring waktu, berdasarkan fitrah dan pengalaman, —secara bertahap— manusia mampu menguasai seperangkat pengetahuan akal dan ilmu dalam menyeleksi "segala yang ada" (maujud), mengolahnya guna memenuhi kepentingan dan tuntutan hidup. Tuhan pun telah melatih manusia melalui "Hukum Alam". Misalnya, ketika mereka terilhami oleh percikan api akibat gesekan 2 buah batu, mereka pun memanfaatkan api itu untuk perapian, memasak dan menerangi goa-goa, sebagai tempat tinggal. Di masa purba (primitive), pemikiran semacam ini bersifat sederhana (simple), ngawur dan masih berlumuran mitos, namun penting dalam membantu mereka menterjemahkan fenomena yang dilihat dan dialami, setelah mencermati kemiripan yang terjadi pada alam sekitar, lalu mencatat dalam otak setiap fenomena alam itu, maka lahirlah "Ilmu Titen". Pengetahuan tentang musim, gerhana, cuaca serta peristiwa alam lain yang terjadai di masa dan waktu tertentu tercatat dalam otak mereka, diwariskan kepada anak cucu selama ratusan tahun, melalui tradisi seperti ini, akhirnya ilmu-ilmu itu bisa dilestarikan sehingga kamu kini menjadi tahu.

Tahap berikutnya, dalam pentas sejarah ini, manusia telah menemukan dirinya, jelas semua itu membutuhkan proses dan penghayatan hidup yang sangat lama. Dan filsafat pun lahir di tengah praktek berfikir ini, mencoba mengungkapkan isi akal setelah merasa mampu memberikan jawaban dan solusi atas setiap masalah hidup dan pemikiran.

❅❅❅

Apa proses berfikir ini akan terhenti!, tidak. Manusia dikodratkan sebagai makhluk yang berfikir, karena Sang Pencipta itu telah menciptakan satu komponen dasar dalam diri mereka, yaitu akal sebagai alat dan modal hidup. Akal ini, sesuai wataknya, akan selalu tertarik pada sesuatu yang majhul, kasat mata, tak mampu ditangkap indera yang kelak akan menggerakkan otak untuk berfikir. Sebagaimana mata berfungsi melihat wujud yang dilihat, akal pun demikian, mengkaji demi menggapai hakekat, serta menjangkau rahasia dibalik semesta. Bahkan, kehendak akal itu semakin kuat, jika apa yang ingin dikaji, direnungkan dan dipikirkan menyimpan rahasia, misteri memiliki daya tarik yang kuat bagi manusia untuk berpikir. Tingkat penasaran seseorang semakin melonjak, jika apa yang ingin diketahui itu mengandung unsur "Kejanggalan". Disini, filsafat menemukan perannya, terefleksi dari watak akal manusia yang haus dan serakah terhadap segalanya. Meninjau kata Aristoteles (wafat 322 SM): " Setiap manusia akan tepikat pada pengetahuan", terdorong semakin jauh berusaha menembus batas luar alam semesta.

Pemikiran, Perenungan (At-Taamul) serta wawasan (An-Nadzar) akan membentuk kerangka dasar dari apa yang disebut ‘Berfilsafat’. G.K.Chesterton menambahkan, “Pandangan seseorang terhadap wujud alam (kosmos) dan kehidupan, akan selalu menjadi motivasi utama dalam diri manusia. Ini berarti filosofi manusia ikut menentukan cara pandang dan kreasi pikir terhadap kehidupan…”.

Berpikir hanya digeluti manusia, hewan tidak melakukan ini. Jangan salah kira, jika seekor kambing hutan akan lari tatkala menangkap sinyal bahaya dari lirikan seekor singa, dan sikap mawas diri si kambing itu tidak lahir dari prosesi berpikir, tapi lahir dari instink yang muncul dibawah alam sadar. Sedangkan manusia memiliki kedua-duanya, berpikir dan berinstink. Instink-mu lahir berbentuk reflek-reflek dan pikiranmu lahir dari usaha dan proses "mematangkan diri".

Dikala "kamu berpikir", kira-kira apa yang sedang kamu lakukan?!. Jelasnya, kamu akan memperbandingkan berbagai kemungkinan. Artinya, kamu dihadapkan pada pilihan antara ini atau itu, disaat kamu akan menjatuhkan satu pilihan, kamu pasti bertanya-tanya, apa pilihan itu mengandung kebaikan atau tidak, dan memikirkan apa manfaat yang bisa dirasa dibalik sebuah pilihan. Dan pastinya, pilihan terbaik dan paling bermanfaat bagi dirimu, itulah yang akan kamu ambil. Jadi pemikiran, berarti perbandingan antar pilihan dan kemungkinan. Sedangkan hewan tidak memiliki kemampuan ini, sebab itu hewan tidak mampu mengikatkan diri pada satu sikap tertentu, semua berjalan melalui instink saja.

Mengapa demikian!.

Misalnya, jika seekor hewan diberi makanan, maka ia akan memilih makanan tertentu sesuai instinknya, bahwa makanan itu bermanfaat bagi dirinya, adapun makanan lainnya tidak akan disentuh. Tapi manusia tidak seperti itu, ia akan berkata pada dirinya, cobalah ini, atau cicipilah itu, barangkali yang itu enak. Hewan bekerja menuruti spesiesnya, hewan herbivora akan selalu makan tumbuh-tumbuhan, dan sampai kapan pun seperti itu, hewan ini tidak akan berganti menjadi carnivora karena alasan tertentu, karena begitulah kata instinknya.

Contoh lain, jika si A habis menyantap makanan, lalu seseorang menawarkan makanan lain, dan berkata kepada si A: "Coba rasakan ini, makanan ini enak lho!", maka si A akan mencicipi dan memakannya... adapun hewan, seusai makan dan kenyang, ia tidak mau makan lagi walaupun dipaksa-paksa, karena hewan tidak memiliki kemampuan 'menentukan' diantara berbagai pilihan dan kemungkinan, untuk selamanya.

Contoh lagi, kamu sedang menaiki khimar, dan dihadapanmu terbentang sungai, atau saluran air, lalu kamu perintahkan khimar itu untuk menyeberang, walaupun hewan ini kamu pukul-pukul sampai babak belur, ia tidak akan mau menyeberang, karena instink hewani si khimar tidak mungkin menyeberanginya. Instink khimar berkata bahwa semua itu diluar kemampuannya, maka dari itu ia tidak mau menyeberang.

Tapi kamu, sebagai manusia, akan terus berusaha, walaupun ia harus mengalami penderitaan, atau kepahitan, namun kelak ia akan berhasil.

Dan akal dalam otakmu merupakan alat pikir itu, yang berfungsi menentukan pilihan terbaik yang melatari terbentuknya suatu tindakan. Kata sebuah syair: "Jika seseorang memiliki ide dan gagasan, maka segala sesuatu akan terbentuk berdasarkan pertimbangan".

Konon, orang shalih ditanya: "Apa karunia terbaik yang diberikan Tuhan kepada manusia?", "Akal pikiran", jawabnya. Lalu ia ditanya lagi: "Jika ia tidak memiliki akal pikiran?", dan jawabnya: "Mending dia berperilaku baik". "Namun jika ia tidak bisa melakukan itu, lalu bagaimana?", tanya selanjutnya, "Maka, ia butuh seorang teman, sebagai penasehat", jawabnya. Dan orang shalih ini ditanya lagi: "Jika ia tidak memiliki seorang teman seperti itu?", lalu jawabnya: "Lebih baik, ia memilih mati segera". Kisah lain menyebutkan, suatu ketika terlahir seorang putra mahkota, yang sangat dibanggakan oleh sang raja. Dan dihari penobatan putra mahkota, diundanglah seluruh tokoh besar dan sebagian ahli satra ke istana. Ditengah meriahnya acara, tiba-tiba diperintahkan seorang sastrawan untuk menimang si bayi, sambil ditanya oleh raja: "Apa karunia terbesar yang diberikan kepada bayi ini?", dan jawab si satrawan: "Adalah akal yang diberikan bersamaan dengan kelahirannya". "Jika ia tidak memiliki akal?", lanjut sang raja, "Perilaku yang baik dan sikap yang bermoral di kala bergaul di tengah manusia", sahut sastrawan. Dan sang raja balik bertanya; "Jika bayi ini tetap tidak memiliki perilaku itu?", dengan tenang ia menjawab: "Lebih baik bayi ini disambar petir saja". Baik raja maupun seluruh yang hadir bagai tersulap menyadari tiap kata sastrawan, termangu akan isi dialog itu, semuanya menjadi tahu bahwa tanpa akal dan perilaku mulia, manusia tidak layak dilahirkan di muka bumi ini.

Tahukah kamu proses akal mengolah dirinya hingga mencipta sebuah keputusan?. Ibnu Qoyim menjelaskan, "Berpikir merupakan prinsip segala tindakan manusia yang diolah oleh akal dan dengan petunjuk hati nurani. 5 hal yang saling terkait dalam proses ini, pikiran akan menghasilkan ilmu, ilmu akan melahirkan suatu perbincangan antara diri dan hatinya, situasi ini akan merangsang kehendak dan kemauan diri, kemauan ini akan memunculkan tindakan dan aksi".

Coba kamu berpikir sejenak!, jika kamu membebaskan akal pikirmu untuk menuangkan segala informasi yang kamu tangkap ke dalam otak dan benakmu, pada hakekatnya kamu sedang menggali pengetahuan, data yang kamu kumpulkan selama ini akan sangat bermanfaat bagi penggodokan mental, kenapa tidak!, disaat kamu melakukan itu, kamu sedang mengembara ke dalam alam pikiran, berusaha menjajaki, menguraikan serta menghayati, dan secara otomatis dalam benakmu akan muncul tarik ulur pendapat dan gagasan dari berbagai opsi. Penulis buku "Musykila al-Falsafa", lebih lanjut menyatakan, filsafat lahir dari proses tanya jawab, atau perdebatan yang diperbincangkan terhadap dirinya, orang lain dan alam semesta. Dan secara tidak sadar, semua itu akan menarik kehendak lebih dalam, merangsang kemaun untuk bersikap. Semakin kuat daya pengaruh kehendak, semakin kuat pula kemauan untuk bertindak, dan tindakan itu tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi semata didasari atas pertimbangan dan alasan yang kuat, bahwa apa yang kamu pilih adalah perilaku terbaik yang akan kau kerjakan.

Lalu, bagaimana jika kamu tidak bisa berpikir?, "tidak berpikir" tidak berarti kamu tidak memiliki akal, tapi akal pikirmu, kala itu, sedang terjangkit dan tidak normal. Untuk ini, kamu perlu menenangkan diri, berusaha mengembalikan keseimbangan dan menetralisir pengaruh negatif. Masalah hidup yang dijalani tidak jarang ikut menjangkiti akal sehingga akal tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, disaat itu kembalikan dirimu dan jadilah dirimu. Setelah kamu yakin dirimu telah normal dan terbebas dari tekanan, kamu pasti bisa berpikir dan berpikir...

Tapi perlu diingat!, tidak semua proses berpikir itu disebut berfilsafat. Keduanya memiliki ruang dan karakter yang berbeda. Filsafat lebih spesial dibanding pemikiran, karena dalam filsafat terdapat unsur dasar yang membuat dirinya lebih menarik dan mengesankan, yaitu "Penghayatan", kamu juga bisa menyebutnya "At-Ta'amul Al-Falsafi" atau "At-Tadabur", bahkan di kalangan encyclopedian menterjemahkan kata ini dengan kata "Contemplation", di saat lain "Speculation". Inilah ciri khas filsafat yang tidak terdapat pada semua bentuk pemikiran di dunia.

Berlanjut ke bagian 2, klik di sini

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait