Selasa, 16 Juli 2024

Before You Learn Philosophy (Kiat Belajar Filsafat)

Mungkin sebagian orang berkata jika filsafat itu hal paling rumit dan pelik, tapi sebagian lain filsafat lebih menarik dan menyegarkan dalam alam pikir manusia. Semua tergantung dari pengalaman dan ragam point of view pada diri seseorang. Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman peribadi Saya saat mengenyam pendidikan di salah satu universitas terkenal di Mesir, saat berjibaku dengan pergulatan alam filsafat di ranah bumi kinanah (baca: Mesir). Dan tulisan ini berlatar belakang sebuah kisah..

❈ Alkisah...

Tahun 2007, kisah ini berawal, tepat di dalam ruang di tepian jalan raya Zumar yang menghubungkan 2 kawasan mahasiswa, udara sore itu terasa panas menyusupi celah-celah jendela yang usang, menyelimuti sebuah kamar tak berhias seakan menyapa siapapun di sana. Sekitar 8 santri duduk bersantai mengelilingi seseorang, ia nampak lesu dan sederhana, tersirat di wajahnya tanda-tanda kelelahan. Perasaannya terpaku pada sosok-sosk disekelilingya, dan sekilas wajah-wajah cantik itu merona menggambarkan keseriusan tak terkendali, mereka sedang bertukar pikir, bercengkerama dengan para pakar, menggali ilmu, saling tawar menawar ide, dengan makhluk Tuhan itu, dialah si Ust. Sebenarnya apa yang mereka lakukan?, kumpulan itu jika ditengok sekilas saja, terlihat hening tapi arah pikiran mereka sedang menggodok segala bentuk informasi bermodal ilmu masing-masing, berpetualang dengan para tokoh, filosof dan pemikir; hanya ingin menjawab pertanyaan: "Mengapa orang-orang itu disebut tokoh besar, manusia berguna di zamannya!? ".

Sepertinya, tak lama sebelum itu, santri dan si Ust barusan saja berbual-bual dengan teori, mengupas ide dan gagasan, melihat wacana pemikiran setiap filosof dan pemikir, menikmati karya-karya dalam sajian buku. Keinginan besar, semangat yang tek pernah sirna telah menjiwai mereka untuk belajar dan belajar.

Namun, kenyatannya ...

Seiring waktu bergulir, detik menjadi menit, makin lama, otak-otak itu semakin panas, membludak berubah menjadi penat, rasa kantuk pun menabrak ruas-ruas dalam otak dan melumpuhkan kesadaran mereka, akhirnya konsentrasi menjadi buyar, hilang entah kemana, bagai debu diterpa angin, tidak meniggalkan bekas sama sekali. Serius, kantuk, semangat, penat, lelah, beraduk dan melebur membentuk senyawa tak bernama, karena senyawa itu tidak memiliki ciri, tipe atau sifat. Adakah nama bagi senyawa sifat baik yang jahat, bijak yang biadab?, adakah orang serius yang ngatuk, lalu terpulaskan oleh buaian mimpi, hanyut dalam hempasan angin surga?, jelas 2 hal yang bertentangan tidak akan menyatu.... tetapi itulah yang terjadi pada santri-santri itu.

Mereka sedang memperbincangkan ide tentang Tuhan, sifat dan perilaku Tuhan, alam semesta: bagaimana alam ini ada, ke mana arah alam ini setelah diterpa kehancuran. Adakah sang Pencipta itu, ataukah alam telah menciptakan dirinya sendiri. Beralih ke topik manusia, siapakah dia, terbuat dari materi apa, untuk apa ia diciptakan, adakah kaitan Tuhan, manusia dan alam dalam struktur kosmos hidup ini, dan apa itu?, apa itu kebaikan (good), kejahatan (evil)?, jahatkah Tuhan atau baik?, jahatkah manusia atau baik?, dan berbagai pergolakan pemikiran di kalangan filosof. Jika santri-santri itu dihadapkan pada tema tentang Tuhan karena kebetulan mereka sedang belajar Teologi (Ilmu tentang Tuhan), mengenali manusia dan semesta yang telah digagas oleh otak-otak filosof. Dan apa yang mereka terima!?, sungguh menakjubkan, ternyata bukan ilmu yang dicerna tapi rasa kantuk yang telah meninabobokan mereka, mengantarkan jiwa-jiwa itu memasuki alam kematian, yakni tidur dan keterlelapan.

Salahkah satri-santri itu?, jahatkah?, patuhkah dicela?. Si Ust menyadari, bahwa para santri itu tidak jahat, mereka adalah anak-anak baik, penurut dan semangat. Seandainya saja semangat santri itu mengunung, benak mereka selapang lautan, tetap saja tidak mampu menghilangkan rasa kantuk yang menyerang. Rasa kantuk, penat, lelah bukan sifat dosa, tapi sifat alami dari kodrat ilahi pada diri manusia; sesuatu yang muncul karena refleksi dari luar, tersulut oleh sesuatu yang tidak dimengerti. Lama Si Ust termangu, hanya bisa termenung menyaksikan situasi di ruangan itu, seakan cuaca panas mengolok-olok nasib mereka. Tatapan si Ust berusaha menyoroti wajah-wajah ayu dihadapanya sambil mengenang kejadian tragis itu dan terus bertanya pada hatinya: "Mengapa...!".

Tahukah kamu mengapa?! Dan kenapa mereka seperti itu!.

Sejujurnya, para santri itu belajar ketidakharusan, desisnya; menyantap hidangan yang tidak seharusnya dimakan, berdiskusi tentang filsafat yang belum saatnya ditelan, seperti seorang kakek yang mendikte Idealisme Plato, atau Realisme Aristoteles pada cucunya yang baru berumur 5 tahun, mungkin si cucu tertawa dijejali teori-teori itu dan mengira si kakek sakit jiwa, bahkan si cucu bisa tertidur pulas menikmati dongeng filsafat si kakek, pikiran si bocah malah menerobos jauh ke dunia angan, membayangkan dongeng itu seperti kisah " Putri Cinderella" dengan sepatu kacanya atau "Tom And Jerry" dalam kenakalannya, bukan karena si bocah paham tapi menganggapnya angin berlalu dan dongeng penghantar tidur.

Bagai teriris-iris, rasa hati si Ust menyaksika kondisi mereka, jelas wajah-wajah cantik itu berubah menjadi tak beraroma, lesu tak bergairah dan sayu. Dalam hati, si Ust itu mengamuk, berontak, tidak terima atas kejadian ini, ia pandangi langit-langit atap rumah, mencari-cari sesuatu yang tidak diketahui bentuknya, menatap tajam ke atas, menembus angkasa dan mengadu kepada Tuhannya: "Apa yang bisa kulakukan untuk mereka, kami belajar disini, ternyata seperti ini, kami mati, kenapa?, dan dalam gejolak hati itu ia bergumam: "Aku harus berbuat untuk mereka!, akan kucari siapa yang salah?, akan kuteluri "causa prima" (sebab utama) itu dan akan kujawab dengan sikap!?.

Segera, si Ust itu menemukan jawaban. "Semua ini salah dari awal, sistem itulah yang tidak tepat", katanya. "Santri-santri itu belum saatnya belajar inti materi filsafat, mereka tidak boleh melangkah 2 kali sebelum melangkah 1 kali, mereka harus memahami dasar, kalau bisa akar dasar lebih dahulu diketahui sebelum dasar-dasar pengantar filsafat diajarkan", gerutunya. Semenit kemudian, si Ust berucap kepada para santri: "Sejujurnya, kalian belum saatnya mempelajari inti materi teologi yang merupakan salah satu ajaran filsafat, sebelum memiliki kesiapan ke arah itu. Dan aku berjanji akan menuliskan ‘kata-kata’ sebagai pengantar filsafat, bahkan sebelum pengantar itu sendiri....".

✽✽✽

"Before You Learn Philosophy", itulah judul buku yang berisikan "kata-kata" si Ust, sekaligus pemenuhan janji bagi santri-satrinya.

Tulisan ini, adalah sebagian dari catatan berseri fildafat yang terdiri dari beberapa gagasan berfilsafat dan menjadi satu kesatuan berjudul "Before You Learn Philosophy" yang berisi kiat-kiat mudah belejar filsafat. Tulisan-tulisan ini adalah pembuka cakrawala berfilsafat yang merupakan langkah awal sebelum anda mulai berlajar berfilsafat.

✽✽✽

"Sedia Payung sebelum Hujan", persiapkan diri sebelum melangkah, sebab kamu tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, jika tidak, bersiaplah untuk menyesal. Hindari penyesalan dengan memperhitungkan baik dan buruk, untung dan rugi; minimal jika ternyata terjadi kerugian, akibatnya tidak terlalu parah dan bisa bangkit kembali...

Bagaimana jika langkah persiapan itu tidak dilakukan!?, jelas derita dan luka akan dirasa. Itulah yang terjadi pada mereka!. Tahukah kamu siapa mereka itu,? Bangsa ini, berisi insan-insan tak bermodal, hidup bangsa ini sempoyongan, karena belum siap diajak maju, gara-gara ulah orang-orang itu! Mereka yang merasa maju, malah memblokade arah kemajuan. Siapakah orang-orang itu, itulah negara ini. Orang itulah yang seharusnya bertanggung jawab atas rasa kantuk yang menghantam otak santri-santri si Ust. Orang-orang yang menamakan diri sebagai "Negara".

Jangan kamu bingung dengan teka-teki ini!.

Sebenarnya sederhana saja, para santri itu, ketika di tanah kelahirannya tidak mengenyam apa yang disebut 'filsafat' pada tingkat pendidikan setaraf SMA, MA, dan sebagainya. Kurikulum mereka tidak mengajarkan hal itu, boleh dikata informasi tentang filsafat itu blong. Padahal kala itu, santri-santri ini sedang berpetualang, menimba ilmu di bumi lain yang filsafat sudah diajarkan pada tingkat-tingkat SMA dan MA, sehingga filsafat jelas sudah dikenal baik. Lain bagi santri-santri itu... yang tidak bermodal ilmu secukupnya, tapi berusaha mempelajari ilmu yang belum pernah tersentuh otak mereka.

Para santri itu kini sedang belajar di sebuah perguruan tinggi Al Azhar, di Mesir. Bagi pelajar setempat, tidak ada kendala jika bertemu dengan materi filsafat di sana. Tapi bagi santri itu, sulit menerima, kendala serius akan bermunculan. Walaupun kendala itu bisa diatasi, namun mereka ini seperti kehilangan jejak, tidak tahu harus bermula dari mana, bagai orang yang baru tersadar dari siuman, ia bingung dan tak kenal apa dan siapa.

Rupanya, negara santri itu tidak menyediakan informasi secukupnya. Harus disadari bahwa tingkat pendidikan di bumi yang kini dihuni santri itu tidak sepadan dengan apa yang mereka terima di tanah air sendiri. Sebagai tuntutan belajar di dunia asing, mereka terpaksa belajar merangkak, berpijak di atas kaki sendiri, berjalan menatap pandangan sendiri. Akhirnya, menghasilkan sesuatu yang sendiri-sendiri pula, dan di aspek lain pun sama.

Mereka memproses otak, mengkaji filsafat dan ilmu menurut kaca mata sendiri, yang inti dimarginalkan dan yang tidak inti malah diutamakan. Akhirnya, muncul teori-teori, pendapat, dan pernyataan tak berdasar, hal ini wajar karena tidak berpijak pada asas. Dan tatkala mereka dihadapkan pada filsafat, setiap otak bekerja tanpa pijakan, terkesan ngawur, tidak terarah dan membelok dari jalur yang sah. Lalu, sikap-sikap pun bermunculan! Sikap yang dikira filosofis padahal bukan, sikap-sikap itu terlahir dari ego dan cenderung menanggalkan jejak-jejak 'kebaikan bersama'.

Dan, buku ini, berusaha menutupi celah bangsa santri itu, mencoba memperkenalkan "Apa itu Filsafat?, bukan pengantar, tapi pra-pengantar ke arah filsafat, mengkaji cara dan langkah belajar filsafat, menjawab kesan-kesan yang selama ini berkembang di kalangan peminat filsafat, bahwa filsafat itu sulit dan rumit. Benarkah seperti itu?, silahkan membuka lembaran buku ini...

✽✽✽

Lebih tragis lagi Aku, Aku ini sosok santri tulen, besar dan dididik di keluarga sederhana, boleh dikata hampir kekurangan. Tingkat pendidikan keluargaku, dibawah rata-rata. Bapak yang bekerja sebagai penjual keliling, di saat tertentu menjadi pemulung sampah, dibantu Emak sebagai buruh di sawah, dan Aku terkadang dituntut membantu usaha ini, guna meringankan beban kedua orang yang kucintai. Bapak tidak bisa mengajariku tulis menulis karena sibuk, dan tulisannya pun jelek hingga susah dibaca, tidak bergairah meniru tulisannya, sedangkan Emakku tidak bisa mengajari apa-apa, karena ia tidak bisa baca tulis. Namun demikian, semua itu tidak mambuat Bapak-Emak jera, bahkan Aku masih juga disekolahkan, walau terjadi tarik ulur antara modal hidup dan modal pendidikan; Aku pun mulai mengenal ilmu...

Aku lebih memilih nyantri, ‘murah meriah’. Aku generasi ke-3 dari sebuah pondok kecil yang baru saja lahir, sambil belajar, Aku pun menjadi kuli tidak tetap selama 3 tahun, karena pondokku masih dalam proses membangun. Situasi ini menuntut konsekuensi tertentu, berefek pada sangsi-sangsi hukum bagi santri yang disesuaikan dengan keperluan pondok. Dan informasi terakhir yang Aku dengar, ternyata ada adik santriku yang masih ngutang triplek gara-gara pernah melanggar aturan pondok dan utang itu masih diperhitungkan hingga kini, padahal sudah hampir 5 tahun lebih menjadi alumni.

Hari-hariku di pondok, penuh dengan hiruk pikuk, resah, menyita otak dan dituntut selalu puyeng, gara-gara kepentingan yang tidak penting. Pertikaian di kalangan elit pondok, menambah rasa meriah, serta ikut menentukan suhu di lingkungan santri, tidak jarang suhu panas di atas rata-rata menyelubungi pondok, kami para santri pun menjadi gerah, bahkan membuat beberapa santri tidak tahan lagi menghadapi cuaca panas dan lebih memilih mboyong. Aku masih bersyukur, bisa bertahan hingga tamat, sebab di pondok itu, bermukim 3 sosok orang penting yang mengajariku ilmu yang tidak dipelajari di pondok ini, yaitu Kepuasan Hati dan Harga Diri. Terima kasih untuk 3 sosok terhormatku!.

Seusai nyantri, Tuhan telah merancang jalan hidupku agar melanjutkan pendidikan di sini, Mesir. Hari, minggu dan bulan kulalui, kujalani hidup dengan belajar beradaptasi dengan alam, bersosial dengan lingkungan dan warga setempat. Aku mulai mengikuti kuliah… hari pertama kuliah, mulai terasa hawa-hawa tidak enak dan bising, Aku lebih terpesona oleh sebuah peristiwa hebat sampai Aku sendiri dibuat melongo seperti orang idiot yang ditanya tentang ukuran sepatu Maradona, atau jumlah Ndul Markindul-nya Bung Karno, bahkan sempat membuat mataku sedikit berkunang-kunang, nggliyeng, dunia bagai terputar. Semua itu terjadi, ketika Aku berkenalan dengan materi yang bernama "filsafat" itu, pertama kali mengenalnya cukup membuatku bagai orang kesetanan. Selain filsafat, ditambah Milal wa Nihal (perbandingan agama), Teologi (ilmu tauhid) dan Mantiq (logika). Aku bukan orang pintar, bahkan dibawah rata-rata mahasiswa lainnya, membaca sekali saja membuat kepalaku hampir pecah, bukan karena jenius atau cerdas, tapi karena alasan tidak paham sama sekali, tiap kata, kalimat, bagai jarum-jarum di kepala; semakin dipaksa, terasa batokku mau modar (hancur lebur). Dan Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenapa ini terjadi?.

Dan Aku berusaha meraba-raba, mencari tahu apa dan kenapa. Mulai Aku mengenang hari-hariku di pondok, ketelusuri tiap lembar sejarah sekolahku dan pendidikan yang kujalani, tetap saja tak kutemui jawaban atas "Bagaimana cara membaca buku-buku itu!".

Kupaksa diri untuk mengerti, kutekan otak untuk berfikir, kudorong kaki untuk terus melangkah dan kutambah volume semangat untuk mengetahui cara itu. Di saat-saat seperti inilah, baru Aku pahami bahwa duniaku kini ternyata berbeda dengan duniaku yang dulu; kini baru dan dulu klasik.

Dulu, di pondok, Aku belajar buku-buku Arab ala jowo gandul (tradisi membaca kitab kuning), dengan kitab berteman pen tutul, Aku membaca kitab itu kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang entah sampai kapan kitab itu habis dibaca. Jika 1 atau 2 paragraf dibaca 2 kali dalam seminggu, sebab 4 hari lainnya diisi dengan kegiatan pondok. Kalau Aku tanya kamu, berapa bulan waktu untuk menuntaskan kitab-kitab itu jika tiap kitab berisi puluhan bahkan ratusan kalimat. Hingga kini saja, Aku belum tuntas membaca kitab "Ta'lim Muta’allim", mungkin Aku yang terlalu bodoh atau guruku yang sengaja memperlambat jalan ilmu bagiku, tapi Aku yakin suatu saat akan kutuntaskan kitab itu, insyaallah.

Lalu kini, Aku dituntut belajar cepat, mampu dan tidaknya sudah menjadi keputusan dari sebuah usaha dan pilihan belajar di sini, tatanan dari sistem kuliah menghendaki itu. Bahasa arab yang kini dipelajari berbeda dengan dulu, lebih modern, banyak kata serapan dan istilah baru yang harus dikenal. Sekali baca harus membuka kamus berkali-kali dan diulang berkali-kali pula.

Walau demikian, tetap saja membuat kepalaku puyeng. Sudah kubeli kamus istilah, kamus bahasa dan literatur lain sebagai pendukung. Kutelusuri loakan buku, pasar bekas, buku di emperan jalan, lorong-lorong sempit yang menjual buku-buku murah, dan memang hanya itu yang kumampu. Kukumpulkan informasi seadanya, mulai mencari solusi bagi otakku dan obat rasa puyengku.

Dan jutaan hari setelah itu, hadirlah buku kecil ini sebagai penyembuh rasa kejengkelan yang menghantam, serta obat bagi rasa penasaran yang menjangkitiku selama bertahun-tahun.....

✽✽✽

Aku hadiahkan buku ini untuk para peminat filsafat dan pencari jalan hidup. Hidup ini tidak berjalan sesuai yang kamu harapkaan, tapi jalan hidupmu bisa kau ciptakan. Filsafat akan membantu menggodok akalmu untuk berpikir ke arah itu.

Semoga bermanfaat!.

※ MUHAMAD ABDULLAH AMIR
Sabtu, 08 Maret 2008
(04:36 dini hari)

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait