Pada tulisan sebelumnya, kita memahami bagaimana pola-pola befikir dan berfilsafat itu terbentuk, dan bagaimana piranti lunak dalam diri seseorang dan itu merupakan karunia Tuhan terbesar yang dititipkan pada mereka, dialah.. Akal yang bersemayam pada sistem otak manusia...
Lalu, bagaimana perkembangan berfikir dan berfilsafat, serta background yang melatari proses tersebut. Mungkin rekan-rekan bisa melihat hal tersebut pada penjelsan singkat berikut ini :
Baca: Bagian 1 dari artikel ini, klik di sini
❅❅❅
Sebenarnya, kata filsafat berkembang secara misterius dan tetap mengandung teka-teki di dunianya, terutama di kalangan filosof. Sekilas, filsafat memiliki arti yang cukup sederhana, dari bahasa Yunani, "Philos" (Cinta) dan "Shopia" (Hikmah), dan akhirnya terrangkai kata "Cinta Hikmah". Namun kenyataan menunjukkan, tidak sedikit orang berkeyakinan bahwa filsafat adalah musuh kebaikan dan hikmah, hingga sugesti yang muncul adalah filsafat itu setan, jahat dan harus dilenyapkan. Kalau boleh dikatakan, filsafat tidak mudah hancur bahkan tidak mungkin digilas, kenapa seperti itu?!, filsafat, pada hakekatnya, hanya sekedar salah satu cara, atau proses dari kinerja akal manusia, seperti juga pemikiran. Selama manusia berakal, filsafat dan pemikiran akan tetap eksis, dimusuhi atau tidak, dianggap baik atau jahat, filsafat tetap saja menjadi gerak akal dalam menunaikan fungsinya sebagai processor.
Asumsi yang bercokol di otak orang-orang itu, mereka hanya bisa bersikap 'menyalahkan secara total', seperti dilakukan sebagian mereka, sebuah tuduhan yang ditujukan kepada person, bukan pada pemikirannya, dengan menerapkan cara 'pengkafiran' dan "perlakuan dosa" dan tidak mengacu pada cara-cara positif, seperti kritik ilmiah dan metodologis hingga tercipta sebuah dialog yang enak didengar dan dirasa. Jangan berusaha memperbaiki sikap seseorang dengan mencela dan mencaci maki, sama sekali tidak akan menuai hasil positif, sebaliknya akan menyulut permusuhan dan kekerasan lebih lanjut. Jikalau kamu menyadari, sebenarnya tidak ada bedanya antara kamu yang berusaha memperbaiki seseorang dengan memukuli atau mencaci-maki, malah yang terjadi adalah saling bentrok dan baku hantam, masyarakat akan resah dan pilu menyaksikan semua itu. Sebuah tuduhan keras terhadap Ibnu Sina yang dilakukan oleh orang seagamanya, ia dipuji-puji atas kejeniusannya mencipta buku "Canon of Medicine" oleh orang lain, tapi di kalangan sendiri beliau disisihkan.
Berusahalah untuk menghayati dan berpikir bijak! Kenali filsafat tidak dari sudut sosok filosof, teori atau paham, tapi bagian inti dari kerja alat karunia Tuhan yang bernama akal. Pepatah mengatakan, ambillah hikmah walaupun berasal dari tangan orang jahat. Hikmah lain, "Tuntutlah ilmu walau di negeri Cina", apa kamu sadar apa keyakinan orang Cina dan keyakinan orang yang mengatakan kata-kata tadi.
Akal bersifat multi-dimensi dan multi-network, memiliki jaringan yang kuat dalam tubuh manusia. Saling menjalin kontak dengan bagian-bagian tertentu dalam fisikmu, dan berfilsafat adalah salah satu proses dari jaringan-jaringan tersebut.
Penulis buku "The Bluffer's Guide to Philosophy" mencatat, disaat mempelajari filsafat, terlebih dulu kamu harus mengerti 2 hal, yaitu:
Firstly, philosophy isn't a subject — it's an activity. Consequently, one doesn't study it: one does it. This is how philosophers, at least those in the Anglo-Saxon tradition (which for some obscure historical reason seems to include the Finns), tend to put it. And secondly, philosophy is largely a matter of conceptual analysis — or thinking about thinking.
(Pertama, filsafat bukan topik atau tema — tetapi sebuah aktifitas (gerak, proses). Karena itu, seseorang tidak mempelajarinya, tapi "menerapkan" dan "menjalankan". Inilah, mengapa kaum filosof, terutama dalam tradisi Anglo-Saxon cenderung menekuni filsafat. Kedua, dalam skala besar, filsafat adalah sebuah materi yang menganalisa konsep, atau berpikir tentang pemikiran).
Immanuel Kant (1724-1804) sempat menyindir guru-guru filsafat, yang katanya: "Misi guru filsafat tidak hanya mengajarkan ide-ide filsafat kepada para siswanya, tapi mengajarkan bagaimana cara berpikir...". Artinya, mengajarkan tata cara mengolah akal pada otak untuk bisa dan mampu berpikir, mencerna segala ilmu secara kritis dan mendalam, serta menguraikan dari hal-hal terkecil sampai tercipta sebuah pandangan yang hebat dalam benak si siswa. Didukung oleh latihan-latihan mengotak-atik dan mengelola kata, yang nantinya mampu menyampaikan ide dan gagasan itu kepada orang lain.
Filsafat bukanlah "ide-ide" itu, tapi "gerak akal" dalam memproses ide-ide tersebut, itulah yang disebut filsafat. Aristoteles (384-322 SM) tidak segan-segan berkata: "Filsafat itu muncul di saat-saat akal tergoyahkan dan bimbang, lalu akal mencoba kembali dan mengenali dirinya sendiri, dan berusaha mencari bukti-bukti, alasan dan pilihan sikap, seperti yang dialami Socrates terhadap diri dan rekan-rekannya dikala mereka ragu. Itulah tanggung jawab akal terhadap dirinya sendiri".
Filosof, seperti kata Plato, bertugas merancang dan menciptakan dasar-dasar perilaku yang akan dijalankan. Dan filsafat berpijak dari sikap mengkritisi pendapat-pendapat yang diterima; inilah puncak pencarian dan memiliki jalinan kuat dengan hakekat sejati (yang benar). Juga lebih mengarah pada diri-diri pelaku, dan seorang filosof mengetahui bagaimana seharusnya manusia hidup, atau apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam mensiasati hidup ini. Inilah misi agung yang diemban filsafat.
Filsafat bukan hikmah itu sendiri, tapi hikmah yang disertai pembuktian perilaku untuk merubah alur kehidupan ke arah tatanan yang seharusnya tercipta Lebih jauh lagi, filsafat adalah cara pandangmu terhadap kehidupan, atau kata Lao Tse (6 SM), "Filsafat adalah jalan hidup", tapi bukan kehidupan ala kraton yang selalu senang dan dipenuhi bunga-bunga indah nan wangi. Dan kata Bung Karno, hidup ini terasa tidak nikmat, atau hidup tidak terasa hidup, jika tidak dicapai melalui "gemblengan" dan mengarungi pahit getir kehidupan.
Confusius ( 551-479 SM) mencoba menyadarkan kita, "Manusia, yang menciptakan jalan hidupnya, bukan jalan hidup ini yang menciptakan manusia. Juga bukan jalan hidup ini yang mencetak manusia menjadi orang hebat, tapi manusia sendiri yang merilis jalan itu. Dengan menapak tiap ruas jalan hidup ini, ia telah menciptakan jalan bagi hidupnya. Dengan kata lain, seperti kata Cicero (106-43 SM), "Filsafat adalah teknik menjalani hidup".