Pertanyaan mendasar yang akan muncul pada otak setiap orang, tatkala dihadapkan pada filsafat; ialah pengakuan atas kesulitan membaca dan memahami filsafat. Benarkah?, setujukah kamu?. Disetujui ataupun tidak, itulah kenyataan bahwa filsafat memang sulit, bahkan lebih dari itu, filsafat itu materi yang pelik, rumit dan melelahkan. Mungkin kamu akan terbawa arus keterputusasaan, pesimistik serta kurang bergairah untuk diajak bersinggungan dan bercengkerama dengan filsafat.
Tahukah kamu, kenapa demikian! Sebab kamu diajak ngobrol tentang hal-hal baru, manusia aneh, pemikiran tak wajar, informasi yang entah dari mana datangnya; seringkali kamu menjuluki filsafat dan filosof sebagai padanan kata "Nyeleneh". Ketika kamu bertatap muka dengan filsafat, mungkin kamu merasa kagum dan mungkin juga bosan, seperti anak kecil yang mungil dan lucu akan berubah seketika jika diberi benda yang belum pernah dikenal, si kecil bisa takut yang membuatnya menangis atau sebaliknya, bisa suka lalu tertawa.
Mungkin, itulah perasaanmu terhadap filsafat, di pandangan pertama!.
Rasa itu tidak hanya dirasakan oleh peminat filsafat, bahkan filosof kawakan pun mengakui hal serupa. Salah satu sebab, mungkin, kesulitan itu berawal dari sasaran filsafat yang berusaha melacak ruang kajian yang terlampau lebar, yaitu kosmos, alam semesta, dunia misteri yang mengandung banyak rahasia; dan filsosof berkeinginan keras mengetahui isi rahim alam semesta. Tidak cukup dengan itu, filosof juga ingin mengetahui apa dibalik yang ada, alam di luar dirinya, yang disebut dunia metafisika.
Ibnu Haitham mengakui perbedaan antar manusia, dari sisi daya aksi dan spirit, bahkan beliau sadar bahwa untuk mencapai hikmah (filsafat) itu sulit sekali, dibutuhkan gerak bertahap serta kemampuan mengasah jiwa secara baik, kemauan yang kuat, daya dan usaha yang ketat.
❅❅❅
Mengapa Filsafat dianggap Sulit dan Pelik ?
Orang belajar filsafat memiliki latar belakang yang berbeda, dengan tingkat kecerdasan yang beragam serta modal dasar yang tidak sama. Mereka bisa dikategorikan dalam 3 tipe:
- Pencinta; tipe ini lebih lebih semangat, antusias dan berambisi untuk mendalami ilmu, apapun bentuknya, termasuk filsafat. Ketahanan diri, keuletan dan kesabaran lebih besar, terutama tatkala mendapatkan suatu kendala dalam belajar. Cenderung mencari solusi atas masalah. Sesuai dengan moto filosof, yaitu "Philo-Shopia" – Cinta Hikmah. C. G. Ducasse, pernah berkata: "Hikmah (filsafat) adalah mengetahui apa yang lebih utama dan lebih baik, secara keseluruhan".
- Pembenci; sifat antagonis yang tidak membangun (unconstructive). Cenderung mencari kesalahan, pikiran buruk (negative thinking). Memiliki semangat yang sama dengan tipe diatas, berambisi besar, tapi bersifat menghancurkan, keinginan kuat untuk selalu menyerang.
- Bukan Pencinta dan Bukan pembenci; tipe ini bersifat angin-anginan, semangat muncul pada saat-saat tertentu, tidak teratur, berfikir asal-asalan, tidak berdasar pada satu patokan.
Diantara 3 tipe diatas; tipe 1 dan 2 layak untuk belajar filsafat. Tipe pertama lebih layak sebab ia memiliki kesiapan mental dan semangat untuk menindaklanjuti tiap bahasan filsafat dengan mudah. Tipe 2 juga layak, walau cenderung memusuhi, tapi sebenarnya ia memiliki sifat kritis dan korektif yang dibutuhkan dalam belajar filsafat. Bahkan, jika pada tipe 1 tidak diiringi dengan sikap kritis, maka ia tidak maksimal dalam memanfaatkan potensinya. Ingat kata-kata Aristoteles, tatkala berbicara: "Setiap orang pasti berfilsafat, termasuk kamu juga akan berfilsafat", dan lanjutnya: "Seseorang, suatu saat, akan berkata tidak akan berfilsafat, tapi orang itu dituntut untuk membuktikan alasan kenapa manusia tidak boleh berfilsafat, justru tatkala ia menunjukkan argumentasi dan data untuk memperkuat pendapatnya bahwa dirinya akan menaggalkan filsafat, sadar ataupun tidak, ia sebenarnya telah melakukan filosofisasi atas pilihan tersebut, lalu memutar otak dan memproses pikiran. Bagaimanapun juga, dalam cinta dan benci, pro dan kontra, manusia pasti berfilsafat", artinya mencurahkan pikiran guna mencari sebuah pembuktian.
Jangan kamu menjadi tipe 3, sebab ia tidak maju dan juga tak mundur, tak berkembang, justru cenderung mematikan pikiran. Tatkala ia siap mengembangkan diri disaat membaca filsafat, ia malah tidak bersemangat, maju mundur seenaknya, volume belajar ditentukan oleh kesempatan, padahal kesempatan itu terbuka lebar jika ia mau maju.
Inilah sikap dasar seseorang belajar apapun; filsafat, politik, kimia dan ilmu-ilmu lain.
Ketepatan Waktu, juga menentukan tingkat kesulitan membaca filsafat. Bagi pemula, tidak baik membaca inti materi filsafat, atau mencoba gaya pemikiran filosof dengan teori-teori mereka, seperti konsep Pragmatisme, Eksistensialisme, Realisme, Idealisme atau paham filsafat lain, tidak sesuai dikaji oleh pemula, sebelum memiliki kematangan dan kesiapan mental yang telah di pupuk lama.
Camkan baik-baik!, gambaran "hari ini" terpampang dihadapanmu, situasi susah dan senang akan meliputi langkahmu, itulah satu-satunya pijakan bagi kelancaran masa depanmu. Manfaatkan waktu untuk belajar, niscaya suatu saat kebehasilan akan tercapai. Para filosof itu juga dulu seperti kamu, tidak tahu apa-apa, namun dengan semangat cinta ilmu, semua cita akan tercipta.
Kalau ingin menuai padi jempolan, terlebih dulu kamu pupuk padi itu, jaga tanaman agar tetap terawat baik, jangan biarkan hama menyerang. Jadi pupuk jiwamu dengan baik, kelak kamu pasti menjadi seorang pemikir dan filsosof besar, manusia jempolan.
Dan kamu harus berfikir: "Siapa Kamu dan Siapa Mereka!", Kamu Pemula, sedangkan Mereka Pakar, Kamu sedang meniti jalan ke arah filsafat yang belum dilalui sebelumnya, dan Mereka sudah berpengalaman di jalan itu, lika-liku dan kelok setiap jalur telah dikenali secara baik. Kamu belum mengasah otak, bertukar pikir dan berdiskusi dengan tema-tema filosofis sedangkan mereka telah mengkaji sangat dalam, menyelami inti filsafat dan telah meneguk mutiara hikmah.
Seumpama berenang, Kamu ini sedang belajar menggerak-gerakkan kaki dan tangan, menyesuaikan diri dengan air, jangan terburu untuk bisa mahir hingga menguasai semua gaya renang; jika kamu memaksa diri untuk meniru gaya mereka, malah yang nampak bukan gaya itu sendiri, tapi sebaliknya 'tidak bergaya'. Pun dengan filsafat, sebagai orang yang ingin mendalami filsafat, jangan bergaya seperti filosof kawakan, jadilah filsosof kecil dulu dengan memikirkan konsep kecil-kecilan, belajar mengungkap rahasia dibalik fenomena, kasus kehidupan yang biasa digeluti orang awam; jika kamu bergaya bak filosof pakar, ingin mengungkap tabir alam dengan menelaah masalah makro dalam kosmos, maka yang terjadi bukan kamu belajar berfilsafat, tapi tidak berfilsafat. Sebab berfilsafat itu tidak berfikir ala kadarnya atau acak-acakan, tapi melalui tahapan pemikiran yang teratur hingga jauh dari teori tak terkonsep, serta tidak terkesan semrawut. Gara-gara ini, ciri pemikiran filosofis pun akan hilang akibat sebuah kecerobohan.
Filsafat itu belajar memproses pemikiran, secara kontemplatif, analitis, obyektif dan metodologis. Dan untuk mencapai itu kamu perlu belajar memproses diri, mengembangkan bakat dan melatih kecerdasan. Tahapan-tahapan berfikir harus dilalui dengan semangat "Cinta Hikmah".
Akal adalah titik awal dan akhir bagi seorang filosof; dari akal ia memulai dan mengakhiri kerjanya. Sebab filsafat merupakan langkah kontemplasi, penghayatan alam sekitar... ia menciptakan masalah, melontarkan berbagai pertanyaan hidup serta usaha mencapai titik hakekat secara terus-menerus (continue). Disaat yang sama, akal membutuhkan kesiapan intelektual agar mampu menguak segala yang ada (maujud).
Tapi akal juga dituntut untuk menggembleng diri, melatih kesabaran untuk memproses ke arah filsafat sejati. Maka dari itu, tempa diri seperti para filosof menempa pikiran dan semangatnya. Dengan melatih diri, maka tatkala kamu membaca filsafat dan memahami inti ajaran filsafat, semua akan terasa ringan dan mengesankan.
Bukankah ibu hamil juga melatih diri bertahan mengandung janin calon bayi itu, hingga si ibu pun merasa ringan menahan bayi dalam rahim. Belajarlah dari ibu hamil “bagaimana ia bisa bertahan”. Dan kamu bisa bayangkan, jikalau kandungan ibu langsung naik 6 kilo, rasanya amat pedih tak terperihkan, bukan?. Itu juga yang akan kamu rasa jika kamu belajar filsafat yang langsung mengarah pada teori inti, tanpa menahan diri mempelajari secara step-by-step.