Kamis, 26 Oktober 2023

Kitab al-Dalail al-Aliyah (Bagian 1)

Kitab al-Dalail al-Aliyah

Saifuna.My.ID - Buku ini merupakan uraian singkat, yang menjelaskan hakikat tasawuf dan thariqat Naqshabandi, yang dalam penulisannya bertujuan untuk ‘mempermudah’ dan ‘memperjelas’ kedua masalah tersebut, dengan harapan agar dibaca dengan perasaan jujur dan penuh seksama sehingga anaka-anakku dari kaum terpelajar dan para murid Naqshabandi pada khususnya, serta para pembaca pada umumnya yang mau menghormati kami dengan membaca risalah ini, supaya mereka betul-betul mengerti intisari dan isi yang tertuang di dalamnya, walau —satu sisi— dengan keterbatasan waktu yang dimiliki dan banyaknya kesibukan yang dilalui, di sisi lain kebutuhan yang kuat pada arahan dan petunjuk seperti ini di dalam buku ini. Harapan kami agar usaha ini diterima Allah ta’ala serta memberikan manfaat kepada kita semua; sesungguhnya hanya Allah ta’ala yang Maha Kuasa terhadap segala kehendak-Nya.

Risalah ini, kami format dalam bentuk “Tanya Jawab”, sebab asal usul buku ini bertolak dari respon keinginan sebagian kaum pelajar dari luar negeri, yang kami cintai, serta jawaban terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh para murid Naqshabandi, berharap penuh kepada Allah ta’ala agar kami dituntun kepada jalan yang benar (lurus) dalam usaha ini, serta mewujudkan maksud dan tujuan inti penulisan buku ini, yaitu menyampaikan ilmu (pengetahuan) kepada ashabul hajah (orang-orang yang membutuhkan) dengan cara-cara yang simple dan mudah —serta menjurus ke ranah daqaiq (materi ini terdalam), jika dirasa perlu—. 

 ******

Kami ingat —saat mempersiapkan penulisan buku ini— terhadap sikap Guru sekaligus saudara kandung kami yang terhormat,  yaitu Syaikh Dr. Muhamad Dhiya’uddin Al-Kurdi —semoga Allah ta’ala menurunkan rahmat-Nya kepada beliau— kala itu kami mengajukan keinginan untuk mengumpulkan seluruh materi yang berkaitan dengan ilmu tasawuf secara umum dan khususnya thariqat Naqshabandi dalam satu buku (kitab). Ternyata, beliau menyambut baik keinginan ini, sambil memberikan komentar seperti berikut:

 “Sesungguhnya kakek kita yang terhormat, Maulana (Muhamad Amin) Al-Kurdi telah mengumpulkan berbagai macam ilmu dan informasi tentang thariqat Naqshabandi dalam kitab yang berjudul “Al-Anwar al-Saniyah”, lalu dicetak, maka jadilah buku ini dalam versi cetaknya, tapi —sayang sekali— tidak dicetak ulang. Karena itu, beliau menebar informasi yang tertuang dalam buku “Al-Anwar al-Saniyah” ini ke dalam karya-karya beliau yang lain. Aku berharap besar, kamu bisa memuwujudkan cita-cita itu kembali”.

Tak lama setelah itu, beliau (Syaikh Muhammad Dhiya’uddin Al-Kurdi) kembali ke sisi Allah ta’ala, akhirnya amanat menjalankan urusan thariqat dilimpahkan kepada kami. Seiring perputaran waktu, kami disibukkan dengan banyak aktifitas yang menghalang serta didatangi banyak hambatan yang merintang, sehingga rencana penuisan buku ini hampir saja terlupakan sampai Allah ta’ala memberikan kemudahan. Keinginan lama muncul kembali dan semakin kuat mengiringi proses penulisan ini sampai buku rampung dan tuntas terbukukan; semua ini berkat rukhaniyah Sayidina Nabi Muhamad SAW, beserta para Syaikh dalam mata rantai (silsilah) thariqat Naqshabandi.

Usaha yang tak sebarapa ini, kami beri judul “Ad-Dalail Al-‘Aliyah: As`ilah wa Ajwibah Fi Thariqat As-Sadah An-Naqshabandiyah”, dengan berharap semoga Allah ta’ala menjadikan buku ini media atau sarana menuju ilmu (pengetahuan) yang berharga di dalam masalah tasawuf dan thariqat Guru-Guru (Naqshabandi) Kholidiyah.

Dan hanya Allah ta’ala, Tuhan yang Maha memberi petunjuk dan pertolongan kepada hamba-Nya. (Wallahu al-Musta’an).

******

Buku seperti ini termasuk buku-buku lain karya ulama’ besar kaum sufi sangat penting di masa kini, terutama setelah kelompok orang tak berilmu, orang-orang yang berjiwa lemah dan kaum pemalsu dari para fakir semakin merebak di mana-mana, kejadian ini sangat disayangkan, terus saja terjadi dan selalu terulang lagi sejak masa Imam Qusyairi , seakan sejarah mengulang dirinya, dalam setiap masa.

“Allah ta’ala telah menjadikan kelompok ini —yakni kaum sufi yang jujur— sebagai wali-wali pilihan, memuliakan mereka terhadap para hamba-Nya setelah para Nabi dan Rasul; menjadikan hati mereka wadah rahasia-rahasia Allah ta’ala, mereka diberi keistimewaan diantara umat ini dengan pancaran nur-Nya. Mereka, penolong bagi para makhluk, dalam kondisi biasa mereka berjalan beserta Yang Haq dengan Yang Haq. Allah ta’ala juga membersihkan mereka dari kotoran manusiawi, menaikkan pada tingkat “Musyahadah” terhadap hakikat Ketauhidan yang ditampakkan kepada mereka. Mengajarkan mereka tentang cara menjalankan etika beribadah (Adab al-‘Ubudiyah), memperlihatkan rute (jalur) hukum bertuhan yang benar (Ahkam Rububiyah), lalu mereka menjalankan kewajiban taklif dan merasakankan taqlib dan tashrif yang datang dari Allah a’ala secara nyata. 

Kemudian, mereka kembali kepada Allah ta’ala dengan rasa butuh yang jujur dan hati yang inkisar; tidak menyandarkan apa yang telah diperoleh kepada sebuah amalan, ataupun keadaan batin (al-Ahwal) yang disucikan Allah ta’ala. Mereka sadar, bahwa hanya Allah ta’ala yang mewujudkan segala iradah-Nya, memilih siapa-siapa sesuai kehendak-Nya, dari para hamba. Tidak ada orang yang bisa menghukumi-Nya, tidak ada makhluk yang mengarahkan-Nya kepada kebenaran; pahala Allah ta’ala adalah awal anugerah-Nya, siksa dan adzab adalah hukum keadilan-Nya, peritah-Nya adalah keputusan yang tidak bisa dibantah”.   

Lalu, datang orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada kelompok suci ini; orang ini dan orang-orang semisalnya telah mengotori kelompok ini, mereka adalah orang-orang yang tidak percaya terhadap kebesaran Allah ta’ala, karena mereka cenderung bersikap tidak perhatian terhadap agama yang menjadi ikatan (dzari’ah) terkuat bagi dirinya, menolak perbedaan halal dan haram, menghinakan diri dengan meninggalkan rasa hormat (ikhtiram), membuang jauh-jauh rasa malu, menganggap enteng pelaksanaan ibadah, meremehkan urusan puasa dan shalat, berpacu dalam kancah kealpaan (kelalaian) diri, terpaku untuk menuruti hawa nafsu dan minuman keras, memanfaatkan orang lain dengan mengambil sesuatu dari orang awam, kaum hawa dan para penguasa, lalu mereka tidak mau berpacu untuk menjauhi perbuatan jahat, sampai mereka menujukkan kepada sebuah hakikat dan kondisi (ahwal) termahal yang bisa didapat, sampai-sampai gambaran kelompok ini persis seperti untaian syair: 

أَمَّا اْلخِيَامُ فَإنَّهَا كَخِيَامِهِمْ ... وَأَرَى نِسَاءَ اْلحَيِّ غَيْرَ نِسَائِهِمْ 

Khemah itu, nampak seperti khemah mereka; tapi aku melihat wanita-wanita penghuni kampung itu bukan wanita mereka.

Kebutuhan kita sangat diperlukan dalam menjelaskan jalan kaum sufi ini, serta membedakan yang benar dari yang jahat dan tidak baik, menyingkirkan yang buruk dari yang bagus dan apik, sesuai tuntutan zaman di era sekarang.

Rumusan thariqat ahli Suluk adalah “menggabungkan antara syariat dan hakikat; antara dhahir dan batin”, konsep ini sangat penting, tema yang selalu diperbaharui setiap zaman. Bagaimana tidak? Menghidupkan agama —yang berarti membaharu sunah dengan memberantas dan mematikan bid’ah yang sudah tersebar luar di tengah-tengah masyarakat— adalah masalah dan inspirasi kenabian, Allah ta’ala dan Rasul-Nya telah mengamanatkan kedua hal ini kepada para ulama’ yang aktif (giat) mengamalkan syariat dari umat ini sampai manusia kembali ke jalan kebenaran dari agama ini

Maka, berkaitan dengan tema yang sedang kita bahas, perlu kami tekankan bahwa sifat kumuh bukan bagian dari agama ini, justru kebersihan itulah sebagian dari iman. Orang sufi yang jujur harus memakmurkan hatinya dengan keimanan yang selaras dengan ajaran Ahli Sunah. Sebagian ulama’ berpendapat : “Orang yang membangun keimanan dengan dasar argumentasi dan dalil-dalil saja, maka iman semacam itu tidak bisa dipercaya sebab ia akan terpengaruh i’tiradhat (dialektika argumentasi yang berisi bantahan dan sanggahan). Dan keyakinan itu tidak dapat diputuskan melalui dalil-dalil belaka, tapi juga harus mendapat pengakuan dari lubuk hati terdalam”.

Orang sufi yang benar bukan orang yang selalu meminta-minta kekuatan ataupun mengharap-harap uluran tangan orang lain, tapi orang sufi yang baik adalah ruh dan hatinya selalu menyala (bergelora lantaran berdzikir), dan fana’ (hanyut dalam kecintaan) kepada Allah ta’ala, dengan cara menjalankan ketaatan kepada-Nya; dari sinilah kekuatan sejati itu muncul, dan ia tidak menentang Allah ta’ala.

Orang yang mengakui diri ahli batin namun bertentangan dengan (syariat) yang dhahir, maka orang ini hanya mengaku-ngaku sufi (sufi palsu), bukan sufi yang sebenarnya yang termasuk golongan Ahli Haq dan Hakikat. Karena ilmu batin menurut kaum sufi terpercaya, tidak lain adalah buah amalan syariat dan hasil mujahadah mengerjakan perintah Allah ta’ala. Dengan ini, para ulama’ menafsirkan ayat: “Bertaqwalah kepada Allah ta’ala dan Allah akan mengajarkan (ilmu) kepada kalian”, taqwa tidak akan terwujud kecuali disertai ilmu syariat. Barangsiapa belajar ilmu syariat dan mengamalkan apa yang diketahui, maka Allah ta’ala akan menganugerahi ilmu yang banyak dan melimpahi makrifat yang tiada habis-habisnya”.  

Tidak berarti sikap kaum sufi terpercaya terhadap ilmu batin itu bermakna harus meninggalkan yang dhahir dan menggubrisnya, akan tetapi mengukugkan pentingnya ilmu batin saat mengamalkan yang dhahir.

Pelaksanaan tuntutan (taklif) syariat menurut kaum sufi ini adalah ibadah yang yang bermihrobkan ilmu batin, bukan ritual dhahir belaka. Perjalanan shalatmu disaat duduk dan berdiri, sama sekali tidak berarti apabila hatimu menyibukkan diri terhadap sesuatu selain Alah ta’ala. Allah memuji sesuatu kaum dengan firman-Nya: الَّذْينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ﴿ “yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Qs Al-Mukminun : 2) ; dan mencela kaum dalam ayat lain: الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ﴿ “yaitu orang-orang yang lupa/lalai terhadap shalatnya” (Qs Al-Ma’un : 5).     

Memang benar, menjalankan amalan dhahir tanpa dibarengi amalan batin, menurut syara’ akan tetap diganjar pahala. Artinya, menunaikan kewajiban yang ditaklif kepada setiap hamba, tidak berdosa sama sekali. Inilah kondisi mayoritas besar orang yang merasa cukup dengan menjalankan syariat karena rasa takut dan penuh harap (thama’). Karena itu, Syaikh Dr. Muhamad Abdurahman Al-Kurdi dalam sebuah ceramahnya, mengatakan: “Sungguh, termasuk rahmat Allah ta’ala kepada kita yang telah memfirmankan ayat: الَّذْينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ﴿ dan bukan الَّذْينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ﴿ .                   

Akan tetapi, amalan dhahir tanpa dibarengi amalan batin tidak cukup bagi orang yang ingin menanjak (menapaki) maqamat ruhiyah. Orang muslim tidak bisa mencapai pengetahuan ilmu yakin dan ‘ainul yakin kecuali jika hatinya telah mehilangkan ketamakan dunia yang senantiasa menggelisahkan, bergelimang cinta kepada Allah ta’ala, Tuhan semesta alam, dibanjiri limpahan nur hakikat, dari sinilah kekuatan itu terlahir.

Para tetua kaum sufi ingin mencapai (wushul) hakikat tidak saja dengan mengetahui dalil-dalil aqli, tetapi sikap pengukuhan mereka menjadi dasar mensucikan hati, riyadhah nafsi (olah jiwa) serta membuang keresahan duniawi. Seorang hamba hanya akan menyibukkan diri mencintai Allah ta’ala dan Rasul-Nya, kesibukan inilah yang menjadikannya hamba yang shaleh, orang yang layak memakmurkan bumi Allah ta’ala ini, berjihad di jalan-Nya, memperbaiki moral yang tidak baik seperti cinta harta, pangkat dan jabatan. Seorang sufi pernah bersyair:  

طَلِّقْ الدُّنْيَا ثَلاَثًا   وَاطْلُبَنْ زَوْجًا سِوَاهَا

إِنَّهَا زَوْجَةُ سُوْءٍ -- لاَ تُبَالِي مَنْ أَتَاهَا

أَنْتَ تُعْطِيْهَا مُنَاهَا    وَهِيَ تُعْطِيْهَا قَفَاهَا

فَإِذَا نَالَتْ مُنَاهَا   مِنْكَ وَلَّتْكَ وَرَاهَا

-Talaklah tiga dunia itu dan carilah pasangan selain dunia

-Sesungguhnya dunia adalah pasangan yang paling buruk. Tidak ada siapapun yg datang padanya yang ia hiraukan

-kamu  memberinya apa yang ia inginkan, namun dunia malah membalasmu hanya dengan punggungnya(membelakangimu)

-Karena jika dunia sudah mendapatkan apa dia mau darimu maka ia akan memposisikanmu dibelakangnya(pergi meninggalkanmu)-

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait