Rabu, 18 Oktober 2023

Abu Hanifah Menaklukkan Logika Ateis

Kemampuan manusia dalam menilisik hal-hal ghaib sngat terbatas, namun masih saja ada orang yang merasa paling mengetahui alam ghaib, selain kasat mata, juga irrasional. Akal manusia selalu ditaklukkan oleh ketidakmampuannya sendiri. Keingintahuan yang terlalu kuat terhadap pengetahuan alam ghaib di luar dirinya, menyebabkan lupa terhadap hal ghaib di diri dan alam semesta. Kebodohan ini menjadikan manusia semakin sombong dan angkuh.

Konon, terdapat seorang Ateis dari Kota Romawi, Ia telah berdebat sengit dengan para Ulama Muslim, namun tidak seorang pun mampu mengalahkan argumentasi orang Ateis tersebut. Lalu, mereka melaporkan kejadian ini kepada Imam Hammad, guru dari Imam Abu Hanifah. Kala itu beliau masih kecil, belum menginjak usia dewasa.

Imam Hamad tidak menyetujui usulan para Ulama, tapi masih resah jika hal ini berkelanjutan, dan memaksakan diri berdebat dengan orang Ateis tersebut, bisa semakin merendahkan kehormatan Islam.

Malam hari, Imam Hamad bermimpi, melihat seekor babi hutan memakan habis semua cabang dan dahan pohon, hanya tersisa akarnya saja. Tak lama, muncul seekor singa keluar dari reruntuhan dan memangsa seekor babi hutan, sampai mati.

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah mendatangi sang Guru, yaitu Imam Hamad di waktu subuh, beliau mendapati sang guru menahan rasa dendam karena ulah si Ateis, dan lantaran mimpinya semalam. Imam Abu Hanifah menanyakan perihal ‘apa gerangan’ yang sedang terjadi pada gurunya, lalu Imam Hamad menceritakan kepada sang murid.

Imam Abu Hanifah pun merespon kisah sang guru, dan berkata:”Alhamdulillah, seekor babi hutan dalam mimpi tersebut adalah si bajingan Ateis, pohonnya adalah ilmu, cabang pohon adalah para ulama, akar pohon itu adalah anda, sedangkan seekor singa itu saya, dengan izin Allah ta’ala, saya yang akan menaklukan si Ateis.

Berangkatlah, Imam Abu Hanifah beserta sang guru ke sebuah masjid agung, lalu Nampak si Ateis menaiki mimbar dan mengajukan tantangan terbuka. Imam Abu Hanifah pun maju dengan gagah berani, padahal usianya masih terlalu kecil, dan si Ateis terlihat sinis, meremehkan beliau.

Imam Abu Hanifah memberi tantangan balik: “Biarkan saja, silahkan kamu mulai ngomong!”. Si Ateis mendadak takjub dengan keberanian Abu Hanifah kecil.

Si Ateis memulai perdebatan dengan berkata: “Bagaimana mungkin ada wujud (baca: terbentuk, tercipta) yang tiada ‘awal’ dan ‘akhir’ ”. Sang Imam pun lekas menjawab: “Apa kamu tahu bilangan?”. “Ya”, jawab si Ateis. “Apa sebelum bilangan ‘Pertama’?”, lanjut sang Imam. Si Ateis menjawab: “yaitu, ‘Pertama’ yang sebelumnya tidak ada bilangan lagi”. Dengan sedikit heran, sang Imam pun menimpali: “, Jika memang tidak ada bilangan lain sebelum ‘Pertama’ yang relative (nisbi), bagaimana dengan ‘Pertama’ yang absolut (hakiki, mutlak), ”

Si Ateis melanjutkan tantangannya: “Dimanakah, ruang Tuhan itu berada?, segala sesuatu itu pasti memiliki ruang”. Sang Imam bertanya balik: “Jika kamu menyalakan lampu (pelita), kemana arah cahayanya?”. “Yach.. ke segala arah”, timpal si Ateis. Lalu, beliau melanjutkan pernayatannya: “Jika cahaya tidak murni (karena efek dari luar) seperti itu, bagaimana Nur (Cahaya) Dzat Kekal Abadi menerangi langit dan bumi”. Ia pun terdiam.

“Dimana tempat Tuhan berada?, bukankan segala sesuatu itu pasti memiliki tempat”, Tanya si Atheis, melanjutkan tantangannya. Sang Imam mengambil air susu, dan bertanya: “Apa di dalam air susu ini terkandung lemak (minyak)?”. “Ya”, jawab si Ateis. “Lalu, dimana lemak air susu ini berada?”, lanjut sang Imam. “Tidak bisa ditentukan dimana lokasinya”, jawa si Atheis. Imam Abu Hanifah pun berkata: “Jika kamu tidak bias menetukan lokasi lemak air susu ini, bagaimana kamu akan bisa menentukan lokasi Dzat yang menciptakan langit dan bumi”.

Merasa terpojok, si Ateis pun lanjut bertanya: “Apa kesibukan Tuhan sekarang?”. Beliau tidak segera menjawab, malah menyuruh kepada orang Ateis ini: “Kamu bertanya masalah ini ketika kamu di atas mimbar, aku pasti menjawabnya. Sekarang, kamu turun dari sana, biarkan aku yang menaiki mimbar”. Selang beberapa lama, beliau melanjutkan: Nah, jawabanku adalah jika ada orang Ateis seperti kamu di atas mimbar, Tuhan pasti menurunkannya. Jika ada orang beriman (bertawhid) sepertiku di bawah, maka akan meinggikannya. “Setiap hari, Tuhan dengan kesibukan-Nya sendiri”. Si Ateis pun tidak lagi bias berkata-kata, pikiranya kacau, dan ia pun dibantai para jamaah yang hadir.

Demikian kisah kepiawaian Imam Ahmad dalam membuat analogi kritis dan logis, sehingga mempu mengangkat derajat agama, menjunjung tinggi nilai-nilai religious yang sengaja dikacaukan para Ateis.

Bisa anda bayangkan, semasa kecil saja beliau mampu menaklukkan pakar ateis, bagaimana ketika beliau telah menginjak dewasa ya…

Sumber: Ahmed bin Mustafa (Butos Kubra Zadah), "Miftah as-Sa'adah wa Mishbah as-Siyadah Fi Maudhui'at al-'Ilm", Vol. II, Halaman. 186, Cetakan I, Tahun 1985 M-1405, Beirut, Dar el-Kotob al-Ilmiyah 

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait