Dalam memahami konstruksi sanad Tarekat Naqshabandi, kata "Tarbiyah Uwaisiyah" menjadi kata kunci dalam memahami koneksi periodik, atau ketersambungan batas ruang dan waktu. Lalu bagaimana memahami model tarbiyah yang acapkali ditemukan dalam literatur tarekat ini...?
Syaikhona Muhamad Najmudin al-Kurdi menjelaskan:
" Syaikh ‘Alaudin al-Attar qs, seorang Mursyid dalam sanad Naqshabandi, menjelaskan makna “Uwaisyiah”ini, beliau mengatakan: “Diantara para Wali Allah swt terdapat sebuah komunitas terdapat Syaikh-Syaikh dan Penghulu tarekat dan hakikat uwaisy, mereka ini tidak membutuhkan mursyid secara zahir karena Hadzrat Kenabian (yakni, Nabi Muhamad saw) telah membimbing dan merawat dalam pangkauannya sendiri secara langsung tanpa perantara (wasilah) orang lain, sebagaimana didikan Nabi saw kepada Uwaisy al-Qorni ra. Ini merupakan maqam yang luar biasa dan level tertinggi. Dari nama Uwaisy al-Qorni ini diderifikasi kata “Tarbiyah Uwaisyiah”.
Pendidikan Uwaisi (Uwaisi Education) adalah bimbingan spiritual (suluk) melalui proses pertemuan yang berlangsung antara rohani (spiritual) Syaikh dari satu sisi dan dan rohani orang yang memiliki kapasitas dan responbilitas terhadap rohani Syaikh dari sisi sang Murid tanpa terjadi pertemuan fisik, secara nyata. Pertemuan rohani ini bisa berlangsung antara Syaikh yang telah meninggal dengan Murid yang masih hidup. Bisa juga berlangsung ketika keduanya hidup dalam satu masa, hanya saja jaunya jarak yang memisahkan keduanya menghalangi terjadinya pertemuan secara fisik.
Maulana Amin al-Kurdi qs, berkenaan dengan kondisi Abu Yazid al-Bustami qs, beliau mengatakan bahwa Abu Yazid –al-Bustami dididik melalui proses uwaisi (spiritual connestion), beliau dididik oleh Imam Ja’far Shadiq secara rohani dan mencapai tingkatan sirr tertinggi secara rohaniah, karena Imam Jakfar Shadiq meninggal pada tahun 148 H, 40 tahun sebelum kelahiran Abu Yazid al-Bustami. Dan para sufi yang dididik oleh Syaikh-Syaikh secara rohani semecam ini disebut Uwaisi, dinisbatkan kepada seorang tabiin bernama Uwais al-Qorni. Ucapan dan pendapat seputar keberadaan tokoh sufi al-Qorni ini benar-benar nyata dan diperkuat bukti-bukti kongkrit dan nampak jelas bahwa beliau pernah dididik Nabi Muhammad saw sendiri secara khusus. Bahkan beliau memberitakan ini dan menyebutkan ciri-cirinya kepada para sahabat. Serta, memerintahkan Sayidina Umar ra dan Ali ra memintakan istigfar jika bertemu dengannya, yakni Uwais al-Qorni.
Lebih lanjut, Maulana Amin al-Kurdi, berkenaan dengan Abu Hasan al-Kharqani, beliau mengatakan bahwa ruh orang hidup di dunia ini bisa berhubungan dengan ruh orang-orang yang di alam barzah secara langsung tanpa cara-cara fisik. Komunikasi spiritual (telepathy) antara pemberi dan penerima. Allah swt menciptakan ruh mustafid terhadap yang diterima ruh mufid …… hal ini jika ruh penerima bersih sempurna, jika tidak maka ruh mufid akan menjadi bentuk ideal. Kala itu yang digunakan dan yang menggunakan akan terjadi komunikasi fisik….
Referensi | Syeikh Muhamad Najmundin al-Kurdi | Ad-Dalail al-'Aliyah | Hal: 12-32