Tidak sedikit para penuntut ilmu, santri mengalami kegundahan seusai menghabiskan masa pendidikan di pondok. Kegiatan ilmu, mempelajari kitan para ulama telah memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Begitu melimpah ilmu dari aneka disiplin pengetahuan, namun faktanya mereka harus memilih, manakah ilmu yang harus diutamakan tatkala kembali ke tengah masyarakat.
Alkisah, Salah seorang murid Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali merasa lelah mencari ilmu-ilmu selama bertahun-tahun sampai ia benar-benar menguasai berbagai bidang disiplin ilmu agama. Suatu hari, ia merenung dan memikirkan nasibnya –sebagai seorang pelajar–, dan katanya: "Saya telah menguras tenaga selama bertahun-tahun menuntut ilmu, dan kini saya sendiri tidak tahu 'mana ilmu yang bermanfaat bagiku diantara ilmu-ilmu yang kuperoleh', agar ilmu ini menjadi penyebab diberikannya hidayah serta membimbingku di Hari Kiamat. Dan aku pun tidak tahu 'mana ilmu yang tidak bermanfaat bagiku', agar diriku bisa menjauhi dan berhati-hati, sebagaimana sabda Nabi saw: "Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat". Pikiran ini selalu menghantuinya serta mendorongnya untuk menulis sebuah surat ditujukan kepada sang Guru –yakni Imam Ghazali– agar beliau memberi petuah tentang kisah ini dan juga masalah lainnya. Seiring dengan semua ini, ia juga meminta nasehat dan doa kepada beliau.
Ia berkisah: "Wahai Tuan Guru!, jika arah jawabanku termuat dalam salah satu karyamu, seperti Ihya' Ulumuddin, Kimia Sa'adah, Jawahirul Quran, Mizanul 'Amal, Qisthasul Mustaqim, Mi'rajul Quds, Minhajul 'Abidin dan kitab-kitab lainnya. Maka, pelayanmu (khodim) yang lemah ini, berotak tumpul dan tidak cerdas mempelajarinya, saya memohon tuan guru sudi membuat ringkasan (resume) agar saya bisa membacanya setiap hari dan mengamalkan isinya... dan seterusnya.
Lalu sang Guru menuliskan risalah ini sebagai jawaban atas permintaan sang Murid. Dan kata-kata sang Guru berbunyi sebagai berikut:
Ketahuilah!, anakku tercinta dan sahabatku yang ikhlas, semoga Allah memperpanjang istiqamahmu dalam menjalani ketaatan dan dituntun ke jalan para kekasih-Nya. Sungguh, semua nasehat para Ulama terdahulu dan sekarang, telah termuat dan terkumpul dalam hadits-hadits Nabi saw, karena beliaulah yang telah diberi 'Jawami'ul Kalim'. Setiap ahli nasehat, apapun isi nasehatnya, ia sebenarnya terlalu kecil dihadapan materi nasehat Nabi saw. (Jikalau nasehat Nabi saw telah sampai kepadamu, maka kamu sudah tidak membutuhkan nasehatku lagi, dan jika ternyata nasehat Nabi saw tidak sampai kepadamu maka katakan kepadaku: "Apa yang kamu peroleh dari ilmu-ilmu yang selama ini telah menghabiskan sisa umurmu yang ternyata terbuang sia-sia").
Anakku!, setiap nasehat Ulama terdahulu dan kini telah termuat dalam untaian kata-kata Rosulullah saw, tertulis untuk seluruh alam semesta ini, dan untaian beliau memiliki faedah yang sempurna, diantaranya hadits ini:
"Tanda-tanda Allah berpaling dari hamba, adalah menyibukkan diri sengan sesuatu yang tidak berguna. Apabila seseorang kehilangan sesaat saja dari umurnya untuk menjalankan sesuatu yang bukan tujuan ia diciptakan, maka lebih layak ia memperlama kerugiannya; barangsiapa yang melewati umur 40 tahun, dan kebaikannya tidak melebihi kejahatannya, maka hendaknya ia mempersiapkan diri masuk neraka". Nasehat dan arahan beliau ini cukup –sebagai modal hidup– bagi seluruh penduduk bumi.
Anakku!, memberikan nasehat itu mudah sekali, tapi sulit diterima dan diamalkan, karena nasehat itu terasa pahit di lidah para hamba nafsu dan larangan itu lebih disukai oleh orang awam, terutama bagi orang yang bertekad mencari ilmu-ilmu rasam, [1] ilmu maharah [2] dan semisalnya, demi memperoleh jabatan, kehormatan duniawi, karena tujuan mereka mencari ilmu adalah hanya ilmu saja tanpa mau diamalkan, agar ia bisa disebut orang berilmu, seperti julukan 'Si Fulan adalah seorang Alim yang terhormat', dan ini adalah keyakinan yang salah dan merusak. Kadar ilmu ini menjadi puncak ilmu filsafat –wal 'iyadz billah– karena tujuan mereka adalah sekedar mencari ilmu tanpa menoleh sedikitpun pada amal (praktik). Mereka tidak sadar, ilmu bagi mereka adalah hujjah belaka sedangkan mereka sendiri lupa terhadap sabda Nabi saw:
"Manusia yang siksaannya paling pedih di akherat adalah seorang ilmuwan (alim) yang tidak memanfaatkan ilmunya".
Imam Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan dari Mansur bin Zadan ra, ia berkata: "Kami mendapat berita, bahwa orang berilmu yang tidak memanfaatkan ilmunya, maka penghuni neraka akan menjerit tercium bau anyir orang ini, mereka bertanya: "Apa yang kau lakukan, hai penjahat?, kamu telah menyakiti kami dengan bau busukmu itu, apa tidak cukup bagimu rasa sakit dan derita yang kini kita alami?, lalu orang ini menjawab: "Aku ini orang berilmu (alim), tapi tidak mau memanfaatkan ilmuku".
Konon, sebagian rekan dekat Imam Junaid melihatnya dalam sebuah mimpi setelah ia meninggal, ia bertanya; "Apa yang dilakukan Allah kepadamu?", Imam Junaid menjawab: "Semua isyarat telah lebur, ibarat-ibarat itu telah sirna, ilmu-ilmu itu telah musnah dan ilustrasi itu telah pudar, yang bermanfaat kala itu hanya beberapa ruku' yang pernah kita lakukan di tengah malam –shalat lail–".
Referensi : Cuplikan pendahuluan kitab "Khulashoh Tashanif", diterjemahkan Syaikh Muhamad Amin Kurdi dari salah kitab Hujjatul Islam Imam Ghazali.
- Ilmu Rasam: seperti gambar (drawing), lukisan (painting), design, illustration atau graphic; mengarah pada ilmu seni, ilmu pahat dan sebagainya, bahkan bisa juga mengarah para ilmu-ilmu lain yang berorientasi sama, seperti ilmu tentang perencanaan (planning).
- Ilmu Maharah: berarti skill (ilmu ketrampilan), ilmu ketangkasan atau ilmu-ilmu lain yang berorientasi pada profesi, bisnis dan sebagainya.