Nafsu Mardhiyah, adalah fase keenam dari 7 maqamat sufi. Jiwa-jiwa yang membuat salik merasa mendapatkan ridha Allah ta'ala.
Fase Keenam : Jiwa pada fase ini disebut "Nafsu Mardhiyah", sedangkan posisi Salik adalah Najib (pengawas). Fase ini merupakan manifestasi dari ayat Allah ta'ala : "Shirat al-Ladina An'amta 'alaihim" (QS Al-Fatihah : 6)
| Kunci | Berakar dari lafadz "QAYUM" dan cabangnya adalah "Ahad Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Tunggal) |
| Tempat | Sirr Akhfa, yakni sirul al-Sirr terletak di dada |
| Sifat | Nafsu Mardhiyah |
| Persepsi | Dzat yang menciptakan langit dan bumi beserta makhluk yang berada di dalamnya, disinilah "Maqam Irsyad" yang menggabungkan 2 latifah haqqiyah dan halqiyah |
Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir
"Wahai Yang Maha Mandiri, yang atas-Nya segala sesuatu ada, dan Dialah tak lain adalah Engkau, wahai Tuhanku, jadikanlah aku salah seorang hamba-Mu yang saleh dan dekat kepada-Mu, wahai Yang Abadi, wahai Yang Maha Esa, wahai Allah."
Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini
Fase ini disebut “Tajalli al-Sifat”. Di sini, sang pencari kebenaran (salik) kembali menerima bimbingan dari guru yang sempurna dan mulai menyaksikan dalam perjalanan serta perilakunya jiwa yang sehat, sambil berdoa, “Ya Qayyum, Ya Ahad, Ya Allah.”
Fase ini disebut “Tajalli al-Sifat”. Di sini, sang pencari kebenaran (salik) kembali menerima bimbingan dari guru yang sempurna dan mulai menyaksikan dalam perjalanan serta perilakunya jiwa yang sehat, sambil berdoa, “Ya Qayyum, Ya Ahad, Ya Allah.”
- Jika ia melihat dalam mimpinya Arasy, Kursi, Lauh, Qalam, atau Malaikat yang dekat dengan Allah ta’ala, hal itu menandakan bahwa pandangannya selalu tertuju pada Tuhan Yang Maha Benar.
- Jika ia melihat matahari, itu menandakan cahaya-cahaya ruh;
- Jika ia melihat bulan, itu menandakan cahaya-cahaya akal;
- Jika ia melihat planet-planet, itu menandakan hilangnya kegelapan;
- Jika ia melihat kilat, itu menandakan peringatan;
- Jika ia melihat cahaya-cahaya, kilatan, atau tanda-tanda ilahi, semua itu menandakan ketaatan.
Dan penyingkapan asma Allah ta'ala (at-Tajalli al-Asma) dan at-Tajalli as-Sifat ini yang kembali kepada Tuhan yang telah meridhoinya.
Dan bagian kedua dari tingkatan keilahian, yaitu ketika Allah ta’ala menampakkan diri dengan sifat-sifat-Nya yang hakiki seperti sifat mendengar dan melihat. Pada penampakan tersebut, hamba melepaskan diri dari semua sifat yang fana dan berdiri dengan sifat-sifat yang abadi; sehingga pada saat itu ia tidak melihat dan tidak mendengar kecuali dengan sifat-sifat Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi: “Dan dengan-Ku ia mendengar, dan dengan-Ku ia melihat, dan dengan-Ku ia berbicara” dan sebagainya. Maka penampakan ini adalah penampakan yang tersifat.
Referensi Tulisan ini :
| Judul | Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq |
| Penulis | al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab, |
| Penerbit | al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab |
| Tahun Cetak | 1351 [1932/1933] |