Bismillahriahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga salam serta rahmat yang paling sempurna tercurahkan kepada Nabi dan Pemimpin kita Muhammad shallahu alaihi wasalam, serta keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang berbuat kebaikan hingga Hari Kiamat.
Adapun risalah kecil ini, meskipun singkat namun sangat bermanfaat. Para ulama salaf, radhiyallahu 'anhu, sangat memperhatikan pembinaan diri secara serius, bahkan rela mengorbankan nyawa demi hal tersebut. Mereka menyadari bahwa seberapa pun tinggi ilmu duniawi yang dimiliki seseorang, ia tidak akan dapat mengenal Tuhannya kecuali melalui pengenalan dan pengetahuan terhadap diri sendiri, sebagaimana disebutkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya”.
Hal ini hanya dapat tercapai dengan cara menempuh jalan akhirat, memperbaiki keadaan lahir dan batin, serta meneladani akhlak yang mulia. Solusi terbaik untuk mencapainya adalah sering berzikir, karena di dalam zikir terdapat proses pembersihan hati dan penghapusan aib serta dosa. Juga, di dalam zikir tersimpan asupan gizi (makanan) bagi jiwa serta memperkuat tubuh hingga mendekatkan diri kepada hakikat, melihat dunia perintah (‘alam al-Amr), dan memperoleh penglihatan (musyahadah) yang menakjubkan serta hal-hal yang unik yang tidak dapat dipahami atau dirasakan kecuali oleh para ahli suluk sufi ini, dan pelakunya dapat mencapai derajat keyakinan dalam mengenal Tuhan Semesta Alam.
Selanjutnya, hati menjadi tenang dengan kesempurnaan iman melalui seringnya mengingat Allah “Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang?” (QS Ar-Ra’d : 28 ) dan cermin jiwa menjadi bersih karena zikir ini, berubah dari yang cenderung ke arah kejahatan menjadi tenang, hingga menjadi sempurna. Telah disebutkan bahwa setiap hal memiliki penyempurnaan, dan penyempurnaan hati adalah berzikir “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”, maka barangsiapa yang menerima risalah ini dengan ikhlas dan mengamalkannya dengan serius, maka telah disebutkan bahwa dari orang yang mengucapkannya dengan ikhlas selama empat puluh pagi, akan muncul mata air hikmah dari hatinya ke lidahnya.
| Judul | Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq |
| Penulis | al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab, |
| Penerbit | al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab |
| Tahun Cetak | 1351 [1932/1933] |
Dan karena kebenaran ini sangat penting dan menjadi landasan suluk yang bisa diandalkan, ia mengumpulkan risalah ini dari ucapan para ahli, yaitu dua guru yang mulia, Syaikh Abdul Qadir Afandi al-Dahhan dan Syaikh Rajab Afandi al-Ta'i al-Hatimi, cucu Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi, semoga Allah meridhoinya, dan mereka menjelaskan di dalamnya tentang cara bersuluj untuk mengenal Allah ta’ala (Penguasa dari Para Penguasa), dan menjelaskan apa yang dialami oleh orang yang menempuh jalan ini selama berdzikir di tempat khusyuk, agar ia memiliki wawasan yang jelas tentang urusannya.
Dan aku memohon kepada Allah agar memberikan manfaat umum bagi setiap orang yang membacanya, menempuh jalan para ahli, dan menjalankan syariat yang suci sebagaimana dituntut oleh dzikir. Dan Allah-lah yang memberi kesuksesan, dan kepada-Nya segala urusan kembali.
❅❅❅  
MUQADIMAH KITAB "RISALAH SULUK"
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam, serta kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya, dalam setiap detik dan nafas, sebanyak yang diketahui Allah ta’ala.
Adapun setelah itu, inilah risalah singkat untuk menjelaskan apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang menempuh jalan Allah ta’ala dan pengantar untuk memudahkan pemahaman terhadap tiga catatan (sifr) yang menjelaskan lingkaran kewajiban (necessity) dan kemungkinan (possibility) serta menerangkan cara bersuluk dari pintu-pintu tujuh tahapan (fase/maqamat) yang kami kumpulkan dari karya-karya Guru Agung, Syekh Al-Akbar Ibnu “arabi, semoga rahmat Allah ta’ala melimpah padanya, yang mencakup hal-hal yang memerlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut.
Namun, karena ruang lingkup masalah tersebut tidak dapat tertuang dalam tulisan yang dapat dicetak di sebuah percetakan, maka itu kami ingin menjelaskan dan memisahkannya dalam bentuk tabel di buku lain dan di sini kami hanya akan menjelaskan model-model dzikir yang mampu menenggelamkan para murid dalam lautan cahaya, serta akan menunjukkannya dalam tabel dzikir harian dari risalah ini dengan huruf tebal di sebelah gambaran-gambaran yang melengkapi dasar-dasar dzikir, baik dari dua latifah yang haqqiyah maupun yang khalqiyah, karena tiga tahapan/fase pertama—yaitu Amarah, Luwamah, dan Malahimah—latifahnya bersifat khalqiyah, sedangkan pada tahap Mutma’ina dan Raji’ah, latifahnya bersifat haqqiyah, sebagaimana akan diketahui dari tabel harian.
Dengan pertimbangan ini jumlah latifah menjadi lima, yaitu dada, hati, ruh, rahasia, dan yang tersembunyi, dan tempat-tempatnya disebutkan, masing-masing di tempat yang khusus.
Kemudian kami juga akan mencantumkan di bawah tabel tersebut doa-doa permohonan yang dipanjatkan oleh seorang pencari kebenaran (salik) kepada Sang Pencipta, serta apa yang ia saksikan dalam sebuah mimpi dan kejadian nyata; dan untuk setiap tingkatan, terdapat jenis khusus yang menjadi petunjuk mengenai tingkatan yang menggambarkan kondisi batin sang pencari kebenaran (salik) itu sendiri. Kami juga menambahkan jenis-jenis penampakan ilahi dan menjelaskannya dalam tingkatan-tingkatan yang menenangkan, memuaskan, menyenangkan, dan suci,
Oleh karena itu, agar dapat mengenal tingkatan dirinya sendiri dan memanfaatkan bimbingan gurunya, setiap murid dari berbagai jalan spiritual (tarekat) disarankan untuk memiliki salinan dari risalah ini. Meskipun dasar dan cabang-cabang dzikir serta jumlah tahapannya berbeda-beda, namun semuanya kembali kepada satu Kehadiran, yaitu Kehadiran Allah. Oleh karena itu, kami menamakannya “Al-Wasilah al-Hadiyah al-Jami'ah li-Kull al-Tariqat” atau “Risalah al-Suluk al-Khadimah li-Kull al-Tariqat” karena ia berfungsi sebagai lampu bagi pencari jalan sufi yang ingin memasuki jalan kesuksesan dan menggantikan senjata bagi yang berdzikir yang bertujuan untuk memperbaiki diri dan meraih kesuksesan. Maka, beruntunglah orang yang berhasil menerapkan hukum-hukumnya, dan kabar gembira bagi siapa saja yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan tetap konsisten pada doa-doanya, serta memperhatikan perbaikan amalnya dan peningkatan akhlak serta perbuatannya.
Kami memohon kepada Yang Maha Benar, Yang Maha Melimpah, Yang Maha Mutlak, agar membuka pintu keberhasilan dan kesuksesan bagi siapa saja yang menginginkannya, agar mencapai tingkat pencerahan yang mengarah pada jalan yang baik, dan Allah menuntun siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.