Senin, 06 Mei 2024

Ketika Kyai Hasyim Asyari Mengkritik Perilaku Uzlah

Aku, hamba yang fakir (sangat membutuhkan rahmat) Allah ta’ala, Muhammad Hasyim Asy’ari, semoga Allah mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan semua muslimin berpendapat : Hijrah kepada Allah ta’ala seperti yang dinisbatkan (dilakukan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hijrah semacam ini dapat diterima. Begitu juga, seperti hijrah yang dinisbatkan kepada Sayidina Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hijroh yang dinisbatkan kepada orang-orang seperti kita ini, maka perlu didetailkan, dipikirkan dan dipertimbangkan lebih dalam.

Sungguh, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri, seorang alim yang serius dalam beribadah kepada Allah ta’ala; selalu mengerjakan shalat malam dan di siang harinya berpuasa; dia hanya berbicara seperlunya, sesuai kebutuhan; melaksanakan ibadah haji berkali-kali sehingga ia memperoleh level kemursyidan (syeikh/guru) Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebagian hari-harinya, sang guru ini beruzlah (menjauhkan diri) dari hiruk pikau kehidupan manusia di salah satu kamar di rumahnya, tidak meninggalkan kamar kecuali demi menjalankan shalat berjamaah dan mengajari para murid-muridnya tentang tata cara berdzikir kepada Allah ta’ala.

Pada suatu hari, ia keluar untuk melaksanakan shalat jum’at. Ketika telah sampai di masjid, tiba tiba dia marah besar kapada para jamaah shalat jum’at yang hadir di masjid, sambil berbicara dengan kata-kata kotor dan kasar kepada para jama’ah, kemudian ia bersegera kembali ke rumahnya.

Suatu saat, seorang penguasa kota itu mendatangi rumahnya untuk meminta do’a agar sukses. Pejabat tersebut memberinya uang sebagai tanda terimakasih; dan sang guru alim itu menerima uang, lalu mendoakannya; bahkan sang alim itu menyambut dengan penuh keramahan dan kehangatan.

Selang beberapa hari, aku (Hasyim Asy’ari) mendatangi rumahnya. Dan aku berdiri persis di depan pintu rumahnya dalam waktu yang lama, tapi dia tidak juga keluar padahal aku telah memanggilnya berkali-kali.

Tak lama setelah itu, istri sang Guru pun keluar, sambil berbicara dari belakang pintu, ia berkata, “Saudaramu (yaitu, sang guru) tidak mau keluar dari tempatnya untuk menemui siapapun” lantas aku berkata, “Katakan padanya, saudaranya yang bernama Muhammad Hasyim Asy’ari ingin bertemu. Hendaknya dia cepat keluar. Jika tidak mau keluar, aku akan masuk dan mengeluarkannya secara paksa”. Kemudian isterinya masuk dan memberitahu suaminya tentang kedatanganku. Lalu keluarlah dia untuk menemuiku. Dan aku bertanya, “Wahai saudaraku, aku mendengar kamu melakukan hal ini dan itu. Apa yang menyebabkanmu berbuat seperti itu? Sang guru itu menjawab, “Sesungguhnya aku telah melihat manusia tapi tidak dalam bentuk manusia. Aku melihat mereka dalam rupa monyet” Aku katakan kepadanya, “Mungkin setan telah menyihir kedua matamu dan merancaukan hatimu. Dan seakan setan itu berbisik, “Tinggallah saja di kamar, jangan keluar dari rumahmu, agar orang-orang di sekitarmu mempercayai kalau kamu itu seorang wali, sehingga mereka berduyung-duyung berkunjung dan mencari keberkahan kepadamu, sambil mereka membawakanmu hadiah dan pemberian yang banyak”.

“Cobalah, kamu renungkan lagi, wahai saudaraku dengan penuh keinsafan. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, “Sesungguhnya tamu itu mempunyai hak atas kamu”, dan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu”.

Setelah beberapa hari berlalu, sang guru yang alim itu datang ke rumahku dan mengatakan, “kamu memang benar saudaraku. Sekarang aku telah meninggalkan ‘uzlahku, dan aku mengerjakan seperti apa yang biasa manusia lakukan” Demikianlah kesibukan sang guru ini hingga beliau wafat. Semoga Allah ta’ala merahmatinya.

UZLAH DAN KHOLWAT DALAM TAREKAT NAQSHABANDIYAH

KHALWAT DAR ANJUMAN

Abu Muhammad Al Khawash berkata: Aku mendengar Al Junaid bin Muhammad berkata: Al Harits bin Asad Al Muhasabi mendatangi rumahku, lalu Al Muhasibi berkata, "Mari ikut aku jalan-jalan menyusuri tepian padang pasir." Aku pun bertanya kepada beliau, "Apa engkau ingin menyudahi ulah/khalwatku dan ketenangan hati/jiwaku dalam khalwat ini untuk menelusuri jalanan kota, gangguan dan menyaksikan hal-hal yang menggugah syahwat?", Beliau, Imam Al Muhasibi lantas menjawab, 'Ayo.. ikut aku saja dan kamu jangan khawatir."

Akhirnya, aku keluar berjalan-jalan bersama beliau. Ternyata, saat itu jalanan menjadi kosong dari segala hal yang mengganggu (hatiku), dan kami pun tidak melihat hal yang kami tidak sukai.

Ketika kita sampai pada satu tempat, kami pun duduk-duduk, dan Al Harits Muhasibi berkata padaku, "Tanyalah sesuatu kepadaku." Aku menjawab, "Aku tidak ada pertanyaan untuk ditanyakan kepadamu, wahai Imam Muhasibi!" Selanjutnya, beliau bertanya lagi, "Tanyalah tentang apa saja yang terjadi pada dirimu." Tak lama setelah itu terlintas beberapa pertanyaan, dan aku menanyakannya kepada beliau, dan setiap pertanyaan dijawab saat itu juga.

Setelah itu, beliau pergi menuju rumahnya dan menciptakan sebuah buku.

Imam Junaid re melanjutkan kisahnya: ... aku sering kali bertanya kepada Imam Al Muhasibi, "...(bagaimana dengan) ulah dan hobi berdzikirku, sedangkan anda selalu mengajakku keluar berjalan-jalan ke tempat ramai yang kurang baik (seperti pasar,dll), menyaksikan keramaian dan sesak jalanan?" Malah, beliau menimpali, "Berapa kali kamu selalu momong “ulah..uzlahku, zikir...dzikirku”? kalaupun separuhmanusia ini mendekatiku, aku tidak memperoleh hobi (dzikir) dan ketenangan batin dari mereka. Dan jikalau separuh lagi dari menjauhku, tidak menjadikanku buruk atau jelek gara-gara mereka menjauhiku. (Hilyatul Awliya’, dan shofwatu shofwah la jauzy)

KAROMAH DAN KEWALIAN

Najmaudin Kubra, “Risalah di Asy-Syariah, At-Tariqah Kwa Al-Haqiqah”, mengatakan : “Kalau kamu melihat seseorang yang bisa terbang di udara, berjalan di atas lautan, atau memakan api, atau hal lain yang menyerupai karamah, sedangkan dia meninggalkan kewajiban yang yang diperintahkan Allah ta’ala dan Sunnah Nabi Faw; maka ketahuilah bahwa sesunggugnya dia seorang pembohong dalam setiap pengakuan dan dakwaannya ”

Imam Yunus bin Abdul A’la as-Shadafi rahimahullah berkisah, Aku bertanya kepada Imam Syafi’i, sesungguhnya Laits pernah mengatakan, jika kalian melihat seorang berjalan di atas air, maka jangan kalian tertipu dengannya hingga terbukti berpegang teguhnya dia kepada al-Qur’an dan as-Sunnah!

Maka Imam Syafi’i berkomentar, Laits rahimahullah belum sempurna definisinya, bahkan yang benar adalah jika kalian melihat seorang berjalan di atas air, terbang di udara, maka jangan kalian tertipu denganya hingga kalian mengetahui berpegang teguhnya ia dengan al-Quran dan as-Sunnah (majmu’ Rasail bal Masail Ibn Taimiyah)

« Sebelumnya
Prev Post
Selanjutnya »
Next Post

Artikel Terkait