Selasa, 22 Agustus 2023

Syeikh Dhiya' udin Najmudin Al-Kurdi

Syaikhona al-Alim al-‘Allamah Muhamad Dhiyaudin lahir di Kairo pada tanggal 27 April 1937, selesai menamatkan hafalan Al-Qur'an di masa mudanya, lalu beliau belajar di Institut Azhar Kairo dan kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Ushuludin pada tahun 1960 dan lulus pada bulan Mei 1964 dan diangkat sebagai Imam, Dai dan Guru di Kementrian Agama Mesir dari tahun 1965 sampai 1 Pebruari 1973 di mana beliau diangkat menjadi dosen di Fakultas Ushuludin setelah memperoleh gelar doktor dengan predikat Cumlaude dan terus menjalankan tugas-tugas akademiknya di perguruan tinggi ini. Selanjutnya beliau diangkat sebagai asisten profesor di Jurusan Aqidan dan Filsafat pada 31 Desember 1977. Beliau diangkat sebagai Wakil Dekan pada 31 Mei 1983 setelah memperoleh gelar profesor pada 13 April 1984 dan tetap bekerja di perguruan tinggi sampai detik-detik akhir hayatnya, kembali de sisi Allah ta’ala 1 Pebruari 2001

Syeikh Osama as-Sayid Mahmud al-Azhari, menuturkan profil singkat berliau dan katanya: “Beliau, Yang Mulia Sosok Ulama Sheikh Terhormat, bernama Mohamed Dhia al-Din bin Mohamed Najm al-Din Ibn Imam Mohamed Amin al-Kurdi al-Shafi'i al-Azhari. Beliau Merupakan salah seorang ulama besar Al-Azhar Al-Sharif, dan tumbuh di dalam keluarga yang sangat memulaiakn ilmu, kebajikan dan kebijaksanaan. Termasuk salah seorang wali Allah dan ahli Makrifat. Beliau melanjutkan pendidikan di Univesitas Al-Azhar Al-Sharif sampai memperoleh Ijazah Sarjana dari Fakultas Ushuludin pada tahun 1964, dan pada tahun 1968 memperoleh gelar magister, dan kemudian mendapatkan gelar doktoral pada tahun 1972. Syaikh Dhiyaudin pernah menjabat dekan Fakultas Ushuludin, jurusan Aqidah dan Filsafat di Universitas Al-Azhar. Beliau juga banyak menerbitkan buku-buku, diantaranya:الأخلاق الإسلامية والصوفية ، عقيدة الإسلام في دفع شبهات خصوم الإسلام ، علم الباري عند المحققين وغيرهم من مفكري الإسلام ، السيد علي وفا حياته وتصرف .Dan beliau kembali ke pangkuan Ilahi rahmat pada tanggal 6 Dhu al-Qa'dah pada tahun 1421 H, bertepatan dengan 31 Januari 2001 M (1)

Kharisma tokoh sufi yang sangat ‘Alim ini adalah keseriusan dalam hidupnya dan ketulusan dalam amal perbuatan dengan bertawajjuh kepada Allah secara total, disertai sikap kemurahan hati dalam moral dan karakternya. Dan ini Nampak jelas dalam hubungannya dengan para saudara, murid-murid dan tamu-tamunya Bukan rahasia umuj, semua menjadi saksi atas sifat kemurahan hati dan lapang dada dalam segala urusan, baik dalam perkataan, perbuatan, dan haliyah setiap harinya, Adapun ilmu beliau, tidak diragukan bahwa beliau seorang imam dalam aqidah islam yang lurus, mengetahui Tuhannya dengan sebenar-benarnya, sangat menjunjung nilai-nilai keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan para hamba Allah yang saleh. Beliau juga salah satu referensi disiplin keilmuan islam, seperti ilmu tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, bahasa, sastra dan sejarah Islam

Seorang Guru, Murshid Agung yang sangat mencintai ilmu. Sejak kecil beliau telah menghafal (al-hafidz) al-Quran, dan mengemban tugas kemursyidan dari sang kakak, yaitu Syeikh Abdurahman Najmuddin Muhammad Amin Al-Kurdi. Etika Rosulullah SAW telah menjadi cerminan kehidupan sosial, terutama terhadap para pencari ilmu.

Beliau merupakan salah satu potret keajaiban profil ulama sudi di masanya, dari segi ilmu pengetahuan, perilaku, pemahaman, kejeniusan dan pengabdian yang tulus kepada agamanya. Tokoh ulama Al-Azhar Al-Sharif sangat brilian dalam ilmu-ilmu agama. Beliau memiliki kepribadian yang langka berani dalam membela agama Islam dan segala yang merongrong sendi-sendi agama ini, juga sangat getol dalam dalam membela institusi Al-Azhar, namun sayangnya hal ini tidak banyak diketahui orang, dimana beliau memiliki semboyan hidup dan motto yang selalu terdengar di media-media resmi nasional. Setiapkali fitnah dan kemunafikan tersebat, maka dampak kejahatan itu akan segera padam hanya dengan kata-kata beliau, tetapi telah menjadi kebiasaan para masyayikh naqshabandi kita yang sengaja tidak mempublikasikan ihwal tersebut dan tidak menerima jasa untuk melakukan semua itu, dan cenderung tidak peduli dengan hal remeh temeh keduniaan, namun niat utama para masyayikh adalah ingin menyelamatkan manusia demi meraih ridha Allah ta’ala

Dalam sebuah kesempatan, tatkala digelar peringatan milad Syeikh Dhiyaudin al-Kurdi, Syeikh Fathi Abdurahman Ahmed Hijazi al-Azhari menggambarkan potret sosok Syeikh Dhiyaudin :

Syeikh Dhiyaudin bagai matahari di senja pagi, di antara para rekan semasa kuliah di fakultas Ushuludin al-Azhar. Jika belau duduk bermujalasah dengan mereka, beliau tampak seperti rembulan yang selalu dipanuti, dan jika berbicara semua orang khusyu’ kepada Allah ta’ala yang mempersatukan mereka bersama-sama hamba (ahlu) Allah yang sholeh, khususnya pimpin mereka Syekh Dhiyaudin, dan ini tidak hanya di kampus, tetapi dalam setiap pertemuan dengan rekan-rekannya di majlis ilmu ke mana pun beliau pergi di kampus atau di majlis-majlis ilmu dan ulama. Beliau memiliki pengaruh nyata di mana-mana, bahkan pengaruh itu akan tetap kekal di lidah para pecinta beliau sampai ilmu yaqin datang kepada mereka, semua itu berkat kemuliaan (fadhal) Allah kepada beliau dan orang-orang sepertinya dari hamba-hamba Allah yang saleh

Orang beriman ibarat hujan di mana pun ia berpijak disitulah muncul berbagai manfaat, seperti juga yang berlaku pada Rasulullah saw. Syeikh Dhiyaudin selalu bersua bersama para murid di berbagai negara, dan ketika beliau diundang maka pertamakali yang didatangi adalah masjid untuk menunaikan sholat wajib, atau sholat jumat, baru setelah itu beliau mulai menyampaikan ceramah umum, yang dipenuhi kata mutiara, petuah dan hokum-hukum agama, tak lupa pula dibumbuhi kisah-kisah menarik penuh hikmah, pengetahuan yang disampaikan mudah dipahami oleh khalayak umum dengan cara-cara yang sangat menawan dan inspiratif sesuai dengan semua jenis dan ragam manusia. Yang alim pun akan mendapat berkat dan menambah pengetahuannya, sang murid dapat cipratan barokah dan kemulainnya, kehidupan orang awam pun menjadi lebih baik berkat tangan berkat beliau, akan hidup penuh berkah di dunia dan akherat karena wejangan beliau, sebab semua orang mengetahui bahwa setiap perkataan dan petutur beliau merupakan tetesan hikmah dan membuka cakrawala makrifat yang tak cukup ditulis dengan kata-kata. Seorang ALim yang mengamalkan ilmunya, maka ia akan terbuka pengetahuan yang langsung dari Allah ta’ala dan dibuka rahasia-rahasia ilahi yang menakjubkan. Seperti difirmankan Allah ta’ala :

فَوَجَدَا عَبْدَاً مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاه رَحْمَهً مِنْ عِنْدَنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمَا" | الكهف 65 |

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Maka, bermujalasah dengan mereka akan dipeunhi dengan rahmat, ilmu dan makrifat dari Tuhan Sang Pencipta segala yang ada. Dan itulah anugerah Allah yang dikaruniakan kepada siapa pun yang Dia inginkan, dan Allah Maha Luas dan Mengetahui.

Sungguh benar sabda Rasulullah saw yang menyatakan :

"مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَكُنْ يَعْلَم وَجَعَلَ لَهُ وِلاَيَةً عَلَى مَا يَعْلَمُ "

Barangsiapa yang beramal dengan apa yang dia tahu, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang dia tidak ketahui.”

Juga, benar sekali sabda beliau yang lain:

إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ

"Para ALim Ulama' adalah pearis paa Nabi"

Semoga Allah melindungi Syekh kita!! Saya sekali saja tidak pernah melihat beliau duduk bermujalasah tanpa melakukan amal perbuatan baik. Kadangkala, saya melihat beliau menjalankan sholat, membaca AL-Quran ataipun mempelajari (muthalaah), mengkaji buku-buku para tokoh muslim. Apabila salah seorang murid atau rekan-rekan dari para ulama itu mendatangi beliau maka beliau akan mencoba berbincang dengan kata-kata yang enak didengar dan sarat dengan ilmu pengetahuan yang melimpah, pengalaman yang benar, bimbingan yang baik, dan arahan yang bijaksana, tidak keinggan lain selain mencari ridho Allah ta’ala, dan meniti ke pada Allah dari segala arah, berzikir dengan para ahli dzikir, saling menasihati dalam segala hal jika itu memungkinkan. Beliau telah mengetahui seluk beluk hidup ini setelah apa yang diperjuangkan di antara hamba-hamba Allah yang tulus.

Hal ini karena beliau dibesarkan di tengah-tengah para ahli ilmu yang tulus, berbuat berdasarkan ilmu yang bermanfaat. Rumah tempat beliau dibesarkan adalah rumah ilmu, amal, kewalian dan kemurshidan. Berkah beliau memancar dan merembes kepada para murid dan para muhibbin dengan berbagai macam kesiapan mental yang dimiliki para murid. Dan Allah ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang berbuat kebajikan.

Yaitu, berkat didikan sang ayah, beliua adalah Syekh dari para Syekh pada masanya, pendidik para wali, Syekh kita Najmudin al-Kurdi, putra tercinta dari Syekh Agung, "Mohamed Amin al-Kurdi", yang berangkat dari Irak "Erbil" ke Mesir, tepatnya di Universtas "Al-Azhar". Di kampus ini beliau belajar dan mengenyam ilmu-ilmu agama, menjadi alumni di kampus yang sama. Memang, akarnya terhunjam kuat di bumi dan cabangnya menyeruat ke angkasa yang selalu berbuah setiap saat dengan izin Allah ta’ala. Beliau akan selalu berada di jalan ilahi ini - dengan izin Allah - sampai kelah di Hari Kiamat. Apa yang dilakukan demi mencari ridho Allah ta’ala akan selalu abadi dan tak akan teputus, dan segala apa yang dikerjakan jika untuk selain Allah ta’ala maka akan murnah dan terputus.

Lalu Syeikh Fathi mengakhiri kisahnya dengan sebuah syair:

بِضِيَاءِ الدِّينِ مَعَارِفُهُ نِبْرَاسُ الحِكمَةِ وَالحُجَجِ -:- حَفِظَ الطرِيقَ بِهِمَّتِهِ وَسَمَا بِهِ أَعْلَى الدَّرَجِ

Ilmu Syeikh Dhiyaudin adalah suara hikmah dan hujjah
menjaga jalan tarekat dengan himmah dan melambung tinggi di angkasa

Memang benar, bahwa beliau telah mengabdikan diri kepada tarekat Naqashabandiyah pada masa hidup sang ayah, yaitu Syaikhona Imam Wali Agung Najmudin al-Kurdi dengan sangata nyata, lalu melanjutkan pengabdiannya pada masa kemurshidan Syaikhona Abdurahman Najmudin al-Kurdi, terakhir menggantikan posisi sang kakak menjadi murshid dan mengajarkan ajaran Naqshabandi pada tahun 1988. Kala beliau memimpin tarekat ini, telah nampak aura kewalian dengan kegungan akhlak diantara kaum arif billah dan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan beliau, terlihat dalam perilaku kesehariannya. Beliau berjalan, berkeliling ke seantena negeri untuk berdakwah kepada Allah ta’ala, begitu banyak para ahli maksiat yang mendapatkan petunjuk Allah di hadapan beliau, barokahnya merambah ke seluruh negeri berkat kemuliaan Allah ta’ala dan pengetahuan beliau sentak seluk beluk perilaku mereka sampai pada akhirnya tugas kemurshidan diamatkan kepada sang adik, yaitu Syeikh Agung Muhamad Najamudin al-Kurdi.

(1) Osama As-Sayid Mahmud al-Azhari, “Jamharat al-A’lam al-Azhar al-Sharif fi al-Qornain al-Robi wa al-Khomis ‘Asyara al-Hijrain”, Jilid 8. Hal. 152. Maktabah al-Iskandaria, Mesir, 1440H/2019. Lihat juga, “Taqwim Jamiat al-Azhar fi Arba’ Sanawat”, hal. 303. “Asanid al-Misriyin”, hal. 367, Cetakan Darul Faqih Abudhabi, 2011. “Mu’jam al-Syuyukh”, hal. 42.

« Sebelumnya
Prev Post

Artikel Terkait