Abdussamad al-Falimbani adalah salah seorang ulama Indonesia yang paling terkemuka pada abad XVIII. Karyanya tidak berjumlah banyak dan riwayat hidupnya seperti diketahui sekarang ini lebih merupakan legenda dari pada fakta nyata. Meskipun demikian Abdussamad masih tersohor oleh karena pernah berperanan yang sangat penting dalam proses memperkenalkan karya Imam Al-Ghazali kepada alam Melayu serta menyebarkan juga ajaran Muhammad as-Samman.
Para alim ulama yang terkenal berkat karyanya dalam bahasa Melayu mula-mula muncul di Aceh pada awal abad XVII. Pada abad berikut timbul suatu generasi ulama yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Abdussamad ternyata sejaman dengan Muhammad Arsyad al-Banjari Abdullah Pangkajene, Muhammad Nafis bin Idris bin Hussein al-Banjari Daud bin Abdullah al-Fatani dan Abdurrahman al-Misri. Bahkan menurut sementara penulis keenam ulama tersebut pernah belajar pada waktu yang sama di Mekkah.
Namun mereka tidak mempunyai peranan yang sama di daerah masing-masing : kalau Daud bin Abdullah al-Fatani misalnya sangat terkenal dan mempunyai pengaruh yang luas sekali melalui karyanya yang mengalami berbagai cetak ulang dan tersebar di bagian besar Nusantara, maka Abdurrahman al-Misri sebaliknya hanya tersohor di Batavia dan tidak menyam paikan ajarannya secara tertulis.
Tentang riwayat hidup Abdussamad al-Falimbani sebenarnya yang diketahui dengan pasti hanyalah keterangan serba singkat yang dicantumkannya sendiri dalam karya-karyanya. Abdussamad biasanya menyatakan waktu dan tempat dia menyelesaikan masing-masing tulisannya. Karangannya yang pertama yang diketahui waktu penulisannya demikian, ialah sebuah risalat dalam bahasa Melayu berjudul Zuhrat al—murid fi bayan kalimat at—tauhid yang ditulisnya di Mekkahh pada tahun 1178 H, yaitu 1765 M. Risalat itu merupakan sebuah ulasan pendek tentang tauhid sebagai ringkasan dari ceramah yang diberikan di Mekkahh oleh seorang ulama Mesir yang ternama pada masa itu, yaitu Ahmad bin Abdil Mun'im al-Damhuri.
Berdasarkan fakta itu dan oleh karena tidak mempunyai keterangan lain tentang pengalaman Abdussamad sebelum tahun 1765 itu, maka Prof. Drewes cenderung menganggap bahwa Abdussamad "sangat mungkin menetap di Mekkahh pada awal lahun 1760-an". [1] Selanjutnya Abdussamad menghasilkan sejumlah karangan di Mekkah dan di Taif sampai tahun 1203 H/1788 M. Oleh karena itu kadang-kadang dinyatakan bahwa beliau meninggal sekitar tahun 1788 itu. [2] Sebuah kesimpulan lain yang telah beberapa kali diutarakan, ialah bahwa beliau mungkin tidak pernah pulang ke Indonesia.
Sebab itulah menarik pula bahwa di Tanah Suci pun Abdussamad tidak pernah putus hubungan dengan tanah asalnya. Zuhrat al-murid yang ditulisnya pada tahun 1765 itu justru bertujuan membeberkan isi ceramah al-Damhuri demi kepentingan orang-orang yang tidak menguasai bahasa Arab, Abdussamad menceritakan hal itu sebagai berikut :
"Maka tatkala ada pada Hijrat al-nabi saw. seribu seratus tujuh puluh delapan tahun, maka ia datang dari pada negeri Mesir kepada negeri Mekkah yang masyraf dengan maksud haji seorang alim yang 'allamat yang mempunyai beberapa ta'alif yakni karangan kitab, yaitu Syeikh Ahmad ibn Abdil Mun'im al-Damhuri..., Maka tatkala itu mengajar ia di dalam bulan Zulhijah akan ilmu tauhid yang karangannya. Maka hadir di dalam darasnya itu kebanyakan ulama Mekkah dan ulama Mesir yang ada dalam negeri Mekkah, dan hamba yang fakir kepada Allah ta'ala yaitu Abdussamad ihn Abdillah al Jawi Falembani pun hadir serta mereka itu dari pada awal kitab sehingga akhirnya...
Dan tatkala sampai kepada bicara kalimat tauhid, yakni la ilali illa 'llah, maka menyatakan Syeikh itu sehingga-hingga kenyataan dan adalah aku mendengar daripada takrirnya itu sehabis-habis sehingga nyata, dan kemudian daripada mengaji itu maka aku surat takrir Syeikh itu karena hamba takut lupa... Maka telah menuntut daripada aku setengah dari pada kekasihku bahwa aku bahasakan yang kusurat ini dengan bahasa Jawi, maka aku perkenankan akan tuntutnya karena menuntut bagi pahala, dan aku jadikan yang aku surat ini seperti matan dan yang lain seperti syarah, dan aku namai akan dia Zuhrat al-murid fi bayan kalimat at-tauhid." [3] .
Dan pada akhir risalat itu Abdussamad menjelaskan lebih lanjut bahwa ceramah Syeikh Ahmad Al-Damhuri itu berlangsung di Mesjid Al-Haram pada tanggal 23 Zulhijah 1178 (yaitu 13 Juni 1765).
Demikian juga karyanya yang terakhir, yakni Sair as-Salikin yang digarapnya antara tahun 1779 dan 1788 Masehi, merupakan terjemahan dan sekaligus uraian dalam bahasa Melayu dari Karya Imam al Ghazali yang paling terkenal, yaitu Ihya ‘ulum id-Din. tentu saja dengan maksud agar dapat difahami oleh orang yang berbahasa Melayu.
Kita masih mempunyai bukti lain dari hubungan antara Abdussamad dan dunia Nusantara. Pada tahun 1772 pegawai pemerintahan Belanda di Semarang menyita dua pucuk surat dalam bahasa Arab yang dibawa pulang dari Mekkah oleh dua orang haji (H. Basarin dan H. Muhammad Idris) dan dialamatkan kepada Sultan Hamengkubuwana I serta Pangeran Singasari [4] . Kedua surat tersebut ternyata ditulis oleh Abdussamad al Falimbani sebagai rekomendasi, dengan harapan kiranya kedua orang haji tersebut dapat memperoleh tugas sebagai pegawai agama. Kedua surat itu terutama menunjukkan bahwa Abdussamad pada tahun 1772 itu lelah cukup terkenal namanya di Pulau Jawa sehingga dapat merekomendasikan orang lain kepada Sri Sultan.
Selain dari itu jumlah naskah yang sekarang ini tersebar di berbagai perpustakaan serta juga jumlah penerbitan di berbagai kota sepanjang jaman, membukukan bahwa karya-karya Abdussamad dalam bahasa Melayu beredar secara terus menerus di kawasan yang luas. Sebagai contoh proses penyebarannya dapat diambil misal sebuah naskah milik Dayah Tanoh Aceh Besar (dengan no. 30) : naskah tersebut yang berisi bagian terakhir dari Sair as-Salikin disalin di Tanoh Abee pada bulan Rabiul awal 1270 (Desember 1853) atas dasar naskah lain yang disalin di Mekkah pada bulan Syawal 1233 (Augustus 1818) oleh seorang Aceh bernama Muhammad al-Jawi al-Asyi.
Demikianlah beredar karya Abdussamad pada jaman itu: seorang Indonesia yang naik haji atau yang berguru ke Mekkah menyalin di kota tersebut sebuah karangan Abdussamad (ataupun membeli salinan yang telah dibuat orang lain) dan membawanya pulang ke daerah asalnya di Indonesia. Di daerah itu naskah tersebut disalin lagi dan dipergunakan sebagai bahan pelajaran di suatu pondok.
Karya Abdussamad dalam bahasa Arab pun beredar juga di kalangan orang "Jawi". Karangannya berjudul Nasihat al muslimin wa tadzkirat al-mu'minin fi fada'il al-jihad fi sabil Allah wa karamat al-mujahidin fi sabil Allah, menjadi ilham buat orang Aceh dalam perang melawan Belanda. [5] Waktu membicarakan Nasihat ureueng muprang, C. Snouck Hurgronje memberi komentar sebagai berikut: "Dalam hikayat yang mengandung sekitar 2.000 baris sajak ini, pengarangnya sendiri mengaku telah menimba kebanyakan bahannya dari risalat karangan Abdussamad." Dan lebih lanjut : "Nasihat al-muslimin itulah yang menjadi contoh buat Nasehat orang berperang yang dikarang dalam bahasa Aceh pada bulan Agustus 1894 oleh Nya' Ahmat alias Uri bin Mahmud bin Jalalodin bin Ahdosalam dari kampung Chot Paleue. Karangan tersebut secara fanatik menyerukan semua muslimin dan terutama orang Aceh supaya memerangi semua orang kafir dan terutama orang Belanda. Menurut Nya' Ahmat amal itulah lebih agung dari pada semua kewajiban agama yang lain. dan pahala jihad lebih tinggi dari pahala amal lain, kendatipun orang tidak bebas dari niat duniawi apabila memerangi orang kafir." [6]
Jihad merupakan salah satu pokok keahlian Abdussamad. Sebab itulah antara lain, Dr. P. Voorhoeve cenderung beranggapan bahwa sebuah risalat lain adalah karya Abdussamad juga, yaitu Tuhfat al-raghibin fi bayan haqiqat iman al-mu’minin yang ditulis pada tahun 1188 H / 1774 M. [7] Risalat tersebut hanya terkandung dalam dua naskah yang masing-masing tersimpan di Museum Nasional di Jakarta dan di perpustakaan Leningrad. Tidak disebut nama pengarangnya, tetapi menurut G.W.J. Drewes dapat dipastikan sebagai karya Abdussamad yang dikarangnya atas pesanan Sultan Palembang Ahmad Najmuddin untuk menyalahkan adat kebiasaan dan kepercayaan orang Palembang yang melanggar syariat Islam. Pengarang menyatakan hendak menulis sebuah risalat simpan dengan bahasa Jawi pada menyatakan hakekat iman dan barang yang membinasakan dia", dan selanjutnya menguraikan masalah tersebut dalam tiga bab dan satu khatima. [8]
Bagaimanapun halnya Tuhfat al-raghibin itu, tidak dapat disangsikan bahwa Abdussamad terus menjalin hubungan yang erat dengan Nusantara. Oleh karena itu agak wajar pula kiranya bahwa kenangan tokoh itu masih hidup di lingkungan pondok dan pesantren. Dalam sebuah buku kecil yang diterbitkan tidak lama yang lalu di Kalimantan Barat sebagai bahan dakwah. H. Wan Muhd Shaghir Abdullah menuliskan riwayat hidup Abdussamad sesuai dengan tradisi pondok itu dan sejalan pula dengan isi sebuah buku sejarah yang ditulis pada tahun 1927 dengan judul Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah. [9].
Di dalam penulisan riwayat hidup tersebut terdapat beberapa hal yang jelas merupakan dongeng, seperti misalnya ceritera Abdussamad menebang pohon di hutan dan membuat perahunya sendiri ketika mau pergi dari Palembang sebab tidak sudi naik kapal Belanda. Kita tidak mengetahui sumber keterangan penyusun Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah yang menjadi dasar sebagian besar dari legende itu. Mungkin sumbernya berasal juga dari tradisi pondok di Kedah atau di Patani.
Catatan Kaki
- (TW.J. I)rewes. Directions for Travellers on the Mystic Path, The Hague. 1977, him. 222.
- Lihat misalnya K.II. Siradjuddin Abbas, Ulama Syafi'i dan kitab-kitabnya dari abad ke abad, Jakarta, 1975, him. 413.
- Naskah koleksi Museum Nasional di Jakarta No. W. 49, him. 87-88.
- Lihat G.W.J. Drewes, "Further data concerning 'Abd al-Sa mad al-Palimbani", B.K.I. 132 (2-3), 1976. him. 267 292.
- Lihat encyclopaedia of Islam : artikel tentang 'Abd ai-samad oleh P. Voorhoeve.
- C. Snouck liurgronje. The Achehnese, Leiden. 1906, jld H, hlm. 1 19.
- Lihat G.W..I. Drewes. Further data.
- Tuhfat al-raghibin diringkaskan dengan terperinci oleh Dre wes dalam Further data.
- lihat H. Wan M uh d Shaghir Abdullah. Syeikh Abdush Sha mad al-Falimbani Shufi yang shahid fi Sabilillah, Kalbar, Yayasan al-Fathanah, 1983. Buku AL Tarikh Salasilah Ne geri Kedah oleh Muhammad Hassan bin Dato' Kerani Mu hammad Arshad diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur pada tahun 1968. Kisah riwayat hidup yang sama isinya terdapat juga dalam buku Perkembangan ilmu tasawuf dan tokoh-tokohnya di Nusantara karangan Ha wash Abdullah. Surabaya. 1980.